Sajak Pril Huseno

Kupanggil ia, tahun yang baru lewat
Kuletakkan di sudut kering nan hening
Ia terduduk, diam, membisu
Pandangan matanya menunduk

Kepalanya basah oleh air mata
Dari bergelombang-gelombang tangisan
Yang berlarian melewati tahun tahun gersang
Aku ingin menanyai tubuh ringkih itu

Hendak kujadikan wawancara dengan Sejarah

Kusentuh bahunya sambil bertanya, bagaimana perjalananmu
Tanyaku lembut, mencoba meraba perasaannya.
‘’Perih…!’’ jawabnya singkat.
Diam sejenak, kubertanya lagi, ada apa…

‘’Pengkhianatan..!’’ jawabnya cepat, matanya tiba-tiba menatapku –
tajam.

Tubuh yang membawa beban Sejarah itu,
sontak bergetar hebat dengan kepala kembali
tertunduk
Bahunya beguncang-guncang
Ia menangis…

Aku, yang terbiasa membaca pahitnya waktu,
Paham benar, arti tangisan dan luka luka
Di tubuhnya,
Di antara lenguh tangisnya

Embun jatuh dari pucuk daun
Merpati bergegas terbang, enggan mendengar
Matahari segera beringsut di balik awan
Semua sudah mengerti, beratnya perjalanan waktu

‘’Aku malu menceritakan kepada tamu berikutnya
Di tahun depan.
Tubuhku sepanjang waktu kemarin tersangkut,
Terbanting berkali kali
Hingga bermandi aib dan noda’’

‘’Tiga ratus enam puluh lima hari yang gelap
Tak kutemui cahaya
Sinar kecil, kusangka pelita yang akan menerangi
Ternyata hanya rangkaian koor dari sudut sudut kelam’’

Aku hanya duduk mendengarkan
Bumi kurasa sempat beringsut memberikan ruang
Bagi percakapan dua penghulu zaman
Terdengar ketuk ketuk palu di kejauhan

‘’Meski segala Nur kebenaran telah kukerahkan
Rusak binasa kemudian. Perjalanan dipenuhi pengkhianatan.
Tubuhku diperkosa berulang, ruh dan jiwaku diambil
Menjadi waktu yang tak lagi berguna – sia-sia belaka’’

Ia menyeka air mata dan ingus yang meleleh dari wajahnya

Sebagai pendengar, aku amat sangat paham
Hari-hari yang akan kujalani ke depan
Akan kurang lebih sama dengan yang dialami
Sang waktu yang telah lewat ini.

Sementara Sang Pencerah belum lagi tiba

Tiba di paruh keempat waktu kemarin
Di akhir tahun yang layu
Sekian banyak kehidupan terenggut,
Bersama dirinya yang hanyut

Nyanyian balada memilukan masih terdengar
Sampai malam pergantian tahun

Selamat datang tahun yang baru,
Aku harus menyiapkan ribuan Dewastra
Untuk melawan…

Yogyakarta, 01 Januari 2026

Advertisement
Artikulli paraprakKejujuran yang Diam
Artikulli tjetërAna

Tinggalkan Komentar