Cerpen Ikhwan Hanafi
“Wahai diri, apa yang hendak kau cari di dunia yang fana ini? Apakah hanya kesemuan materi? Atau hanyalah ilusi yang tak bertepi?”
Sang surya bersinar begitu terik di atas kampus. Mirza dan para temannya keluar dari kelas. Kelegaan terpancar dari wajah mereka, seakan-akan beban yang dibawa sebelum memasukki perkuliahan hilang sudah. Selesai mata kuliah pertama, muda-mudi itu berlarian ke pelbagai penjuru, ada yang ke musala, kantin, ada pula yang memilih untuk berdiam diri di depan kelas.
“Mirza, Ryan, kalian nggak salat ya? Ih … laki-laki model apa nih,” cibir Salsa pada dua temannya yang memilih untuk pergi ke kantin dibanding ke masjid.
“Ampun, Bu ustazah! Nitip doa yaa Bu. Kami salat ya Bu,” jawab Ryan. Mirza merasa tertampar oleh kejujuran cewek yang belum lama ia kenal. Rasanya ia hadir menggantikan sang Ibu yang jauh di kampung kelahirannya. Salsa juga laksana Ibu Guru di masa Mirza mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ibu guru yang biasanya terlihat sabar dan santai jika hanya gurauan sederhana, akan berbeda ketika agama dipermainkan.
Segelas es kopi dan pelbagai macam camilan di depannya membawa Mirza berkontemplasi. Ia mulai membayangkan dirinya saat ini dengan ia di masa kecil. Ia merasa telah jauh berbeda, kini semua impian masa kecilnya yang serasa mustahil bisa terwujud, perlahan-lahan harapannya menjadi nyata. Namun, ketika hal yang ia dambakan semakin menemui klimaksnya, ia justru bertanya, apa yang mau dicari di dunia yang hanya semenjana?
Sepoi angin dari gunung Andong menyapa lima anak yang sedang bermain setelah menunaikan salat zuhur ini. Cuaca yang begitu bersahabat untuk mereka menikmati hari libur sekolah. Suasana pedesaan yang belum begitu dicemari oleh panasnya volusi udara yang tidak ramah untuk kesehatan tubuh. Saat mereka sedang bermain peperangan, tetiba Hidayat mempunyai ide untuk mendirikan gubug di kebun. Tak menunggu lama, mereka pun langsung bergegas ke kebun yang masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Setelah gubuk dari kayu dan karung sederhana itu berdiri dengan sempurna, Mirza dan para kawannya pun menikmati kesyahduan di sekitar kebun. Suara-suara binatang, hijau daun yang terhampar luas, wewangian kopi, dan harumnya buahbuahan yang terdapat di situ kian menyempurnakan hari mereka. Kedekatan lima sahabat ini memanglah luar biasa. Mmeskipun dari latar keluarga yang mempunyai jenjang pendidikan serta ekonomi yang tak sama, namun mereka tetap bisa berbaur, baik di saat mengaji, bermain di kebun maupun halaman rumah, bermain sepak bola, dan kegiatan lainnya. Mirza pun mendapatkan perlakuan yang sama dari teman-temannya.
“Eh, tadi kayaknya ada singkong di dekat pohon mangga itu, ya? Gimana kalau kita bakar saja. Ini sudah mulai sore dan dingin, kayaknya nggak lama lagi hujan juga turun, bakar singkong kayaknya enak nih,” ucapan Irul yang disetujui oleh para teman-temannya.
“Nanti kalau ketahuan sama Mbah Maksum bagaimana? Masak kita ambil tanpa izin?” ucap Mirza.
“Aman. Ini sudah sore. Tenang saja,” jawab Hidayat dengan yakin.
Keyakinannya tak terbukti. Saat mereka asyik menikmati hasil curian, tetiba pemilik kebun datang dengan membawa kayu dan tampang yang sangat menyeramkan untuk anak seusia Mirza dan kawan-kawannya.
“Terima kasih ya, cah bagus … sudah dibantu untuk menghabiskan singkong Mbahmu ini. Nggak apa-apa kok, namun kalau kalian mau bilang lebih dulu malah tak temani makan. Mungkin saja jika cucu Mbah tidak dipanggil oleh Gusti Allah, usianya sepantaran dengan kalian ,” ujar Kakek itu dengan sendu.
Kelima bocah itu hanya terduduk dan salah tingkah. Tanpa komando, mereka berhambur mencium tangan Kakek yang disegani oleh seluruh masyarakat di dusun.
Setelah waktu menunjukkan pukul empat sore, kelima anak ini pulang untuk bersiap-siap mengikuti ngaji sore di tempat Ustazah Sya’diyah. Keseruan mereka akan berganti di tempat yang lain. Ketika TPQ sore hari inilah, Mirza akan belajar untuk menghafalkan surah Al-Quran dengan bimbingan salah satu hamilul Quran di desanya, saat-saat terindah yang akan ia kenang sepanjan hidup.
Minggu demi minggu berlallu membentuk bulan, bulan pun berganti tahun. Kebahagiaan Mirza mulai menghilang. Kedewasaan yang mulai tumbuh beriringan dengan kegundahan dari dalam jiwa. Ketika teman sepermainannya mulai menemukan pelabuhan guna mencerdaskan diri dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren, Mirza justru bimbang dengan dirinya. Ia semakin menyadari dengan perbedaan yang Tuhan anugerahkan pada dirinya. Ketika kawan-kawannya bisa bermain seenak hati, Mirza akan mengurung diri di rumah.
“Tuhan, akan kemana kaki ini melangkah untuk menuai ilmu-Mu? Hamba sadar dengan kondisi ini … rasanya mustahil bisa mengenyam pendidikan tinggi layaknya teman-teman. Namun, bukankah Engkau telah berjanji di dalam ayat suci-Mu, bahwa manusia akan diangkat derajatnya melalui ilmu? Tuhan, … adakah jalan untuk hamba ini menagih janji-Mu?”
Malam-malam yang bagi kawan-kawannya nyaman dinikmati dengan canda gurau tak berlaku bagi Mirza. Baginya malam yang terlampaui hanya berisi kesedihan yang entah kapan akan berakhir. Jiwanya yang sudah menginjak remaja semakin merasakan adanya tembok penghalang antara ia dan para sahabat. Ia marah … namun tak ada jalan lain kecuali hanya berserah kepada Sang Pencerah.
Selepas magrib itu, Mirza menyimak acara radio kegemarannya. Lagu “Kuasa-Mu” mengalun syahdu. Suara emas dari sang penyanyi seakan seirama dengan suara hati Mirza. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia merasakan gejolak batin yang tak terperi. Mirza hanya berharap, Sang Maha Cahaya akan menghadirkan dian dalam perjalanan hidupnya.
“ … Tuhan … jangan biarkan hatiku mengeluh … meragukan Rahman-Mu…”
Kepasrahan Mirza itu beriringan dengan ibadah yang secara kuantitas melebihi anak seusianya. Doa tersebut selalu ia iringi dengan ilmu yang telah ia dapatkan dari pembimbing jiwa. Hingga akhirnya hijrah ke luar kota menjadi jawaban atas doa yang telah ia lantunkan setiap hari.
“Hayo!” tepukan di pundak dan teriakan Salsa menyadarkan Mirza dari nostalgia masa kecilnya. Ia pun berjalan gontai ke arah kelas. Masa lalu memanglah mengasyikkan untuk dikenang. Ia ingat dengan salah satu lirik lagu dari grup band rock yang berjudul “Foto Kusam”.
Setelah malam menyapa, Mirza kembali mengingat teramat jauh perbedaan yang telah ia alami dari pengembaraannya dalam menempuh pendidikan. Keimanannya pun mengalami fluktuasi. Tak jarang ia akan kembali dekat dengan kebiasaannya semasa kecil melalui ngaji, salat berjama’ah tepat waktu, tilawah AlQuran, dan amal salih lainnya. Namun tatkala spiritualitasnya berada di bawah, ia akan abai dengan kebiasaannya, hal yang tak pernah terlintas di masa lalu, ketika ia merayu Tuhan setiap waktu. Ia pun berteriak di dalam hati. Meratapi nasib sendiri. Menyesali dengan kejahilannya sendiri.
“Wahai diri … apa yang hendak kau cari di dunia yang fana ini? Apakah hanya kesemuan materi? Atau hanyalah ilusi yang tak bertepi? Jika memang itu yang kau cari, berartikah untuk keabadianmu nanti? Bukankah Mirza semasa kecil, di hadapan-Nya akan lebih mulia dibanding saat ini? Sadarlah, wahai diri … kembalilah pada Sang Cahaya hati.”
Karangmalang, 15 Juni 2025.











