Oleh: Kang Anon

Muak! Itu satu kata yang paling pas buat menggambarkan isi kepala gue tiap kali buka media sosial hari ini. Kita hidup di era di mana “kemasan” sudah membunuh “isi”. Liat aja sekeliling lo, semua orang sibuk memoles diri.

Politisi sibuk pencitraan makan di warteg padahal mobilnya seharga APBD satu kabupaten, influencer sibuk pamer kebahagiaan palsu demi endorsement, bahkan tokoh agama pun sekarang banyak yang terjebak jadi budak algoritma—sibuk mikirin angle kamera dan soundbite yang viral ketimbang substansi ayat yang dibaca.

Semuanya palsu. Semuanya plastik. Kita dikepung sama manusia-manusia cangkang kosong yang berisik.

Tapi di tengah kebisingan sampah visual itu, ada satu anomali yang bener-bener bikin akal sehat gue berhenti sebentar. Semacam glitch dalam sistem yang rusak ini.

Namanya Bahauddin Nursalim. Orang-orang manggil dia Gus Baha.

Kalau lo liat dia sekilas, nggak ada potongan “orang penting”. Kemeja putih murah yang kadang kancing lehernya lupa dikaitin, peci item yang miringnya seenak jidat, sarungan, duduknya sembarangan. Nggak ada jubah megah, nggak ada sorban melilit kepala, nggak ada tim kreatif yang ngatur lighting biar mukanya bersinar.

Tapi anehnya, jutaan orang—dari preman terminal, intelektual kampus yang ateis, sampai jenderal bintang empat—duduk diam dengerin dia ngomong. Tanpa dibayar. Tanpa disuruh.

Gue sering mikir, kenapa? Apa yang bikin orang ini begitu mengerikan power-nya?

Jawabannya ternyata sederhana tapi nampar banget: Dia adalah satu-satunya orang yang udah selesai sama dirinya sendiri. Dan di dunia yang isinya orang-orang “laper” pengakuan, orang yang “kenyang” kayak dia itu jadi barang langka.

Coba perhatiin betapa “kurang ajar”-nya dia—dalam artian positif. Dia sering bilang di depan ribuan orang, “Saya ini ulama, kalian harus ngaji sama saya.” Kalimat yang kalau keluar dari mulut orang lain bakal terdengar sombong setengah mati. Tapi pas keluar dari mulut dia, itu terdengar bener. Itu bukan arogansi ego, itu harga diri ilmu.

Dia membalikkan meja permainan kekuasaan yang selama ini kita anggap normal. Biasanya kan ustadz yang merapat ke pejabat, ustadz yang sungkem ke penguasa. Gus Baha nggak sudi main di level itu. Dia bikin pejabat yang harus datang ke dia, duduk di lantai, nungguin dia selesai ngajar.

Dia mengirim pesan tanpa suara: “Di sini, duit dan jabatan lo nggak laku. Di sini yang berkuasa itu Ilmu Tuhan, dan gue pemegangnya. Jadi lo yang harus nunduk.”

Itu mentalitas gangster level spiritual. Dia menaklukkan ego penguasa tanpa perlu teriak-teriak bawa pasukan. Dia cuma duduk, ngaji, dan dunia yang nyamperin dia.

Dan buat bajingan-bajingan tengik kayak kita yang hidup di jalanan, yang dosanya udah numpuk setinggi langit, Gus Baha itu kayak oase. Dia nggak jualan neraka. Dia nggak nakut-nakutin kita yang udah capek sama hidup. Dia justru dateng bawa logika yang bikin kita mikir, “Anjir, ternyata Tuhan itu asyik ya.”
Dia bilang tidur itu ibadah kalau tujuannya menghindari maksiat.

Dia bilang ngopi dan guyon itu ibadah kalau itu bikin hati lo ridho sama takdir Tuhan. Dia nurunin standar kesalehan yang selama ini ketinggian, biar tangan-tangan kotor kita bisa ngegapai Tuhan lagi. Dia nggak ngehakimi pendosa, dia justru ngajarin kita cara “nego” sama Tuhan pake logika cerdas. Itu jenius. Itu street smart.

Dia paham psikologi manusia yang udah lelah dihakimi.

Tapi yang paling bikin gue merinding sebenernya bukan ilmunya. Tapi ketidakpeduliannya.
Kita semua ini kan budak validasi. Kita posting status nungguin like. Kita kerja keras biar dipuji bos.

Kita beli barang biar dipuji tetangga. Kita semua pengemis perhatian. Gus Baha? Dia beneran “bodo amat”. Dia nggak punya Instagram (awalnya), dia nolak diundang ke acara-acara besar kalau nggak sreg, dia nggak peduli orang suka atau benci sama omongannya.

Sikap “Gue nggak butuh elo” yang dia punya itu murni. Bukan gimmick. Dan itulah kenapa dia jadi magnet. Hukum alam itu lucu; semakin lo ngejar dunia, dunia makin lari. Tapi begitu lo berani buang dunia kayak sampah, dunia malah ngejar-ngejar lo kayak anjing minta dipelihara.

Gus Baha itu cermin retak buat kita semua. Pas kita liat dia, kita nggak cuma liat seorang ulama jenius. Kita sebenernya lagi ditampar sama fakta bahwa selama ini kita hidup dalam penjara ekspektasi orang lain, sementara dia duduk santai menikmati kebebasan yang hakiki di teras rumahnya yang sederhana.

Kita sibuk ingin terlihat hebat. Dia sibuk menjadi hebat.
Dan bedanya, Kawan, bagaikan langit dan sumur bor.

Pertanyaannya sekarang cuma satu buat lo yang baca tulisan ini: Sanggup nggak lo punya mental sekuat itu? Sanggup nggak lo jadi orang yang sangat berkualitas sampe lo punya hak buat melanggar semua aturan main dunia, atau lo cuma bakal terus jadi penonton yang diam-diam iri sama kebebasan dia?

Gue bahkan sampe tulis karakter beliau dan jadiin bahan baku dalam buku berjudul THE DANGEROUS SAINT, sebuah premis yang mungkin terdengar gila buat orang-orang sok polos:

“bahwa syarat mutlak untuk menjadi orang “suci” yang sesungguhnya adalah lo harus punya kapasitas untuk menjadi berbahaya lebih dulu.”

Orang sering salah kaprah, Man. Mereka pikir “orang baik” itu adalah orang yang nggak bisa nyakitin orang lain, yang nrimo, yang pasrah diinjek-injek. Salah besar. Itu bukan orang baik, itu orang lemah. Itu kelinci. Kelinci nggak memakan serigala bukan karena dia bermoral tinggi atau menahan diri, tapi murni karena dia nggak mampu. Dia nggak punya pilihan lain selain jadi korban.

Gus Baha itu beda. Dia itu singa.
Coba lo bedah lagi. Dia punya cakar intelektual yang bisa mencabik-cabik logika lawan debatnya—siapapun itu—dalam hitungan detik. Dia hafal ribuan dalil yang bisa dia pakai buat memelintir kebenaran demi kepentingan pribadi kalau dia mau.

Dia punya basis massa fanatik yang kalau dia jentikkan jari, bisa aja dia gerakin buat bikin huru-hara politik atau menekan kebijakan negara. Dia punya akses ke lingkaran kekuasaan yang bisa bikin dia kaya raya tujuh turunan tanpa harus kerja keras.

Dia punya semua “senjata” itu. Dia punya kapasitas penuh untuk menjadi monster, untuk menjadi tiran, untuk menjadi manipulatif. Dia berbahaya.
Tapi—dan ini poin kuncinya—dia memilih untuk menyarungkan cakarnya.
Dia memilih untuk tetap tinggal di desa. Dia memilih untuk nggak memonetisasi pengaruhnya. Dia memilih untuk nggak pake power-nya buat nindas, tapi buat ngangkat derajat orang awam yang selama ini merasa agama itu eksklusif.

Itulah definisi Dangerous Saint yang gue maksud di buku itu. Lo baru bisa dibilang punya kendali diri kalau lo emang punya “sesuatu” yang buas di dalam diri lo buat dikendaliin. Kalau lo nggak punya taring, jangan bangga bilang lo nggak menggigit.

Ngeliat Gus Baha, gue kayak ngeliat teori gue hidup, bernapas, dan jalan-jalan pake sarung dan peci miring. Dia adalah validasi hidup mati dari tulisan gue, bukti nyata bahwa kekudusan yang paling tinggi dan paling disegani itu lahir dari kekuatan raksasa yang terkekang, bukan dari kelemahan yang dipelihara.

Makanya orang takut sama dia. Orang segan. Karena secara insting, manusia—bahkan binatang sekalipun—tahu bedanya mana kelinci yang sok suci karena tak berdaya, dan mana singa yang tenang karena dia tahu dia rajanya. Gus Baha itu singa yang tenang itu, dan diamnya dia jauh lebih mengintimidasi daripada auman ustadz-ustadz karbitan yang cuma nyari panggung.

Advertisement
Artikulli paraprakLogika Dangkal BGN: Menutup Lubang Pendidikan dengan Piring Makan
Artikulli tjetërNegara Rp10.000: Ketika Anak SD Mati, dan Republik Tetap Pidato

Tinggalkan Komentar