Oplus_16908288
Oleh: Aprinus Salam

Terhitung dari 20 Oktober 2026, kekuasaan Prabowo masih tiga tahun. Baru dua tahun berjalan, tingkat kekacauan politiknya sudah demikian parah. Sebenarnya, Prabowo juga terlihat panik, sudah sibuk bongkar pasang penjabat. Rupiah melemah. Kebakaran tidak teratasi. Korupsi membesar. Rakyat semakin banyak yang menderita.

Demonstrasi dan berbagai protes sudah dilakukan dari tahun awal kekuasaannya. Mungkin demonstrasi akan terus berlanjut. Dan saya menduga, demonstrasi akan gagal? Kenapa?

Pertama. Situasinya sudah jauh berbeda dibanding tahun 1998. Sejak masuk tahun 1990-an awal, walaupun kekuasaan Soeharto semakin kuat secara administratif, tapi ia banyak kehilangan dukungan yang nyata. Kekuasaan Soeharto yang berlebihan menjadi susuatu yang kontraproduktif. Pihak-pihak yang mendukung Soeharto hanya karena keterikatan administratif dan karena tidak punya pilihan.

Tentu tetap ada pendukung-pendukung Soeharto yang fanatik dan bayaran. Akan tetapi, kelompok ini terus menerus mengecil. Selain itu, secara pribadi Soeharto terlihat mulai lelah berkuasa. Ia bertahan lebih karena perlu memastikan keselamatan keluarga dan kroni-kroni terdekatnya.

Di luar kekuasaan Soeharto, pelan tapi pasti energi mahasiswa dan masyarakat semakin terkumpul, bersatu, dan membesar. Bertahun-tahun mendapat pengalaman penindasan yang sama, mahasiswa dan masyarakat semakin kompak. Suatu hal yang berbeda dari pengalaman teman-teman yang demonstrasi hari ini.

Kedua. Kekuasaan Prabowo baru berlangsung dua tahun. Prabowo naik dalam berbagai kesalahan dan kegagalan, yang membuat ia akan memegang setengah mati kekuasaannya. Walaupun berbagai kebijakannya bikin rakyat semakin sengsara, tetapi dia dengan berbagai cara pula selalu mengonsolidasikan kekuasaannya.

Banyak “orang strategis” yang ditarik ke dalam kekuasaannya. Orang-orang strategis itu dulu juga berpengalaman demonstrasi. Jadi, mereka tahu persis bagaimana mengelola dan menangani demonstrasi para yuniornya. Bahkan sebagian dari mereka mungkin sedikit senyum-senyum dalam melihat demonstrasi. “Dulu saya juga semangat gitu sih.”

Ketiga. Militer dan kepolisian hampir sepenuhnya dalam kendali Prabowo. Suatu hal yang berbeda dibanding tahun 1998. Ada beberapa pensiunan jenderal yang tidak suka sama Prabowo, tapi pensiunan tetap pensiunan. Selain itu, waktu itu, dalam situasi darurat, masih ada yang bisa diharapkan menggantikan presiden Soeharto. Sekarang hampir tidak ada.

Keempat. Hal yang tidak kalah pentingnya. Dalam beberapa demonstrasi belakangan ini, isu atau wacana atau pernyataan-pernyataan “turunkan Prabowo” atau “stop kekuasaan Prabowo” semakin tipis, untuk pelan-pelan sepertinya menguap entah ke mana. Artinya, di kalangan demonstran juga tidak terlihat kompak dan tidak punya arah yang padu.

Dengan demkian, ini demonstrasi mau ngapain. Mengangkat isu ketidakdilan, kemiskinan, korupsi, pemerintah tidak becus, terasa tidak lagi menggigit. Isu itu adalah isu abadi yang tidak memperbaiki dan apa-apa. Perlu gagasan lain yang lebih mengganggu.

Kelima. Di samping mahasiswa tidak cukup kompak, masyarakat juga terbelah. Kita tahu, masih banyak kelompok-kelompok masyarakat yang butuh makan dan butuh uang, dan siap dibayar untuk melawan demonstran. Di beberapa tempat, misal Yogya, para demonstran justru dihadang para ormas bahkan dengan kekerasan.

Keenam. Walaupun katanya rupiah melemah, daya beli masyarakat menurun, yang aneh, berbagai kegiatan seremonial yang menelan dana besar terus berjalan. Di beberapa propinsi, kegiatan seremonial semakin asik, tempat wisata ramai. Di beberapa kota besar, kafe-kafe dan restoran terlihat penuh. Mobil di jalan raya padat merayap. Padahal, hutang Indonesia semakin besar.

Ketujuh. Isu-isu yang membuat suasana menjadi sensitif, misalnya soal agama, ras, juga tidak bisa dimunculkan karena memang tidak relevan. Panggung politik tidak menyediakan hal tersebut karena dianggap kuno dan mengada-ada. Mahasiswa juga tidak tertarik masuk ke wacana itu.

Tampaknya, hingga hari ini, tidak ada tanda-tanda demonstrasi akan berhasil mengganggu kekuasaan Prabowo. Ada dua hal yang ingin saya nyatakan. Pertama, saya ingin berkata, “Wah kasihan juga. Terlalu banyak energi yang dikerluarkan, ternyata gagal.” Kedua, saya ingin mengatakan; “Mudah-mudahan pendapat saya salah. Saya senang jika pendapat saya tentang gagalnya demonstrasi justru salah.

Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM
Advertisement

Tinggalkan Komentar