Oleh: Sunardi D. Suwito

Aku dikenal sebagai sosok yang usil dan menyebalkan. Banyak orang yang tidak suka padaku. Terlebih mereka yang pernah kukerjai. Padahal tujuanku hanyalah sebagai candaan tapi menurut mereka candaan yang kebablasan. Candaan yang berlebihan! Tak pantas untuk dimaafkan. Dasar aku orangnya cuek, segala penilaian yang sifatnya hal buruk tentangku tak kupedulikan. Prinsipku untuk menjalani hidup ini diperlukan adanya kejutan-kejutan. Agar hidup ini dinamis dan penuh dengan hal-hal yang menarik serta tidak menjemukan.

Masih membekas dalam ingatan tentang keusilanku yang membuat orang-orang marah dan gemas. Manakala di lapangan desa ada orkes dangdut menyambut peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat yang haus akan hiburan menyambutnya dengan antusias. Sarana hiburan gratis untuk melepaskan kepenatan dan kesulitan hidup yang mereka alami. Semua beban hidup maunya ingin dilepaskan dengan turut menyanyi dangdut sekeras-kerasnya dan berjoget ria tak kenal lelah. Padahal suaranya parau dan serba sumbang. Jogetannya pun asal gerak, tak beraturan dan tak sesuai irama. Anehnya, mereka tampak happy-happy saja.

Aku bosan. Perutku terasa mulas. Ingin berak! Aku undur diri, mlipir, menyisir minggir menuju pojokan lapangan desa. Memilih tempat yang tertutup oleh rimbunnya tanaman pagar. Tak lupa sengaja kusobek daun pisang sebagai penampung kotoran atau tai berak. Kotoran atau tai berak kumasukkan ke dalam kantung plastik. Setelah itu kutangkap banyak-banyak belalang sangit yang merubungi lampu penerangan.

Selanjutnya belalang-belalang itu aku masukkan ke kantung plastik yang berisi kotoran atau tai berak. Begitu sudah bercampur tai berak pun menemel pada sayap-sayap belalang sangit. Kemudian aku melepaskan belalang-belalang sangit itu di kerumunan orang-orang yang berjoget ria. Selang tak berapa lama terdengar umpatan-umpatan di sana-sini. Segala macam penghuni kebon Binatang terdengar. Bahkan asu atau anjing pun disebut pula.

Aku sudah menduga. Kejutan-kejutan seperti ini akan terjadi. Soalnya tai berak yang menempel di sayap-sayap belalang sangit kini telah berpindah menempel ke pakaian dan tubuh para penonton orkes dangdut itu. Baunya menyengat! Seperti bau kentut tapi herannya bau itu tak juga kunjung hilang-hilang. Mereka tidak menyadari bahwa tai berak telah menempel di tubuh-tubuh dan pakaian-pakaian sehingga selalu menyertai ke manapun mereka pergi. Aku tergelak terpingkal-pingkal saat mengingatnya.

Cerita yang lain menimpa sahabatku Udin. Sahabatku semasa kuliah dulu di Yogyakarta. Udin seorang aktivis mahasiswa yang konsens di bidang keagamaan. Sangat hitam-putih! Tak ada warna yang lain. Seolah dunia ini hanya ada dua hal; benar dan salah. Halal dan haram! Aku suka pada prinsipnya. Tapi, justru ini menjadi tantangan buatku. Andai ada peluang dan kesempatan aku ingin mengerjainya. Ingin membuat kejutan yang tak terduga. Kesempatan itupun muncul saat-saat genting menjelang ujian pendadaran skripsi tiba.

“Aku tidak siap ujian skripsi besok!” keluh Udin.
“Maksudmu?” tanyaku ingin tahu.
“Hingga sekarang aku belum bisa tidur. Takut dan grogi! Was-was, khawatir, jantung pun berdebar-debar.”
“Terus?”
“Aku butuh ketenangan dan keberanian. Katanya minum bir bisa membuat tenang dan memicu keberanian! Benarkah begitu?” ujar Udin berseloroh asal tanya.
“Tak ada salahnya mencoba!” pancingku.
“Bir itu rasanya seperti apa sih?”
“Pernah makan tape singkong?”
Udin mengangguk, mengiyakan!
“Pernah minum badek tape?”
“ Katanya seperti spiritus, kan? Baunya sengak, tapi rasanya lebih manis, membuat badan hangat dan panas di perut!”
“Ya, seperti itulah rasanya.”
“Tapi memabukkan?”
“Kalo minumnya banyak dan berlebihan. Apapun itu kalo berlebihan dampaknya tidak baik!”
“Kalau minumnya sedikit atau sedang-sedang saja, akan membuatmu lebih percaya diri. Pasti besok kamu akan lebih siap menghadapi ujian skripsi! Dan siap melakukan hal-hal yang selama ini kamu takutkan!”
“Contohnya?”
“Kalo selama ini kamu takut menyatakan cinta pada seorang gadis, aku jamin sehabis minum bir kamu pasti berani. Bisa jadi keberanianmu memuncak, bahkan langsung melamar gadis yang kamu cintai. Bukankah kamu anti pacaran? Langsung tembak dan lamar!”

Udin tersipu malu. Dalam hati aku tertawa tergelak-gelak. Zaman sekarang kok masih ada laki-laki seperti Udin. Laki-laki cupu! Inilah saatnya, aku akan mengerjai Udin dengan sebotol bir. Terkadang untuk menumbuhkan hal-hal baru sebagai sugesti, diperlukan sesuatu pemicunya. Dan untuk menumbuhkan sugesti keberanian Udin dalam menghadapi ujian skripsi aku menyodorinya sebotol bir.
*
“Hore…!” sorak Udin di keesokan harinya saat menemuiku. ”Busyeet saranmu ampuh! Berkat sebotol bir pemberianmu aku lulus ujian skripsi! Bombastisnya lagi aku berani melamar Sintia gadis yang kutaksir…”
“Hasilnya?” tanyaku terkejut.
“Alhamdulillah diterima!”

Kali ini aku yang dibuat terkejut. Soalnya, keberanian yang dipicu oleh barang haram, hasil yang diperolehnya justru disyukuri sesuai agama yang dianut dan dipeluknya. Seperti hal-hal yang sering dilakukan banyak orang, misalnya diterima sebagai ASN dengan cara menyogok, diterima sebagai polisi, tentara, jaksa, hakim dan apapun itu yang dilakukan dengan cara KKN, serta mendapatkan uang banyak karena korupsi atau melakukan hal-hal lain yang melanggar aturan baik agama maupun undang-undang justru disyukuri dengan menyelenggarakan syukuran.

Dengan cara mengundang banyak orang, tetangga kanan-kiri, depan-belakang, menghadirkan pemuka agama untuk melakukan do’a-do’a pujian kepada Tuhan atas keberhasilan yang diraihnya.

Ah, dunia sudah terbolak-balik. Orang tak bisa lagi membedakan mana kebaikan dan mana keburukan. Mana perilaku yang dibenarkan dan mana perilaku yang dilarang. Ujung-ujungnya tak ada bedanya mana sesuatu yang halal dan mana yang haram.
Tentang kelanjutan hidup Udin membuatku terpana. Sehabis lulus ujian skripsi dengan mudahnya Udin mendapatkan pekerjaan.

Semudah dirinya meminang dan mendapatkan seorang gadis bernama Sintia. Sangat berbeda denganku yang hingga kini kerjanya masih serabutan dan tetap menjadi bujang karatan. Jomblo abadi! Laki-laki yang belum laku-laku hingga kini. Tak ada seorang perempuan pun yang mau denganku.

Lantaran aku tak punya pekerjaan tetap sehingga membuatku banyak waktu luang. Kusempatkan untuk berkunjung ke rumah Udin. Tujuanku semata-mata kangen-kangenan dan ingin nanjihke seperti apa rupa wajah Sintia istri Udin. Soalnya saat pernikahannya Udin dulu aku tidak sempat menghadirinya. Ada kepentingan yang tak bisa kutinggalkan. Maka wajar kalau aku tak tahu seperti apa wajah Sintia istri Udin. Dan sesampai di rumah Udin suasana sepi. Pembantu rumah tangga menyilahkan aku masuk rumah dan menunggu di ruang tamu.

Sepi! Pandangan mataku mengitari seisi ruangan. Ada ratusan buku terpajang di lemari kaca. Seperti sebuah perpustakaan pribadi. Menandakan kalau pemilik rumah terpelajar dan seorang intelektual. Banyak buku-buku tebal dengan pengarang terkenal dari dalam dan luar negeri. Dalam berbagai ragam bahasa pula. Tapi ada satu koleksi yang terpajang di lemari khusus. Justru itu yang paling menarik perhatianku.

“Sebotol bir!” gumamku.
“Ya! Sebotol bir!” celetuk seorang perempuan yang menurutku sangat cantik. “Kenalkan saya Sintia. Istri Bang Udin! Anda siapa ya?”
“Mantri! Teman Udin semasa kuliah dulu!? kataku mengenalkan diri
“Oh, jadi anda to yang namanya Mantri!”
Tak ada basa-basi. Aku dilabrak dengan kata-kata pedas dan ketus.
“Betul! Aku Mantri!”
“Heeh, Mantri! Gara-gara kamu hidup Bang Udin jadi berantakan.”
“Berantakan gimana maksudnya? Bukankah Udin hidupnya sudah mapan. Jadi pejabat lagi…!?”
“Iya! Tapi hidupnya tidak bahagia. Hidupnya tidak tenang!”
“Kok aku yang disalahkan?”
“Karena Bang Udin cerita, kalo kamulah yang meracuni tubuhnya. Kamu yang mencekokinya dengan minuman keras. Minuman beralkohol! Minuman haram!. Tuh, sebotol bir yang sengaja Bang Udin simpan di lemari kaca sebagai koleksi kenangan buruk!”.

Tak kusangka Sintia istri Udin memungut sebotol bir itu dari lemari kaca. Kemudian disuguhkan padaku. Aku terkesima tak paham apa yang dimaui Sintia istri Udin.

“Minum…!” perintah Sintia istri Udin.
Aku bingung! Belum paham apa yang dimaui Sintia istri Udin.
“Ayo, minum! Sekarang aku yang akan mencekokimu dengan barang haram yang pernah kamu lakukan pada Bang Udin!”
Aku tak bisa menolak. Sebotol bir itu kuminum. Rasanya tidak seperti sebotol bir yang kuberikan pada Udin dulu. Serasa minuman badek tape! Bahkan selepas meminumnya Kepalaku jadi berputar. Pening! Aku mabuk.

Aneh! Dulu saat aku memberi minuman sebotol bir buat Udin tidak mungkin memabukan. Soalnya isi bir yang sesungguhnya telah kubuang dan kuminta pada penjual tape singkong untuk menggantinya dengan air badek hasil dari proses peragian. Aku tidak mungkin meracuni tubuh Udin sahabatku dengan minuman keras atau minuman haram. Apalagi aku tahu Udin seorang aktivis yang konsens di bidang keagamaan.

“Nah, rasain! Mabuk kan? Begitulah yang dilakukan oleh Bang Udin semenjak kamu mencekokinya dengan sebotol bir. Tiap hari mabuk hingga diakhir kematiannya…!”

Aku tergeragap mendengar Udin sahabatku telah mati. Kabar buruk! Bahkan diakhir hayatnya dalam keadaan mabuk. Ada keinginan untuk menjelaskan, bahwa sebotol bir yang kuberikan pada Udin hanyalah berisi air badek tape singkong. Tapi kenapa sebotol bir tinggalan Udin yang dicekokkan Sintia istri Udin padaku membuatku mabuk. Pasti ada rahasia di balik isi sebotol bir itu. Apalagi mabukku lain dari pada yang lain. Mabuk kepayang! Pada bekas stri Udin yang kini sudah jadi janda kembang.

Seperti janjiku pada Udin! Aku akan menjaga rahasia akibat dari isi sebotol bir itu. Aku bergumam! Mengigau seperti mimpi. Tiba-tiba kurasakan tubuh Sintia sudah ada dipelukankku. Ikut mabuk tak berdaya setelah ikut mencecap isi sebotol bir!

“Jaga rahasia!” bisik Sintia sambil menaruh telunjuk tangan di depan bibirnya.
Selepasnya aku melumatnya sampai habis! Tapi sayang rasanya tak ada tandas-tandasnya…

Piyungan, Agustus-Merdeka’ 26
To: Udin yang sudah jadi Kepala Sekolah


Biografi penulis :
Nama asli Sunardi, S.Pd., Nama karya Sunardi D. Suwito alumni JPBSI-FPBS IKIP Negeri Yogyakarta. Tulisannya pernah dimuat di koran lokal Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Cerpennya masuk antologi Embun Tajali diterbitkan oleh FKY Yogyakarta, Antologi “Tak Ada Ujung Yang Lain” diterbitkan oleh Yayasan Sumbu Sastra UGM, Antologi Puisi dan Cerpen; “Manifes Sulfur dan Jejak Karbon”, oleh Magister Sastra FIB-UGM, Juara I Lomba Cipta Cerpen HUT KOPISISA Purworejo ke-15, Karya buku 2 Kumpulan Cerpen: “Kerikil Padang Pasir dan Nujum Kiai Mujab” diterbitkan oleh Interlude-Yogyakarta.

Advertisement
Advertisement

Tinggalkan Komentar