Oleh: Dwi K Santosa

“Aku muak kepada seniman-seniman muda
yang tidak punya kegagahan jiwa
tidak mempunyai kelurusan pikiran
pengendapan dan pengalaman”


Itu adalah kalimat sebagai ungkapan kemarahan seorang WS Rendra yang disampaikan pada tahun 1980an.

Kenapa begitu marahnya? Apakah tersugesti karena waktu itu Rendra baru saja keluar dari penjara, dipenjarakan pemerintah Orde Baru karena dianggap sebagai provokator.

Dianggap agitator yang masif mempengaruhi para mahasiswa dan pemuda untuk berani berpikir kritis dan bersikap tegas terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat tapi berdalih atas nama pembangunan.

Sudah seharusnya mahasiswa dan orang muda intelektual punya pikiran jernih dan berani bersikap. Jika bukan dari gelegak dan gejolak sebagai nilai juang orang-orang muda, lalu dari siapa lagi perubahan itu bisa dan lazimnya dilakukan?

Rendra yang waktu itu berumur mendekati separuh abad dan berkeluarga, punya anak dan istri saja berani bersikap. Kenapa yang muda-muda dan merdeka justru lembek dan sontoloyo?

Kenapa Rendra pemberani dan konsisten? Ya, karena ia seorang intelektual. Seorang seniman yang seharusnya berani mempertanggungjawabkan ihwal seni dan kesenimanan yang diyakininya.

Seni itu indah. Tapi apa mau dikata jika keindahan itu kamuflase dan fatamorgana! Kehidupan rakyat demikian miskin, sedang pemerintahnya semena-mena, sering berdalih demi pembangunan tetapi justru rakyat menjadi korbannya.

Tentu saja, peri-kehidupan yang seperti itu tidak relevan dalam kontekstual seni sebagai bagian yang punya senyawa dan integral dengan kehidupan.

“Apa arti seni jika terpisah dari kehidupan,” begitu kredo Rendra.

Sebuah keyakinan yang tidak hanya berupa pendapat, tetapi bahwa kredo tersebut pernah disampaikan Rendra kepada seribu lebih mahasiswa ITB, di Bandung pada 19 Agustus 1977.

Melalu syair “Sajak Sebatang Lisong”, sebagai penyair, Rendra membuat kesaksian sekaligus mengingatkan kepada kaum muda intelektual melalui karya seninya.

“Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan:
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.”


Memang sedemikian dalam penghayatan Rendra sekaligus pengamalannya dalam menjalani profesi sebagai seniman.

Rendra pernah muda. Pernah menjadi mahasiswa. Tentunya pernah bergejolak dan bergelegak tentang idealisme itu harus diperankan sebagai sebaik-baiknya menjadi seorang pemuda.

Memang eksentrik dan fenomenal belaka jika kemudian kita pikirkan tentang riwayat hidup seorang WS Rendra.

Ketika ia berumur 10 tahun sudah membaca buku-buku filsafat. Dialektika Trilogi Socrates-Plato-Aristoteles dibacanya ketika ia berusia 17 tahun.

Pada umur 20 tahun sudah berani tampil sebagai narasumber menjadi pengasuh program di sebuah siaran radio di Solo, dalam tema bedah sastra menjabarkan siapa itu Boris Pasternak, Ronggowarsito, Nikolai Gogol, Ernest Hemingway, John Steinbeck dan sastrawan legendaris dunia lainnya.

Pun ketika umur 25 tahun, Rendra sudah fasih dan lancar saat berdebat dengan tokoh budaya sekaliber Sudjatmoko, Iwan Simatupang dan Sitor Situmorang dalam diskusi-diskusi ilmiah.

Sejak bocah, Rendra adalah pembaca buku yang lahap. Ketika tinggal di Yogyakarta, pada umur 20 tahunan, sudah ribuan buku dikoleksi Rendra.

Buku dari disiplin keilmuan apa saja. Tidak saja sastra dan budaya. Tapi juga ekonomi, politik, antropologi dan lainnya.

Menjadi hal yang masuk akal belaka, ketika meyakini seni sebagai profesi yang dijalaninya, Rendra kaya akan pengetahuan. Karena seni itu indah dan keindahannya yang dibutuhkan manusia untuk optimis dan dinamis dalam menjalani hidup mencakup semua bidang dan disiplin keilmuan.

Nah, kemarahan seorang Rendra sehingga ia membuat pernyataan seperti itu … kiranya adalah keprihatinan yang mendalam dalam kapasitasnya sebagai ilmuwan.

Bukankah, orang muda memang harus punya sifat gigih dan gagah. Apa maknanya jika lembek dan sontoloyo tapi gemar menebar klaim: ini gue nih

Advertisement
Artikulli paraprakKorupsi dan Budaya Malu

Tinggalkan Komentar