Oleh: Lukas Luwarso

Rismon Sianipar setahun terakhir dikenal berdiri di garda terdepan dan berteriak paling lantang sebagai juru bicara “ijazah palsu Jokowi”. Argumen hasil penelitian forensik-digital-nya dianggap paling solid dalam mengungkap kepalsuan. Memakai metode analisis citra digital, overlay, dan algoritma Scale-Invariant Feature Transform (SIFT), ia menemukan ketidak-sinkronan teknologi percetakan tahun 1985, jenis huruf yang tidak lazim, dan berbagai kejanggalan lainnya.

Namun publik mendadak disuguhi plot twist (kisah kejutan) yang menghebohkan. Rismon, pejuang pixel ijazah paling heroik, mendadak melakukan pertobatan tak-ilmiah. Ia tiba-tiba menyatakan “ijazah Jokowi asli”, dan meminta maaf serta sowan-sujud ke Jokowi. Ia bahkan meminta buku Jokowi’s White Paper, yang ia tulis bersama Roy Suryo dan Tifa Tyassuma, ditarik dari peredaran. Buku tebal berisi argumen Ilmiah itu ia anggap salah.

Perubahan angin paradigmatik, dari palsu menjadi asli, ini dibungkus Rismon dengan dalih “hasil penelitian yang sedang berjalan” (on-going research). Sebuah dalih sok elegan, berpretensi Ilmiah, untuk menutupi motif kegalauan personal atas perubahan sikapnya yang sama sekali tidak ilmiah. Namun, agar adil, to be fair, yang terjadi pada Rismon adalah problem psiko-politik, “pergulatan trilematis”. Biasa terjadi pada orang-orang yang tidak ajeg pemikiran dan mudah goyah sikapnya, saat menghadapi persoalan.

Trilema Rismon: Tiga Pintu Pertobatan

Ada tiga kemungkinan motif perubahan mendadak, mental-strugle Rismon, dalam wacana pertarungan kontroversi ijazah Jokowi. Trilema motif Rismon, yang setidaknya dua kombinasi motif pasti faktual, yaitu: motif sukarela, mencari peluang, dan mendapat ancaman.

Motif Sukarela (The Zen Path): Rismon mendadak mendapatkan “pencerahan spiritual” di keheningan malam. Menatap layar monitor komputer, menghitung jumlah viewer dan subscriber kanal Youtube-nya, Balige Academy, yang terus bertambah namun tidak cukup untuk bisa dimonetize. Selalu menjadi sorotan publik dan liputan media, menjadi selebritis, membuatnya melambung di awan. Sindrom “fifteen minutes of fame” menggelayuti dan membuatnya galau. Dalam kontemplasi digitalnya, ia melihat “penampakan” (epiphany) sosok messiah berwujud Jokowi. “Aha moment” menyergapnya, kesadaran baru muncul, pencerahan menyinari. Algoritma pikirannya melakukan self-koreksi: memusuhi orang punya kuasa dan harta adalah kesia-siaan. Pertobatan harus dilakukan, sembah sujud dan minta maaf pada Jokowi adalah keniscayaan.

Mencari Peluang (The Opportunistic Path): Dunia riset yang ditekuni Rismon tak membawa kemakmuran, sekian lama menjadi peneliti digital tak banyak hasilnya. Meneliti salinan scan ijazah Jokowi juga cuma mendapat tepuk tangan, sorakan, dan viewer netizen. Meneriakkan ijazah palsu tak membawanya kemana-kemana, selain cuma menjadi “pesohor lima belas menit”, plus hujatan ternak Mulyono. Rismon ingin membalikkan peruntungan, meneriakkan ijazah Jokowi asli, sepertinya bakal membawa perubahan. Mewacanakan “keaslian” ijazah Jokowi pasti memiliki nilai tukar yang lebih menjanjikan. Keahlian dalam digital forensik, ilmu yang konon ia dapat dari negeri Bushido, adalah nilai tambah. Potensi peluang yang tidak boleh disia-siakan. Rismon tidak lagi peduli soal ilmu pengetahuan, ia menerapkan ilmu peluang.

Mendapat Ancaman (The Invisible Threats): Beredar rumor Rismon berubah sikap karena tekanan dan ancaman Jokowi dan aparatnya. Politik Indonesia penuh dengan cerita seperti ini di era Jokowi, dikenal sebagai “politik sprindik”. Orang yang semula lantang tiba-tiba menjadi sangat mellow dan manut. Publik tak pernah tahu apa yang terjadi pada Rismon dan keluarganya. Khususnya rumor bahwa ijazahnya dari universitas di Jepang juga palsu atau bermasalah. Ia tidak mau berbicara soal ancaman dan rumor ini.

Jika benar pertobatan Rismon terjadi di bawah tekanan maka “penelitian on-going” nya pasti bukan dengan memelototi dokumen ijazah di depan komputer, melainkan di ruang negosiasi. Dalam skenario ini, Rismon adalah manusia tragis. Ia terpaksa menelan ludah dan harga dirinya sebagai pejuang kesiangan. Ia takluk oleh ancaman dan menyadari bahwa membongkar kepalsuan. Ia menyambut tawaran wortel demi menghindari tongkat, mengikuti permainan carrot or stick Jokowi.

Perubahan drastis nir-logis sikap Rismon bisa dijelaskan melalui analisa Trilema. Sebagai unit analisis, dua dari tiga hipotesa Trilema di bawah ini pasti benar:
1. Rismon sukarela meminta maaf, demi mencari peluang, sebenarnya tidak mendapat ancaman.
2. Rismon mencari peluang, terpaksa minta maaf, karena mendapat ancaman.
3. Rismon mendapat ancaman, menjadikannya peluang, rela meminta maaf karena memang suka.

On-Going Research: Dalih Penyesuaian

Bagian paling menggelikan dari drama Rismon adalah klaim bahwa perubahan sikapnya didasarkan pada hasil “penelitian ilmiah yang terus berjalan.” Peneliti bisa mengubah hipotesis atau kesimpulan ketika ada data baru yang valid. Namun dalam kasus Rismon, datanya masih sama, ia tidak meneliti versi lain ijazah Jokowi. Ia hanya mengubah kesimpulan, dari “palsu” menjadi “asli”. Hanya dengan menatap foto atau salinan ijazah yang sama, atom dan molekul yang menyusun tinta dan kertas, telah mengubah pikiran dan imajinasi liar Rismon.

Dalam riset ilmiah, perubahan kesimpulan biasanya disertai uraian proses penelitiannya, ada specimen baru obyek yang diteliti, ada data dan temuan baru. Dan hasilnya ditunjukkan secara terbuka, melalui tulisan argumentatif level jurnal ilmiah, ada proses peer-review untuk menguji validitasnya. Alih-alih berdiskusi dengan rekan sejawat, sesama ahli, Rismon memilih melaporkan temuan baru dan kesimpulannya langsung kepada polisi. Sigap meminta restorative justice, dan sowan ke Jokowi untuk mohon ampun.

Proses yang begitu cepat dan sekejap pasti bukan berbasis metode ilmiah. Rismon pasti memakai metode “teleportasi-ghoib”. Perubahan perilakunya, dari penuduh kepalsuan (dengan lantang), menjadi pengkotbah keaslian (dengan lemah gemulai), sulit dijelaskan secara ilmiah. Dalam kajian ilmiah, “on-going research” adalah penelitian yang sedang berjalan, belum ada kesimpulan final, dan prosesnya terbuka untuk diuji, diverifikasi, bahkan dibantah. Namun dalam pemahaman Rismon, “on going research” adalah saat arah angin berubah, kesimpulan juga harus segera berubah.

Perilaku Rismon, dan pengacaranya, Jahmada Girsang, terekam di berbagai media sosial, dengan suka cita bertemu Jokowi dan Gibran. Ini adalah tipikal “lompatan kuantum politik oportunis”. Adagium politik oportunis: berteriak kencang untuk menarik perhatian, agar mendapat tiket masuk ke komunitas Geng Solo. Perubahan sikap Rismon jelas bukan hasil penelitian baru, melainkan hasil kalkulasi baru.

Berbeda dengan narasi Eggi Sudjana dan Damai Lubis, memakai dalih sebagai “Nabi Musa yang mengajak Jokowi ke jalan benar.” Ironi terbesar petualangan narasi Rismon adalah dalih penelitian ilmiah. Jokowi, sebagai Jin Ifrit, sukses menambah koleksi tuyul-tuyul yang semula melawan menjadi menghamba padanya. Kajian ilmiah dari perubahan sikap para tuyul itu adalah memakai ilmu penyesuaian, bukan ilmu pengetahuan. Rismon akan tercatat menjadi guru besar ketiga metode ilmu penyesuaian, setelah Eggi Sudjana dan Damai Lubis.

Advertisement
Artikulli paraprakEskatologi Di Balik Mesiu
Artikulli tjetërSiklus Sejarah Menuju Keruntuhan Israel

Tinggalkan Komentar