Puisi Erwito Wibowo
1511, tahun yang menakjubkan dunia
Banyak mala petaka tidak terbayangkan
Dan paling menakjubkan manusia menaklukkan air dengan angin mengarungi samudera.
Angin malam membaca bintang sebagai peta mengarahkan palka
Bangsa Portugis dalam kepedihan badai berlayar mencium ujung cuaca memburu : pala, cengkeh, dan bunga lawang.
Pala, ditakdirkan sebagai barang mewah, tidak meyakinkan :
kering
keriput
tidak menarik,
namun mujarab bagi sampar dan berak darah.
rempah
rempah
aroma yang membangkitkan
Di sudut benua
Deru debur ombak memburu riuh
Waktu meleleh di antara keinginan
Layar ditarik
tiang bagai telunjuk langit.
buritan diarahkan
menuju palka tujuan
ke depan
ke depan
rempah
rempah
aroma yang abadi
Di perairan tropis malaria mendera awak kapal
Membayang debur pulau
Mimpi-mimpi asing berkarat di lipatan harapan.
Nasib menyusuri peta alamat semesta yang mendidih
Aroma pulau Rum
tercium sebelum terlihat
Pulau kecil belum dipetakan
Terpencil
Sepi
Terabaikan
Di antara perairan nusantara
Siapa sangka,
pulau Run di laut Banda pernah ditukar Manhattan di ujung sungai Hudson, dekat New York
Perebutan pulau Run penawaran runcing dalam lipatan sejarah.
Belanda dan Inggris bertukar pulau Run, Inggris memperoleh Manhattan.
rempah
rempah
beraroma sengketa
Memandang pulau Run
Terpana hanyut kemakmuran masa depan
Monopoli perdagangan rempah-rempah Venesia dan Konstantinopel terpangkas.
Kecemasan hidup berangkat lebih dini
Bayang-bayang amarah berlepasan
Ekspedisi Portugis seperti khayalan yang menyiksa
Venesia berseru dan membeku
Dalam gemuruh laut Atlantik
Tidak ada jejak membeku
Bangsa Spanyol melambaikan layar sebagai petualang kedua.
Mengarungi jejak Portugis
Tak ada alasan di keningnya
Portugis menyisir khatulistiwa
Menemukan rempah di kepulauan Banda.
Perjalanan tak berkesudahan ujungnya
Bentangan putus asa tak bertepi
Nestapa melukiskan bencana
Menghanyutkan waktu dan nama-nama
Portugis dan Spanyol menyeringai, sengketa berdarah-darah.
Navigasi belum terpetakan
Kebiadaban memiliki jejak peta sempurna.
Paus Alexander VI melerai.
Menarik garis wilayah bagi keduanya.
Garis eksplorasi kutub Arketik ke Antartika
Sebelum trakat diputuskan, Portugis menggeser garis niat jahatnya.
1553
Angin meniup kabar
Berlayar ekspedisi Inggris, petualang ketiga Eropa dibiayai para saudagar serta restu Ratu Elizabeth II.
Kapten kapal Bona Esperanza menghindari Portugis dan Spanyol, menyisir rute lewat kutub utara.
Naas menjadi bagian baginya
Bongkahan es dan beruang kutub memainkan laju kapal.
Terpenjara suhu di bawah nol.
Rintangan-menganga ancaman kecemasan belum selesai.
rempah
rempah
aroma jahat menelusup
Ekspedisi Inggris bertanduk durhaka.
Tidak hanya membawa rempah, juga emas, permata dan batu mulia.
Hasil perampasan kapal Portugis dan Spanyol.
1595
Belanda mengikuti petualang keempat Eropa.
Dipimpin Cornelis Houtman pelayaran ke timur disiapkan dengan cermat.
Peta baru.
Dan kompas.
Dilengkapi tiang-tiang layar cadangan
Jangkar-jangkar yang jantan mematuk karang dasar laut.
Melalui Tanjung Verde menuju khatulistiwa
Memasuki angin mati
Mengapung sebulan di lautan
Sebelum pantai Brasil terlihat
Menggunakan angin pasat mengubah arah
Membiarkan terbawa arus kembali ke Afrika Selatan menuju khatulistiwa.
rempah
rempah
beraroma nyawa
Pesta pora perusakan menjadi pola kehadiran pelayaran Belanda
Bersandar di Banten
menghajar kota dengan peluru meriam, disebabkan pribumi menaikkan harga rempah-rempah.
Di pelabuhan Sedayu pribumi Jawa di bunuh.
Di perairan dangkal Madura
Pedagang-pedagang menggunakan sampan dayung mendekat menawarkan hasil bumi.
Salah paham terjadi Belanda mengira terjadi pengepungan.
Terlanjur sejarah buruk mencatat, terjadi pembantaian biadab atas pedagang sampan dayung.
Portugis membaca sisa kiamat
Berangkat membawa 193 awak kapal
Pulang tersisa 25 orang.
Mati terserang desentri, tifoid ganasnya iklim tropis lautan Hindia Belanda runcing di depan mata.
Bentangan kematian memanjang
Tanpa tepi nestapa melukiskan bencana menghanyutkan nama-nama
rempah
rempah
beraroma bencana
Kotagede, 7 April 2026
Puisi ini hasil pemadatan dari novel setebal 687 halaman yang berjudul : Pulau Run karya Giles Milton, kelahiran 15 Januari 1966











