Oleh: MN Lapong

Kian hari publik disuguhi kenyataan bahwa cerita ijazah itu mulai menemukan titik terang kewarasannya, sebab info validasi atas kasus ini makin memperjelas apa yang selama ini disembunyikan atau menjadi misteri.

Apa yang diungkap baru baru ini oleh peneliti Bonatua Silalahi dalam temuannya kepada penyidik Kapolda Metro Jaya, makin membuat terang cerita ijazah palsu itu. Sekalipun Cerita ini masih sangat ditentukan oleh proses pembuktian objek “phisik-materi” ijazah oleh Kapolda Metro Jaya selanjutnya, yang di tengarai mayoritas publik adalah palsu, yang menurut Rocky Gerung, ijazah itu sendiri asli yang palsu adalah orangnya.

Jika menilik dari pengakuan Bambang Tri, “ijazah itu milik Hary Mulyono ipar dari Jokowidodo seperti foto yang tertera di ijazah yang di teliti RRT yang kemudian dilaporkan oleh Jokowidodo, dan kemudian RRT dijadikan tersangka oleh Polda Metro Jaya.

Bagaimana kebenaran dari drama dalam kasus ijazah ini sekali lagi, tergantung keseriusan, keberanian dan kejujuran institusi Polri untuk tegak lurus terhadap hukum yang mana telah dicurigai publik menjadi bagian dari genk Solo atau pro terhadap Jokowidodo dalam penanganan kasus tersebut.

Jika proses hukum dilakukan dengan fair dan transparan, seperti yang telah dilakukan oleh peneliti Bonatua Silalahi melalui Putusan KIP, ternyata ijazah tersebut terverifikasi seperti yang ada di arsip KPU dan sama persis yang di teliti oleh RRT dan yang diupload oleh Dian Sandi relawan Jokowidodo di media sosial.

Hal tersebut dapat diduga kalau proses hukum ini berlanjut maka bisa dipastikan cerita ini berakhir dengan fakta, yakni “Jokowidodo bersalah, berbohong dan seterusnya.”

Situasi ini dipastikan akan berubah sekejab bahkan drastis terhadap sang mantan presiden, “Jokowidodo End Game!” Dinasti Jokowi Tamat!

Apa iya? Bisa jadi! Kecuali tentunya ada intervensi berupa kompromi politik ala feodal, “mikul duwur mendem jero” dari pemerintahan Prabowo, yang inisiatifnya mungkin dilakukan oleh Prabowo dalam ketaktegaannya untuk melindungi guru politiknya? Wallahualam bissawab!

Penasaran? Mari kita tunggu kelanjutan ceritanya.

Saya hanya mau berpesan dengan satu kalimat bijak bahwa, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menatap masa depannya dengan optimis tanpa dibebani oleh bayang bayang moral kelam dari pemimpin yang bersalah karena hukum bisa tegak lurus!”

PN 12 Februari 2026

Advertisement
Artikulli paraprakSurat Terbuka untuk Gubernur Melki Laka Lena: Jangan Biarkan Pena Mereka Patah Lagi
Artikulli tjetërKisah Dua Tuyul Menemui Jin Ifrit

Tinggalkan Komentar