Di Ruang Redaksi yang Tak Pernah Padam

0
Puisi EsaiOleh : Cak ATUntuk para alumni mingguan Tempo, saya menuliskan puisi esai ini dengan nada yang tidak sekadar nostalgia, tetapi juga penghormatan kepada...

Elan Rendra: Anti Lembek dan Sontoloyo

0
Oleh: Dwi K Santosa“Aku muak kepada seniman-seniman mudayang tidak punya kegagahan jiwatidak mempunyai kelurusan pikiranpengendapan dan pengalaman”Itu adalah kalimat sebagai ungkapan kemarahan seorang WS...

Jam Gadang Menyaksikan Ayah yang Menembak Anaknya Sendiri

0
Sebuah Puisi Esai Mengenang 100 Tahun Jam Gadang di Bukit Tinggi Oleh: Denny JA(Tahun 1958-1961, di Indonesia terjadi pemberontakan PRRI. Jam Gadang menyaksikan rasa...

Sajak Keras Kepala*

2
Karya Pril HusenoSiap siaplah engkau wahai kisanakapi peperangan abadi segera tibatiada waktu buat mengelak tiada tempat tuk sembunyikita semua adalah tombakkita semua adalah anak...

Takdir Anak Wayang

0
Puisi Pril HusenoRanjang bergerakDidorong harapan pulihparipurnaLalu lalang di depan Mereka yang menunggugiliranWajah tertutup maskerMata terpejamAlat pacu terpasang di kaki"Baru usai tindakan operasi"Bisik bisik beredarMemenuhi...

Bercerita Sejenak

0
Karya Alfiansyahaku pernah bercerita pada langitsaat matahari karam di wajahkuombak berisik seperti kepala sendiri,dan aku memilih pelan-pelan tenggelam dalam katahidupku: agenda yang tak pernah...

Love Scammer

0
Sajak Marlin Dinamikantonamaku Sumini cucunya mbah Ranu hobiku ani-ani tapi itu dulu saat padi tumbuh tinggi di dataran kering berdebu tubuhku terbenam rimbun padidibujuk...

Rindu tak Berpelepah

0
Puisi Naim Emel Prahanabersungguh-sungguh menggapailangit tak pernah terkulaitangan berakhir lalai, berapa kalitinggalkan sujud taklah lupa berulangkali sujudsekali menapak jalan ada waktu yang ditinggal pergipadahal...

Semua Telah Terjawab

0
Sajak Uda Afnan Maku tak bertanya kepada lautkemana perginya deburan ombakia milik pantai yang kesepian aku tak bertanya kepada gunungdimana tinggi derap pendakiankarena di...

Untaian Patah

0
Puisi Dhama DoveAwan putih abu abuBergelayut tenangDesir angin mengibas-ngibas Pucuk-pucuk pucat dedaunanSepasang burung melintasSayap-sayap tak patahAku disiniTak lagi menantiKarena sebentar lagi Ku kan melangkahJauh...jauhTak...

Follow us

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest news