Sesungguhnya, tidaklah seseorang sampai kepada hakikat cinta, melainkan melalui Muhammad Rasulullah ﷺ. Sebab, melalui beliaulah kita mengenal jalan menuju Allah, mengenal kebenaran-Nya, dan belajar mencintai dengan sebenar-benar cinta.
Janganlah kita tertipu oleh eloknya dunia, hingga mata hati kita terpikat kepada keindahan ciptaan, tetapi lalai terhadap Sang Pencipta. Jangan pula kita berhenti pada keelokan rupa, kemuliaan kedudukan, dan kenikmatan yang fana.
Sebab, apabila cinta kita kepada Muhammad telah menuntun kita mengenal Allah, perlahan-lahan cara kita memandang kehidupan pun berubah. Kita tidak lagi memandang sesama hanya dari apa yang tampak pada dirinya. Kita belajar melihat dengan kasih sayang, memperlakukan dengan keadilan, dan memaafkan tanpa harus membenarkan kesalahan.
Barulah kita dapat mencintai sesama dengan benar.
Sebab, cinta yang tidak mengenal Allah mudah diperbudak oleh kepentingan diri. Ia mencintai ketika memperoleh keuntungan, tetapi membenci ketika merasa dirugikan. Ia memuji ketika mendapatkan kesenangan, tetapi mencela ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Adapun cinta yang tumbuh dari pengenalan kepada Allah tidak menjadikan manusia sebagai budak hawa nafsunya sendiri. Ia belajar mengasihi tanpa kehilangan kebenaran, memberi tanpa merasa memiliki, dan memaafkan tanpa memelihara kebencian.
Inilah salah satu jalan memahami rahmat yang dibawa Muhammad Rasulullah ﷺ: rahmat yang tidak berhenti pada diri sendiri, tidak dibatasi oleh kepentingan kelompok, dan tidak kehilangan kasih sayang terhadap alam semesta.
Rahmatan lil ‘alamin.
Bukan sekadar mengaku mencintai Rasulullah, melainkan menghadirkan rahmat yang beliau ajarkan dalam kehidupan. Sebab, cinta yang benar akan melahirkan kasih sayang; dan kasih sayang yang benar akan membawa kebaikan bagi sesama.
Advertisement










