
Oleh: Aprinus Salam
Sangat membagongkan bicara tentang kiprah BEM UGM, di tengah gejolak dunia yang semakin semrawut dan runyam. Ketika bom-bom meledak.
Tapi, begitulah, Kak. Satu-satu harus tetap kita bicarakan dan kita urai. Tentu dengan kesabaran, sambil tetap waspada, mana tahu ada aparat yang nyasar.
Setelah 1998, karena dongeng sukses yang hebat, adik-adik mahasiswa dibuai untuk menjadi maharakyat. Kini sebagian dari pendongeng adalah pejabat tinggi, broker politik, tukang tadah, dan bangga dalam kriminalisasi politiknya.
Mahasiswa generasi setelah 1998 dibuat nyaman dalam kesibukannya. Mendapat pelajaran sejarah yang pongah, beringsut dari satu kelas ke ghibah yang lain, bergerak santai menikmati kopi dan buku-buku yang riuh, dalam zaman yang mendigital.
BEM UGM belajar tertatih, di antara ketakutan dan desakan keberanian. Di antara begitu banyak pemikiran jadul yang Kakak sodorkan. Di antara begitu banyak kerakusan yang mencengkram.
Tapi, begitulah, Kak. Dalam keraguan dan keterbatasan yang menerpa, BEM UGM bersuara. Mungkin karena terpaksa. Mungkin ada jaringan besar yang mengonsolidasikan. Mungkin ada sedikit kemurnian. Semua serba mungkin, Kak.
Dalam serba mungkin itu, Kakak mengadilinya dengan dalil-dalil usang. Bagaimana dulu Soekarno, Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, dan entah siapa lagi nama-nama besar yang kau sebut untuk melindungi argumenmu. Seolah argumen bisa berlaku dalam setiap zaman yang berbeda.
Bukan berarti BEM UGM tidak tahu bahwa dia mengambil resiko menjadi tumbal. Bukan saja sebagai bentuk pengorbanan diri. Dia juga akan menjadi samsak yang dipukuli sebagai latihan intelektualitas, nggaya, hingga citra diri yang tak pernah mengaku bertuan.
Hallo, Kakak, ini bukan zamanmu. Biarlah dia tetap bersuara dalam posisinya sebagai maharakyat. Kalau dia tidak bersuara, siapa yang akan bersuara, jika suaramu telah kau gadaikan atas nama kearifan dan kematangan.
Sebagai tumbal, BEM UGM terjun dalam ujian kenyataan. Akankah berhasil atau gagal. Mungkin gagal, Kakak. Kehidupan kita begitu takut akan kebenaran. Akan banyak yang bertahan dalam kenyamanan yang gelap, dan kegelapan yang membuat nyaman kekuasaan.
Begitulah, Kak. Perlu ada yang mengorbankan dirinya sebagai tumbal. Atau, kalau mau berbesar hati sedikit, katakanlah sebagai martir.
Sebagai martir, dia tidak perlu hebat, tidak perlu jenius, tidak perlu seolah menguasai begitu banyak dalil-dalil yang, pada masanya, memang keren.
Yang dibutuhkan martir adalah kejujuran, mungkin sedikit keberanian, dan siap salah.
Setiap zaman seperti perlu ada tumbal. Atau kalau Kakak mau sedikit ikhlas, perlu ada martir-martir yang mungkin ada yang merasa terbela, mungkin ada yang terganggu.
Yogya, 1 Maret 2026.











