Oleh : Cak AT
Untuk para alumni mingguan Tempo, saya menuliskan puisi esai ini dengan nada yang tidak sekadar nostalgia, tetapi juga penghormatan kepada sebuah generasi yang pernah percaya bahwa kata-kata bisa melawan kekuasaan, dan kalimat yang baik kadang lebih menakutkan daripada tank.
Kita berkumpul lagi hari ini,
dengan rambut yang sebagian sudah memutih,
langkah yang tak lagi tergesa,
dan mata yang pernah terlalu lama begadang
mengejar satu kalimat
agar pekan republik ini tidak sepenuhnya gelap.
Sebagian kursi kosong.
Sebagian nama tinggal kenangan di halaman belakang ingatan.
Ada yang dahulu paling keras tertawa di meja redaksi,
kini hanya tinggal cerita
yang diulang pelan-pelan sambil menyeruput kopi
dan menahan air mata agar tetap tampak sebagai wartawan.
Kita pernah muda
di sebuah negeri yang takut pada berita.
Negeri yang menganggap pertanyaan
lebih berbahaya daripada peluru.
Pada masa itu,
telepon bisa lebih menyeramkan daripada sirene perang.
Dan wartawan belajar satu hal:
bahwa membungkam suara
adalah pekerjaan paling tua dari semua rezim.
Di lorong-lorong redaksi mingguan Tempo,
asap rokok pernah lebih tebal daripada optimisme.
Mesin tik berdetak seperti detak jantung zaman.
Deadline adalah azan kedua setelah subuh.
Dan para reporter muda berangkat ke lapangan
dengan saku tipis
tetapi keberanian yang kadang kelewat tebal.
Kita belajar bahwa fakta tidak selalu nyaman.
Kadang ia dingin seperti kamar interogasi.
Kadang ia pahit seperti kopi yang lupa diberi gula.
Tetapi tetap harus ditulis—
karena jika kebenaran berhenti dicatat,
maka sejarah akan ditulis oleh mereka
yang paling pandai berbohong.
Betapa lucu negeri ini.
Wartawan sering dicurigai tidak punya pekerjaan tetap,
padahal pekerjaannya justru memastikan
agar negara ini tetap punya kewarasan.
Kita pernah pulang dini hari
membawa ancaman di saku kiri
dan idealisme di saku kanan.
Honor memang tak pernah terlambat,
tetapi rasa ingin tahu selalu datang tepat waktu.
Lalu zaman berubah.
Media berpindah dari kertas ke layar.
Suara mesin tik digantikan bunyi notifikasi.
Headline kini berlomba dengan algoritma.
Orang membaca cepat, marah cepat, lupa lebih cepat lagi.
Dan wartawan zaman sekarang
harus melawan musuh baru bernama “viral”,
sebuah makhluk ganjil
yang sering lebih dipercaya daripada verifikasi.
Tetapi hari ini,
di acara halal bihalal dan temu alumni ini,
kita tahu satu hal yang tak berubah:
bahwa jurnalisme sejati tidak lahir dari teknologi,
melainkan dari keberanian untuk tetap bertanya.
Kita mengenang mereka yang sudah pergi—
para senior yang dahulu mengajari
bahwa tanda koma pun punya etika.
Bahwa satu judul bisa menjatuhkan kekuasaan
atau menyelamatkan martabat manusia.
Bahwa wartawan bukan tukang gaduh,
tetapi saksi zaman
yang ditugaskan mencatat denyut republik.
Sebagian dari mereka wafat
tanpa rumah mewah,
tanpa deposito besar,
tanpa pengawalan.
Tetapi mereka meninggalkan sesuatu
yang lebih panjang umur daripada jabatan:
integritas.
Dan bukankah itu yang paling langka sekarang?
Di negeri yang kadang lebih sibuk mengurus pencitraan
daripada kebenaran,
wartawan sering menjadi spesies yang melelahkan.
Terlalu banyak bertanya.
Terlalu sulit diatur.
Terlalu suka membuka jendela
saat sebagian orang ingin ruangan tetap gelap.
Tetapi justru karena itulah republik ini masih bernapas.
Hari ini kita saling berjabat tangan, saling pelukan,
saling memaafkan usia,
saling mengenang masa ketika satu edisi mingguan
ditunggu seperti kabar dari garis depan perang.
Kita pernah dibredel.
Pernah dipanggil.
Pernah diteror.
Pernah dianggap terlalu keras.
Tetapi sejarah diam-diam mencatat:
bahwa kata-kata ternyata lebih tahan lama
daripada rasa takut.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu,
kita mungkin tak lagi secepat dulu.
Tetapi ingatan kita masih menyimpan bau tinta,
suara rapat redaksi,
lembar dummy yang bertebaran,
dan wajah-wajah muda
yang dulu percaya bahwa menulis
adalah cara lain mencintai Indonesia.
Mungkin benar,
umur manusia terbatas.
Majalah bisa berganti rupa.
Teknologi berubah.
Generasi datang dan pergi.
Tetapi selama masih ada orang
yang bersedia mencari fakta
di tengah banjir propaganda,
selama masih ada wartawan
yang mau berdiri di pihak publik,
maka nyala kecil itu belum padam.
Dan hari ini,
di antara tawa, pelukan, dan doa-doa yang pelan,
kita menyadari sesuatu yang sederhana:
bahwa kita ternyata bukan sekadar alumni sebuah majalah.
Kita adalah orang-orang
yang pernah percaya
bahwa kejujuran layak diperjuangkan—
meskipun sering kalah cepat dari kekuasaan.
Dan mungkin,
di zaman yang semakin riuh ini,
iman terakhir republik
memang tinggal pada orang-orang
yang masih mau menulis dengan nurani.
Cak AT – Ahmadie Thaha
Jakarta, 10 Mei 2026
Advertisement











