Oleh: Agus Wahid

Suara rakyat kian gemuruh. Mempertanyakan, benarkah dia memiliki ijazah asli dari sebuah perguruan tinggi bergengsi di Kota Gudeg itu. Lalu, apa gunanya menggugat atau mencari kebenaran ijazah itu? Toh, orang yang diributkan sudah selesai. Tak lagi ada di istana. Emang, apa manfaatnya, coba? Kalau ada, apa kira-kira? Seperti, ga ada kerjaan aja? Sangat ga produktif, tahu…. Masih banyak yang harus dilakukan dari hanya sekedar mengungkap ijazah. Sudah usang itu….

“Le, pikiranmu kok bukan seperti anak kuliahan. Kalau ga jelas ijazahnya, apalagi ga punya ijazah asli, bagaimana mungkin dia bisa merangkak ke panggung politik? Sampai ke istana kepresidenan lagi? Artinya, berbekal secarik kertas (dokumen ijazah), dia berhasil menembus kekuasaan. Begono, Le…”, ujar temannya saat ngopi di sebuah warung kopi di pinggir jalan.

Persoalannya – lanjutnya – bukan sekedar sampai ke singgasana istana. Tapi, dengan pengantar secarik kertas itu, dia berhasil mengobrak-abrik negeri ini. Caranya sederhana. Mengimportasi manusia-manusia sipit dari Tiongkok ke negeri Konoha ini. Jumlahnya sudah ratusan ribu. Boleh jadi, sudah mencapai beberapa juta orang manusia Tionghoa yang terlihat paramiliter. Apa maksud importasi manusia asing ke negeri ini? Bukankah itu mengarah pada potensi kolonialisasi?

“Ah, kau berlebihan kawan. Terlalu jauh kecurigaannya”, sergah seseorang yang meributkan ijazah itu.

“Saya kira tidak berlebihan. Meski saat ini belum terlihat kolonialisasi, tapi fakta bicara. Di beberapa titik daerah yang dijadikan industrial estate, para mata sipit itu menguasainya. Bukan semata-mata atas nama managemen kawasan industri, tapi mereka bertindak bagai algojo kepada saudara-saudara kita setanah air. Mereka ngelunjak dan sering main kasar kepada para tenaga kerja lokal. Dan satu hal yang sampeyan lupa atau ga lihat. Di beberapa daerah, di antara tenaga kerja asing asal Tionghoa itu kibarkan bendera Palu Arit. Jadi, wis ceto welo-welo tahapan awal menuju Indochina”, jelasnya.

“Ah, yo embuh… Aku memang ra mikir sejauh itu”, lanjutnya.
“Justru itu, daku perlu jelaskan. Dari sekedar ijazah yang ga jelas bahkan disinyalir palsu itu, dia berhasil menduduki istana tanpa hambatan berarti. Bahkan, tak sedikit di tengah bumi Konoha ini terbius oleh manipulasinya. Hebatnya lagi, seluruh warga negara ini terpengaruh oleh sosok yang terlihat plonga-plongo itu. Seluruh penduduk ini – termasuk kaum akademiki berhasil dibodohkan. Otak briliannya menjadi tumpul. Tak mampu membedakan benar dan salah. Tak kenal lagi mana baik dan buruk. Mereka – kaum brilian itu – tak mau mengkritisi lagi kiprah kejahatannya terhadap bangsa dan negara. Kok, bisa begitu ya, padahal banyak hal terkait kedaulatan negara sering diinjak-injak?

Sosok manusia nun jauh di sana, dari Eropa, Amerika bahkan lainnya pun terheran dan langsung menyambar, mengomentari. Seperti bensin kali ya… “Dia memang pemimpin satu-satunya dari negeri Konoha yang demikian hebat. Mungkin terhebat di dunia ini. Bagaimana tidak? Seluruh penduduk negeri Konoha terbungkam. Kaum cerdik-pandai pun tunduk-patuh. Otaknya langsng hilang. Tak tahu lagi kebohongan yang sedang dimainkan demikian sistimatis. Masa, sekian juta orang dari negeri Konoho ga bisa mikir dan ga bisa memilih pemimpin cerdas dan berintegritas?

Wahai penduduk negeri Konoha, apa kalian ga malu saat pemimpnmu bicara di forum internasional hanya menggunakan waktu dalam beberapa detik. “Saya sendiri pun tersipu malu. Hanya mesem saat pemimpinmu bilang, Plis kam tu awe kantri to inves”, ujar Joe Bidden. Ala maak… Saya aja geli mendengarkannya. Tapi, what we should do? Ah, karepmu. It`s up to you. Berpromosi kok sependek itu kata-katanya. Jelas-jelas ga mampu menggunakan momentum emas. Lagi, pula bahasa Inggrisnya amburadul. Apa benar pemimpinmu keluaran perguruan tinggi ternama? Maybe no. And, I`m sure, he was not graduated from the famous university.

“Iyo yo…”, sambung kedua insan yang memperbincangkan sosok manusia yang berijazah ga jelas itu sembari menambahkan, tahu ga Le? Sekarang muncul gemuruh dari bocah-bocah cilik. Dah ga usah sekolah atau kuliah tinggi. Kalau kuliah pun tak perlu di sebuah perguruan tinggi papan atas seperti MGU itu. Cukuplah datang ke Pasar Pramuka – Jakarta. Ga usah kuliah. Yang penting bawa uang, lalu minta dicetakkan ijazah. Tinggal pilih, perguruan tinggi apa dan jurusan apa. Yang penting keren. Hanya dengan modal begitu, toh bisa jadi PRECIDENNNNN. Ya toh, toh, toh… ?”

Omongan bocah itu jelaslah melecehkan. Tapi, tak bisa disalahkan. Memang faktanya seperti itu. Menurut seseroang (mantan pejabat BIN), bukanlah hal aneh membikin dokumen penting di Pasar Pramuka. Dengan dokumen itu, seseorang tak perlu kuliah tinggi. Cukup bawa uang berapa juta – berkisar antara Rp 10 – Rp 20 juta, dokumen hebat itu bisa digondol.

Yang perlu kita telaah – tambah mantan pejabat BIN itu – sublimasi dokumen termasuk ijazah itu merupakan ketidakadilan dalam panggung pendidikan. Sebagian mahasiswa berusasah payah menempuh pendidikan, harus belajar dan membuat skripsi, tapi semua itu ditendang hanya karena jalan pintas: uang dan uang yang penuh manipulasi. Ketidakadilan seperti ini memang haruslah diberantas. Siapapun yang melakukan selaku pengaju ataupun yang membuatnya layak dihukum.

“Benar juga kamu, sampeyan, Mas”, menyambung obrolannya, sembari menjelaskan, kalau modelnya begitu, bagaimana nasib pendidikan anak bangsa ini? Ancuuur minah. Jadilah, bangsa Konoha ini menjadi anak bangsa yang berotak idiot. Super foolish. Dan – dalam kurun waktu satu dasawarsa, negeri Konoha ini sudah ditundukkan dan dikuasai secara penuh. Kembalilah statusnya menjadi negara dan bangsa terjajah seperti dulu.

“Iyo yo Mas… Panjenengan benar. Terus piye?” tanyanya.
“Yo, ga boleh diam. Jangan biarkan persoalan ijazah yang ga jelas itu. Harus digemuruhkan. Jika, contoh manusia yang dapatkan ijazah secara ga jelas keasliannya akan menjadi preseden buruk. Tuh lihat bocah-bocah bilang, tak perlu kuliah tinggi. Juga, tak perlu masuk ke perguruan tinggi papan atas yang sangat kompetitif. Saranku sebagai insan waras (sehat jasmani dan ruhani), kita harus tetap gemuruhkan suara kebenaran. Tuntut, sampai mendapat kepastian status ijazah itu. Terbukti benar, kita maafkan. Terbukti dusta, kita tuntut sisi kebohongan publiknya dan risiko material dan imaterial akibat kebohongan publiknya.

Meski lembaga penegak hukum tampak sudah tercengkeram hingga tak memiliki kemandirian dalam bertindak, kita tetap suarakan kebenaran itu. Merupakan amaliah soleh yang kelak akan diminta pertanggung-jawabannya di hadapan Allah. Dia Yang Maha Tahu akan mempertanyakan, “Apa yang kalian perbuat saat menjumpai kemungkaran (legalisasi kebohongan publik sang pemimpin), padahal membawa bencana nasional.

“Hooooiiii… angin ribut yang gemuruh… Kenapa baru meributkan sekarang? Ke mana aja selama ini”, tanya seseorang dengan gemas dan bernada kesal.

“Hei, lho siapa? Kok, snewen melihat atau mendengar orang mempersoalkan ijazah palsu? Sebenarnya, sejak 2018, sudah terdengar desas-desus suara mempertanyakan keberadaan ijazah yang ga jelas itu. Sudah terdengar pula, ijazah yang diakui dari Fakultas Kehutanan MGU hasil merampas dari saudara iparnya yang telah mati atau sengaja dimatikan. Wallahu `alam. Jadi, bukan baru-baru ini ya meributkannya”, ujar salah satu wong ndeso, yang kebetulan alumni MGU juga, meski dari Jurusan Fisika, spesialisasi nuklir. Meski beda jurusan, tapi kan punya banyak teman yang dari Fakultas Kehutanan. Minimal, dekat kosannya dengan teman-teman dari Fakultas Kehutanan itu. Jadi, sedikit tahu teman-teman Fakultas Kehutana MGU.

“… Undercover”
Suara gemuruh itu akhirnya makin menggema di jagad udara negeri Konoha. Pasalnya, hadirnya sosok pemberani yang menerbitkan buku biografi: Jokowi Undercover. Buku yang dihadirkan seorang jurnalis asal Solo mengupas tuntas silsilah manusia yang diributkan itu.

Isinya cukup menghentak. Karena, publik jadi tahu siapa jatidiri manusia yang diributkan itu. Bukan hanya tidak jelas pendidikannya, mulai dari SMP dan SMA, tapi juga perguruan tingginya. Juga, gambaran jelas tentang siapa kedua orang tuanya dan ideologi yang dianut ayah-ibunya. Melalui buku terlarang itu, masyarakat luas pun akhirnya menyaksikan tindakan kekuasaannya yang mengkonfimasi ideologi terlarang itu. Clear.

Dianggap meresahkan bahkan mengganggu – setidaknya di mata keluarga istana – Kapolri Otit memerintahkan untuk menangkap penulis buku yang menghebohkan itu: Bambang Trimulyono. Tak pakai lama, Bambang Tri langsung diangkut ke Jakarta. Dituduh melakukan penistaan agama. Dijebloskan ke ruang tahanan Bareskrim Polri. Hidup di balik jeruji besi, tanpa proses pengadilan beberapa bulan. Selama dalam tahanan, tidak hanya dirinya dihancurkan. Istrinya pun digarap. Sampai hamil. “Hidupku benar-benar dihancurkan. Dan itu tak mungkin tanpa perintah Iwok”, sebutnya.

Aneh bin ajaibnya, ustad Gus Nur yang sekaligus youtuber juga ditangkap. Gegara mewawancari Bambang Tri terkait buku karyanya. Keduanya harus menjalani persidangan. Dalam proses persidangan, dijumpai, seluruh saksi yang dibawa jaksa, tak bisa memberikan kejelasan tentang sekolah Iwok. Namun, publik juga saksikan, selemah apapun reason yang disampaikan para saksi bawaan jaksa dianggap benar oleh hakim. Dan sebaliknya, sebenar apapun fakta yang disampaikan saksi pro Bambang Tri dan Gus Nur dianggap sepi. Terbukti, kedua pejuang pencari kebenaran itu dihukum, tanpa memperlihatkan ijazah Iwok satu kalipun. Yah, itulah dramatologi seputar pencarian kebenaran ijazah Iwok yang selalu diklaim asli.

Babak Penguatan Ijazah

Hukuman terhadap Bambang Tri dan Gus Nur tak menyurutkan sejumlah pencari kebenaran. Sebagian masyarakat menilai, proses hukum dan pemenjaraan terhadap Bambang Tri dan Gus Nur sesungguhnya merupakan pembungkaman hak rakyat untuk mengetahui informasi yang benar. Maka, pembungkaman itu justru menimbulkan suara kian gemuruh. Bagai satu hilang, tumbuh seribu. Pembungkaman itu mendorong tokoh-tokoh pencari kebenaran seperti Dr. Roy Suryo, Dr. Rismon Sianipar dan dr. Tifauzia Tsasumma untuk bersuara makin gemuruh. Penuh berani. Siap berkalang tanah. Demi kebenaran. Maasyaa Allaah.

Ketiganya alumni MGU juga, dengan keahlian atau disiplin ilmu yang berbeda-beda. Seperti, Roy terkenal sebagai ahli telematika. Rismon terkenal sebagai ahli digital forensik. Dan Tifa, seorang dokter yang intens mencermati perilaku manusia dari sisi medis. Jadi, sebuah persekutuan yang klop. Mereka bersuara lantang. Hanya semata-mata mencari kebenaran, bukan melecehkan atau menjelekkan, apalagi membangun narasi kebohongan bagi martabat seseorang.

Responnya? Pihak universitas yang merasa pernah meluluskan Iwok kebakaran jenggot. Merasa tak nyaman. Lalu? “Kami meyakini, ijazah Iwok asli. Dia benar-benar alumni MGU pada 1985”, ujar sang rektor cantik, Prof. Dr. O. Ailime dalam suatu jumpa pers yang didampingi sejumlah pentinggi rektorat. Sebuah jumpa pers yang merespon suara gemuruh negeri Konoha tentang ketidakaslian, minimal meragukan, ijazah Iwok yang notabene alumni Fakultas Kehutanan perguruan tinggi terkenal di Jogja itu.

“Berdasarkan data akademik yang kami kumpulkan dari Fakultas Kehutanan itu, maka – sekali lagi – kami meyakini keaslian ijazah Iwok itu”, tambahnya sembari menunjukkan sejumlah data dan fotocopy ijazah itu.

“O ya?”, sergah salah satu tim pencari fakta sembari mendesak, “Kalau memang asli, coba saya lihat dan memegangnya. Ingin mencermati fisiknya dari berbagai sisinya dengan penuh seksama. Agar, kami dapat memastikan bahwa sikap kami salah. Tapi, sadar tentang salahnya berdasarkan data dan fakta yang kami lihat. Jadi, sikap meyakini haruslah by data. Materialnya jelas ada. Bukan katanya. Karena itu, mana dong iajazahnya? Perlihatkan dan persilakan kami melihat dan bahkan memegangnya, walau sebentar.

“O, ga bisa. Ini menyangkut rahasia dan wewenang saya selaku pimpinan di perguruan tinggi ini. Untuk menjaga kredibelitas seseorang”, timpal sang Rektor.

“Kenapa keberatan? Yang jelas, si Iwok pernah menjadi pejabat negara. Dan, melalui selembar ijazah itu, ia bisa melenggang ke panggung pemerintahan. Karena itu, rakyat berhak tahu keberadaan ijazahnya. Ini menyangkut UU Keterbukaan Informasi Publik. Jika Ibu Rektor tetap mengabaikannya, Anda bisa kena pasal penyembunyian informasi yang sebenarnya merupakan hak publik.

“Dan kami sebagai komponen rakyat atau masyarakat berhak tahu. Kemungkinan juga, jutaan orang selaku rakyat juga ingin tahu keberadaan ijazah Iwok itu”, lanjut sang pencari fakta.

Rakyat nun jauh di pelosok desa sana pun bersuara. “Saya juga ingin tahu persis keaslian ijazah Iwok. Mengapa begitu? Manusia yang bernama Iwok sempat memimpin negeri ini. Secara faktual dan kasat mata, Iwok – dalam menjalankan kepemimpinannya – telah melakukan penghancuran berbagai sendi kehidupan bangsa dan negara. Tidak hanya sendi-sendi ekononomi, tapi juga politik dan lainnya. Jelek-jelek gini, walau saya tinggal di sebuah desa, tapi juga alumni MGU lho. Dan kami selaku alumni MGU merasa malu atau terkenan beban moral atas kejahatannya terhadap bangsa dan negara.

“Wahai Ibu Rektor dan jajarannya, harusnya kalian super malu melihat kelakuan kekuasaannya yang jauh di bawah standar kapasitas dan integritas karena bawa nama institusi perguruan tinggi yang bergengsi ini”, ujar alumni GMU beneran asli ini.

Sang rektor pun terdiam. Dengan perdebatan ngeyel, sekitar satu jam, akhirnya sang rektor memberi kesempatan kepada Roy untuk melihat dan mencermati selembar kertas yang diklaim sebagai ijazah itu, tapi dengan catatan: tak boleh difoto. Dengan menghela nafas dalam-dalam, Roy memegang dan mencermatinya, tapi sangat sebentar. Tak bisa melihat dengan detail.

“Ala maak… Ini khan foto copy… Mana aslinya?”, tukas Roy Suryo seraya memegang secara kertas yang tertulis sebagai ijazah. Kami datang dan minta waktu kepada Ibu Rektor untuk melihat ijazah asli Iwok itu. Bukan, selembar kertas foto copy.

“Maaf, kami ga bisa”, tukas sang Rektor dengan mata agar melotot dan dengan nada agak kesal.

“Ga bisa, atau memang ga ada?”, kejar Roy. Kalau memang, ga ada, katakan saja ijasahnya hilang atau bagaimana, gitu. Biar masyarakat luas tidak bertanya-tanya lebih jauh, atau tak mempersoalkan lagi ijazah Iwok.

Sang Rektor pun terdiam. Dan akhirnya mengakui, ijazah Iwok masih sedang dicari. Dan beberapa hari kemudian muncul informasi yang cukup menghebohkan: ijazah asli Iwok hilang.
“Halah… Ngedabrus aja. Dusta kok diperlihara. Kok podo wae sikap dan kelakuan Iwok. Mana integritasmu sebagai akademisi. Sebagai akademisi harusnya menjunjung tinggi kejujuran, bukan mempertahankan kebohongan publik. Bilang aja ijazah Iwok memamg tak ada”, tukas salah satu anggota masyarakat yang mencermati polemik ijazah asli Iwok sembari menegaskan, jangan-jangan kalian disumpal dengan angka milyaran rupiah. Atau, kalian memang diancam? Maybe yes. Who knows? Hanya diri kalian dan malaikat Roqib yang mencatat kedustaan kalian. Terserah kalian deh. Allah Maha Tahu. Dan kelak, kedustaan kalian akan terungkap. Minimal, di Hari Pengadilan akherat nanti, yang pasti akan jasad membakarmu. Lebih baik jujur sebelum dibakar Allah kelak.

Sejumlah komponen rakyat merenung. “Kok sebegitunya ya orang-orang membela sang pendusta. Ada kekuatan apa yang mendorong mereka berorkestra sama: ijazah Iwok adaaaaa dan asliiiii. Oke, oke… Kalau memang ada, tunjukkan dong? Kalau memang asli, yo tunjukkan. Ga usah berbelit-belit. Pakai pengacara segala. Bahkan, melaporkan para pihak yang menuntut diperlihatkannya ijazah itu. Sebenarnya, simple. Ga perlu bikin suasana dramatik. Apa maksudmu wahai Iwok, kok sama sekali ga mau tunjukkan ijazahmu? Atau, memang itukah caramu sebagai upaya terselubung bahwa kau memang tak punya ijazah? Atau, kau sedang menjalankan politik playing the victim? Emangnya, kau masih berambisi kembali ke istana? Ngaca atuh…. Jalanmu saja sudah sempoyongan. Pikir dan resapi penyakitmu yang kian menggerogoti.

Semua itu menjadi pertanyaan yang tak berjawab jelas. Sementara, jawabanmu dengan cara lain. Yaitu, mengkriminalisai siapapun yang mempertanyakan dan menelisik kebenaran ijazahmu dengan dalih membangun narasi hoak, bahkan mengujar kebencian. Dalih inilah yang kau lakukan kepada rakyat ini, sehingga berjatuhan korban seperti yang dialami Bambang Tri dan Gus Nur. Dijadikan tumbal kekuasaanmu. Mereka – karena mencari kebenaran yang melandaskan kejujuran – harus kau bantai dengan pinjam nama hukum. Diproses dan ditahan, bahkan dipenjara, padahal tak terbukti kesalahannya.

Kok ga salah? Lha iyo. Untuk membuktikan benar dan salahnya, maka pihak jaksa dan pengadilan harus menunjukkan ijazah aslinya. Sementara, sampai detik akhir hakim mengetok palu, izajah asli tak ditunjukkan, kecuali FOTOCOPY saja. Wahai Wok, kau benar-benar dzalim. Meminjam orang kejaksaan dan pengadilan untuk menutup kebohonganmu. Manusiakah kau? Atau, makhluk lain yang berwujud manusia?

Untuk membenarkan tindak kekuasaannya, istana menggiring. “Yuk, kita reuni. Wahai teman-teman Fakultas Kehutanan MGU… Kita ketemu kangen yuk. Yuk ngumpul-ngumpul”, ajak pesuruh istana. Ajakan itu pun disambut oleh beberapa gelinir temannya yang mengaku sebagai kawan seangkatan saat kuliah di Fakultas Kehutanan itu. Kasmudjo pun hadir. Di hadapan teman-teman yang datang pada reuni di Jogja itu, “Ini Pak Kasmudjo. Pembimbing akademik saya. Orangnya galak saat membimbing”, ujar Iwok mengenang.

Kasmudjo yang dinyatakan sebagai dosen pembimbingnya hanya senyum. “Kapan, daku tercatat sebagai dosen pembimbing akademik alias pembimbing kripsinya”, gumamnya di hati sembari menejaslan pada kesempatan lain, daku saat itu masih usia 36 tahun, belum lama mengajar. Maka, tak mungkin menjadi pembimbing skripsi.

Salah satu temannya yang hadir dalam reuni itu pun bertanya-tanya saat melihat foto wisudawan di kampusnya. Saat ditunjukan salah satu foto itu, salah satu perempuan langsung menyanggah. “Itu Hari Mulyno, bukan Iwok. Dan sejauh ini, walau saya juga Angkatan 1980, tak pernah ketemu sosok mahasiswa yang bernama Iwok. Sebanyak 68 mahasiswa yang diterima pada 1980 pada Fakultas Kehutanan, pasti sering ketemu. Tapi, aku kok ga pernah ketemu Mas Iwok kuwi yo?”.

“Ala maak… Akhirnya, reuni itu terlihat belangnya. Terlihat by design. Memang, ada beberapa angkatan 1980 itu. Tapi, kebanyakan by order. Kudu ngaku dan mengenal sosok Iwok sebagai alumni Fakultas Kehutanan. Daku jadi heran. Sebagian kawan yang diundang dalam reuni itu kok asing yo. Saat ketemu juga kaku. Tak ada suasana alamiah yang saling berangkulan., layaknya orang yang sudah sekian lama ga ketemu. Dan telingaku pun langsung terdesing kaget saat sang Iwok ngaku Jujusan Teknologi Kayu. Memang ada jurusan itu? Ngawur. Blas ngawur iki. Saumur-umur, baru dengar nama Jurusan Teknologi Kayu di Fakultas Kehutanan MGU”, tuturnya sembari meninggalkan arena reuni bayaran itu. Blas ga mutu reuni ini.

Misi reuni gagal. Arahnya untuk meyakinkan publik. Publik kian ga percaya. Di tengah ketidakpercayaan yang kian meluas, tampaknya Iwok kian panik. Karena itulah, sejumlah nama seperti Roy Suryo, Rismon Sianipar, dr. Tifa dilaporkan ke Bareskrim Polri. Pagi datang melaporkan, esok paginya ditindaklanjuti. Sementara, laporan klien Chozinudin terkait dugaan ijazah palsu Iwok tak pernah digubris. Alaa maa… Emangnya, POLRI milik Iwok seorang dan gengnya, atau milik negara? Diskriminatif.

“Anehnya, sang Iwok yang katanya melaporkan para penuduh, harusnya disertakan bukti ijazah yang dipersoalkan. Ternyata juga ijazah foto copy. Anehnya lagi, foto copy ijazah dijadikan standar untuk uji laboratirium forensic Polri. Bagaimana kami percaya hasilnya asli? Materialnya saja sudah jelas salah. Ditambah lagi, institusinya tidak independen. Diajak ke laboratorium digital forensik yang netral ga mau. Lalu? Haruskah kami percaya pada hasil institusi yang diragukan integritasnya? No way.

Di tengah arus kuat yang belum tercapai kepercayaan publik itu, lagi-lagi, Iwok ngajak reuni. Beberapa kejanggalan pun muncul. Pertama, para peserta berbaju biru. Sementara, Iwok sendiri berbaju biasa: lengan panjang, putih. Kedua, konon ada acara gladi resik. Ketiga, mengundang media mainstream. Untuk menyiarkan langsung atau tak langsung kali. Kenapa menggunakan media mainstream? Agar lebih kredibel? No. media sosial yang dishoot masing-masing peserta reuni lebik kredibel. Keempat, di antara yang ikut reuni dari ITB dan ITS. Dan kelima, rombongan reuni pulang satu kendaraan Elf. Opo yo… alumni Fakultas Kehutanan GMU tak bermobil sendiri?

Beberapa kejanggalan itu makin mengundang ketidakpercayaan. Komentar miris pun kian berdatangan. Tidak hanya dari alumni GMU, tapi juga dari masyarakat kampus lainnya. Reuni bermaksud memeluk gunung. Agar seluruh masyarakat mempercayai dirinya. Tapi justru, hasilnya sebaliknya.

Dengan hati luluh dan kian hancur, sang Iwok berdesis, “Aku sengaja adakan reuni ini. Siapa yang datang, terserah yang mengundang. Ada tim teknis. Wis to…. Please, percayalah padaku.”

“What???”, tanya sebagian masyarakat langsung meledak. Bagaimana kami percaya? Track recordmu pembohong untuk level dunia, bukan lagi level negeri Konoha ini. Jadi, permintaanmu untuk mempercayai dirimu? Sorry ye, sorry ye….

“Maksudku, percayalah aku memang ga punya ijazah asli MGU. Bagaimana mungkin bisa lulus atau punya ijazah. IP-nya saja di bawah 2. Ya, ga mungkin lulus toh”, ujarnya di dalam hati sembari terkekeh. Kalian, dasar warga negara Konoha. Dibohongi terus ga sadar-sadar. Jadi, kumanfaatkan terus sampai mati.

“Alaa maak…”, ujar sosok yang bisa membaca kata batin, sembari menambahkan, jika semua anak bangsa ini bisa menembus mata batinnya dan tahu apa yang Iwok sampaikan dalam batinnya, tentu rakyat negeri ini tak akan ribut lagi. Bukan tak mempersoalkan kelakuan Iwok di masa lalu, tapi langsung menggiring ke jeruji besi. Sayangnya, mereka tak mengetahui bahasa batin Iwok. Jadi? Publik secara luas tetap menegaskan, “Sorry ye, sorry ye untuk mempercayaimu…”

Bekasi, 30 Juli 2025
Penulis: analis politik, sengaja disajikan dalam sajian sastra. Ben renyah.

Advertisement

Tinggalkan Komentar