Puisi: Akbar AP

“Pusing kepalaku, riuh pikiranku, tolong jangan berisik!”
Gumaman demikian akankah kita temukan ketika senja di Teheran disaput malam berbau mesiu?
Kata-kata keluhan begitu dapatkah kita jumpai dalam belukar politik meja bangsa-bangsa yang terik memperdebatkan ragam pandangan yang berbeda menuju?Atau mungkin kalimat-kalimat manusiawi itu justru kita sapa dalam setiap gubuk pinggiran kota yang lusuh dimakan waktu.

“Pusing kepalaku, riuh pikiranku, tolong jangan berisik!”
Keluhan itu juga dewan-dewan rayakan sebagai bukti ketidakmampuan diri mereka menelaah berupa-rupa perundang-undangan.
Sabanhari barangkali kita mengucapkannya pula untuk unjuk rasa ketidaknyamanan dampak mentahnya kenyataan demi kenyataan di sekitaran.
Bisa jua kita hadirkan dalam percakapan-percakapan warung kopi berasap rokok pemikiran dan perasaan kegelisahan setiap diri.

Kendatipun rindu menjelma sebuah nostalgia, kenangan memang sudah ditakdirkan menetap dan menua.
Demikian kemasyhuran bermasyarakat, kesejahteraan jabatan, dan luasnya jejaring kenalan.
Ketiganya akan pergi dalam istilah resmi pensiunan.
Meninggalkan sunyi yang berduri merayapi hati si empunya diri.

Sebaik cara adalah simpan dalamberlembar-lembar catatan!
Setiap perjalanan, setiap persinggahan.
Nama bisa jadi pada akhirnya ditanggalkan di misan-misan yang memucat dinaungi rimbun kamboja.
Namun, lembaran-lembaran itu akan dihidupkan oleh zaman yang mencarinya nanti.

Bantul, 24 Maret 2026

Advertisement
Artikulli paraprakMBG (Makanan Bergizi Gratis): Antara Proyek Ambisius dan Kegagalan Komunikasi Politik

Tinggalkan Komentar