(elegi buku dan pinsil)

Puisi Joko Pranoto

bagian : 2

ngada tersungkur
memunguti kepedihan
di antara pohon cengkeh dan perdu yang hampir layu

istana sedang apa?

barangkali sedang menyiapkan diksi :
“hanya satu dari dua ratus delapan puluh juta”

pekikan nestapa tak didengar
ibarat embun tertikam matahari
lenyap

bocah itu, mati tergantung
meninggalkan prasasti abadi
bertuliskan :
“kalian adalah negeri yang gagal”

seolah mengejek kita dengan anggun
ibarat berkata :
“bagaimana mungkin kalian tak mampu membelikan aku buku dan pinsil, sementara
kalian hamburkan trilyunan untuk pendosa”

sekarang,
buku tak lagi bisa ditulis
pinsil pun telah patah
istana menganggapnya biasa saja

Jogja, 4 Pebruari 2026
#edisiBELAJARMENULIS

Advertisement
Artikulli paraprakAngin dari Timur
Artikulli tjetërDemokrasi Sebagai Tata Kelola

Tinggalkan Komentar