Cerpen Absurd
Gus Nas Jogja


Aku berdiri di lantai paling atas Markas Besar PBB di New York, tapi gedung ini tidak lagi menjulang ke langit. Ia telah meliuk, melingkar, dan menancap ke dalam tanah, menembus kerak bumi, menuju inti terdalam dari ambisi manusia. Ruang Sidang Dewan Keamanan tidak lagi memiliki atap. Di atas kami, langit Teluk Persia yang retak menganga, memuntahkan jejak-jejak rudal hipersonik yang terlihat seperti coretan krayon anak setan yang sedang tantrum.

Aku adalah Sang Pencari Fakta. Tugasku adalah mencari kebenaran di tengah tumpukan jasad metafora dan reruntuhan silogisme. Di tanganku, sebuah mikroskop yang lensa-lensanya terbuat dari air mata janda-janda Perang Teluk.

Di sekeliling meja bundar yang perlahan berubah menjadi genangan bubur semen, duduklah para penyair papan atas dunia dan para Penerima Hadiah Nobel Perdamaian. Mereka tidak mengenakan jas, melainkan jubah yang ditenun dari Piagam PBB yang sudah koyak-moyak.

“Tuan-tuan,” kataku, suaraku bergema seperti koin yang jatuh ke dalam sumur kering. “Supremasi udara Barat telah runtuh. Ia retak seperti kaca tipis yang disiram air mendidih. Aku butuh fakta, bukan rima.”

T.S. Eliot bangkit, wajahnya sepucat bulan yang keracunan limbah industri. Ia memegang sebuah cangkir kopi yang isinya adalah pasir gurun yang bercampur dengan oli jet tempur F-15.

“Ini adalah cara dunia berakhir,” Eliot berbisik, suaranya seperti kersik pisau di atas batu nisan. “Bukan dengan dentuman rudal hipersonik, melainkan dengan rintihan logistik yang menipis di gudang-gudang Pentagon. Kapal induk bukan lagi gunung ontologis, ia hanyalah target Mach 10 yang sedang belajar berenang di air dangkal.”

Di sebelahnya, Naguib Mahfouz sedang mencoba menyusun kembali piramida dari kepingan-kepingan Shahed drone murah. “Di Lorong Midaq,” katanya tanpa menoleh, “kami tahu bahwa kesombongan peradaban adalah bentuk paling murni dari bunuh diri. Ibn Khaldun benar; ketika mereka terlalu percaya pada kemewahan teknologi IFF (Identification Friend or Foe), mereka mulai menembak jatuh F-15 mereka sendiri di Kuwait. Itu bukan friendly fire, itu adalah narsisme yang sedang mengunyah ekornya sendiri.”

Tiba-tiba, atap imajiner ruang sidang itu runtuh total. Dari langit Teluk yang bocor, jatuhlah ribuan mayat tanpa nama, seragam mereka terbakar, kulit mereka melepuh oleh panas ledakan pangkalan Kirya dan Glilot. Mereka jatuh tanpa suara, menumpuk di atas meja Dewan Keamanan, menutupi tumpukan kertas resolusi yang tak pernah dibaca.

Wislawa Szymborska berdiri, mengambil satu mayat, dan mencoba mengukur berat jiwanya dengan timbangan dacin tua. “Angka di Pentagon kecil,” desisnya puitis namun tajam, “tapi intensitas penerbangan MEDEVAC menuju Ramstein memberi cerita lain. Langit menuju Jerman adalah sungai logistik yang membawa tubuh-tubuh dari reruntuhan ego. Kita sedang menghitung Delayed Casualty Reporting, sementara Selat Hormuz bersiap menekan katup jantung ekonomi global.”

“Hentikan!” teriak seorang pria yang tiba-tiba muncul di tengah genangan mayat. Ia mengenakan dasi merah yang panjangnya menjulur hingga ke inti bumi, dan rambutnya oranye berkilau oleh radiasi nuklir futuristik. Ia membawa sebuah koper bertuliskan “Diplomasi Italia”.

“Ini adalah ‘deal’ terbaik dalam sejarah!” teriak Donald Trump surealis itu. “Aku membuka jalur diplomasi lewat Italia. Sun Tzu mengatakannya padaku lewat Twitter: Jenderal terbaik tahu kapan harus strategic retreat. Aku tidak kalah, aku hanya mengatur ulang papan catur agar kapal indukku bisa bersembunyi di balik spageti.”

Sesosok bayangan raksasa berwajah beruang salju dan naga api muncul di belakang Trump, memegang remote control AI yang mengendalikan seluruh jaringan perang saturasi. Bayangan itu tersenyum, gigi-giginya terbuat dari hulu ledak nuklir taktis.

Jimmy Carter, dengan senyum sedih yang permanen, mencoba membagikan kacang tanah kepada mayat-mayat di meja. “Kita telah gagal memahami ontologi kekuasaan,” isaknya. “Kekuatan modern bukan lagi soal siapa yang terbesar, kapal induk yang seperti gunung bergerak itu kini hanyalah target besar yang bergerak lambat. Kekuasaan adalah siapa yang paling terhubung dalam jaringan drone murah dan dukungan teknologi Rusia-Cina.”

“Fakta! Aku butuh fakta!” teriakku putus asa, mencoba mengorek genangan semen di bawah kakiku.

“Faktanya adalah,” kata Pablo Neruda, suaraku tiba-tiba terdengar basah oleh minyak mentah yang merembes dari dinding ruang sidang, “bahwa hegemoni global sedang bergeser. Perang di Teluk tidak pernah tinggal di Teluk; ia merambat ke dapur setiap negara, membengkakkan subsidi BBM Indonesia, menciptakan risiko instabilitas sosial. Dunia tidak lagi unipolar. Kita sedang menyaksikan kelahiran sistem baru yang belum kita pahami, persis seperti yang ditulis Žižek saat dia sedang antre membeli hotdog di surga.”

Genangan semen di bawah kami tiba-tiba surut, berubah menjadi sebuah lubang hitam yang gelap, pekat, dan berbau busuk. Bau itu adalah campuran dari mayat yang membusuk, minyak yang terbakar, dan ambisi kekuasaan yang usang.

Itu adalah Comberan Ego Amerika.

Dari dalam comberan itu, terdengar suara Ibn Khaldun yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema melalui mikroskop air mataku.

“Lompatlah!” teriak Eliot pada Trump. “Lompatlah ke dalam comberan egomu sendiri! Di sana, di kedalaman Mach 10 ketiadaan, kau akan menemukan perdamaian abadi dalam bentuk fragmentasi atom.”

Trump, dengan koper diplomasi Italianya, melompat ke dalam comberan dengan gaya swan dive yang mengerikan. Mayat-mayat di meja Dewan Keamanan ikut merosot masuk, diikuti oleh cangkir kopi Eliot, piramida drone Mahfouz, dan timbangan dacin Szymborska.

Aku berdiri sendirian di tepi Comberan Ego, memegang mikroskopku yang kini retak. Di atas, langit Teluk masih retak, tapi jejak rudalnya perlahan memudar, digantikan oleh keheningan radioaktif yang futuristik.

Aku telah menemukan faktanya.

Kebenaran bukanlah apa yang benar-benar ada, melainkan apa yang tersisa setelah ego sebuah peradaban meledak dan menyiram kaca tipis sejarah dengan air mendidih. Kekuasaan tidak pernah benar-benar hilang… ia hanya berpindah tangan, dari kapal induk yang tenggelam menuju drone murah yang terbang rendah di atas comberan ego kita semua.

Aku meludah ke dalam comberan, dan comberan itu meludah balik, tepat di lensa mikroskopku.

Surealis. Absurd. Selesai.

Advertisement
Artikulli paraprakApakah Lembaga yang Indonesia Menjadi Anggota Tetapnya Itu Layak Disebut Board of Peace, atau Harus Disebut Board of War?
Artikulli tjetërIndonesia Negara Agraris — Ironi Ketimpangan dan Perampasan Tanah

Tinggalkan Komentar