
Oleh : In’amul Mustofa, M.IP.
Transisi politik Indonesia kini justru berkepanjangan usianya setelah reformasi kini memasuki babak baru pasca dua periode pemerintahan Joko Widodo, wajah sistem kepartaian kita berubah: stabil secara elektoral namun kehilangan kontur ideologis yang tajam. Partai-partai lama seperti Golkar, PDIP, Gerindra, terjebak pada logika koalisi besar, yang ingin menggaet parpol medioker dan kecil untuk bergabung bersamanya sementara ruang oposisi substantif makin menyempit. Di tengah dinamika ini, gelombang partai politik baru bukan sekadar fenomena administratif — mereka hadir sebagai manifestasi dari pencarian ulang arah demokrasi Indonesia yang sesungguhnya. Ruang ini penting karena keberadaannya menentukan apakah demokrasi kita akan terus menjadi permainan kompromi elit atau kembali menjadi kanal aspirasi rakyat yang hidup dan konkret.
Survei publik membuktikan bahwa sekitar 40,6% responden masih menyatakan kebutuhan terhadap partai baru di Indonesia, artinya ada ruang signifikan publik yang ingin alternatif baru dalam struktur politik nasional. Namun jarak antara kebutuhan publik dan realitas elektabilitas partai baru tetap lebar. Sebuah survei Litbang Kompas memotret Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai baru dengan elektabilitas tertinggi di antara kelompok parpol nonparlemen, mencapai 2,6 persen pada akhir 2023 — meningkat dari kurang dari 1 persen sebelumnya. Namun angka itu masih jauh dari ambang parlemen 4 persen yang menjadi syarat untuk kursi di DPR RI.
Data lain menunjukkan inkonsistensi dukungan PSI menjelang Pemilu 2024, dengan beberapa survei mencatat elektrabilitasnya hanya sekitar 1,4 persen hingga 1,9 persen, jauh di bawah ambang parlemen. Ini memperlihatkan betapa beratnya perjalanan partai baru dalam menembus basis suara rakyat di tengah dominasi partai mapan. Diskrepansi antara harapan publik terhadap partai baru dengan performa elektoralnya menjadi inti dari dilema yang dihadapi aktivis, kader, dan pengamat politik saat ini. Pada tahun 2025-2026 PSI meski belum ada survei resmi menunjukkan gelagat dan pergerakan baru untuk dapat simpati secara nasional. PSI makin ekspansif, terjun langsung menyapa rakyat serta ada asupan baru dari mantan Presiden ke 7, Joko Widodo.
PSI Memperjuangkan Kekuasaan?











