Puisi Akbar AP

Cahaya di bulan Ramadhan bentuknya pengulangan.
Tahun ini sudah bberjalan sekitar 365 hari.
Sedari kita bertemu dalam simpul yang digelar seorang sahabat.
Tahun lalu, masih terasa malu-malu.
Tahun ini, memalukan karena rindu seperti sakura yang enggan dipaksa layu.

Cahaya Ramadhan bagiku menemukanmu.
Dalam pengelanaan hati yang haus mendamba.
Dalam petualangan pikiran yang lapar menuliskan asa.
Tentangmu, tentang kita, dan tentang masa mendatang yang tiada menentu.

Ramadhan menjadi mujahadah rasa, betapa kita terikat temali kata saling yang membentang lintas perbatasan provinsi.
Betapa Ci berarti air, dan Karta bermakna kota.
Perlambang air selalu menghidupi kota melalui kanal-kanal di sekelilingnya.
Pertanda kota mengalirkan air untuk menghidupi warganya melampaui sumur dan pipa salurannya.

Umpamakan saja air itu sebagaimana perasaan yang terus bertumbuh di antara gemuruh rindu!
Bayangkan saja kota adalah tulus nuranimu yang menangkap sebesar apapun gemuruh itu!
Setahun sudah, gemuruh itu tidak terhenti.
12 purnama, jemari suara kita berjumpa dalam ragam cerita.

Hari ini memang inginmu terkadang tidak terjangkau anganku.
Harapmu tidak terpenuhi semenjananya renjana atmaku yang berpradikta.
Sebab masih rancu sesekali lembaran yang dilalui bersama.
Karena binar-binar mata imajimu belum sempurna kulukis pada kanvas jiwa.

Seperti Rumi pada puisi-puisinya.
Raja Ali Haji pada gurindam-gurindamnya.
Romeo Juliet, Pranacitra Rara Mendut, Layung Sari Jayeng Rana,
Demikian Hayam Wurug Pitaloka dan Sangkuriang Dayang Sumbi.
Hikayat asmara mereka tidak lebih berliku di antara tangan-tangan kita yang belia.

Senja mustahil menghadirkan pelangi beraurora.
Fajar tidak mungkin memunculkan matahari terbit dari barat.
Namun barisan aksara doa kututup penuh hikmat.

Tuhan menjadikan perasaan kita berpuasa.
Mengaruniakan rangkaian pembicaraan kita dengan bermalam-malam iktikaf cinta.
Mengiringinya dengan saling timbal-balik seperti muzaki pada mustahiknya.
Merengkuh berupa impian kita pada keberlimpahan berlian kehidupan.

Memang masih sepanjang 6 harokat mad wajib perjalanan kita.
Terkadang perlu diidzhar dan ikhfa masing-masing diri supaya perasaan menjadi tartil terbaca.
Berhenti pada waqof jeda pengertian.
Namun, aku percaya bahwa khatamnya kita berada bersama di taman-taman firdaus-Nya.

Bantul, 5 Maret 2026

Advertisement
Artikulli paraprakMengibas Anjing: Pelajaran Donald Trump untuk Prabowo
Artikulli tjetërKalkulasi Prabowo

Tinggalkan Komentar