
Oleh: Hendrajit, pengkaji geopolitik dan wartawan freelance.
Dua inspirator intelektual saya sejak 1980an, sudah berpulang ke Rahmatullah. Bang Arbi Sanit beberapa tahun berselang. Mas Juwono Sudarsono, yang membuat saya ngeblank beberapa saat, Sabtu kemarin, 28 Maret 2026.
Meski sudah lama saya dengar kabar mas Juwono kondisi kesehatannya menurun, namun tak urung berita wafatnya mantan Rektor UI dan Menteri Pertahanan era Presiden SBY ini menbuat saya terhenyak dan terpekur beberapa saat.
Jauh sebelum menjadi mahasiswa pada 1984, Juwono Sudarsono sudah menarik perhatian dan kemudian, menjadi jadi idola saya, ketika menyimak pernyataan pernyataan singkatnya di harian Kompas terkait isu isu internasional dan politik dalam negeri. Dari situlah baru saya tahu ”oww ini to” yang namanya pakar Ilmu Sosial-Politik.
Jadi tak berlebihan kalau mas Juwono lah yang secara tak langsung memantik minat awal saya sejak masih SMA ke studi politik dan hubungan internasional. Utamanya hubungan internasional, politik internasional dan ekonomi-politik luar negeri.
Ketika era kemahasiswaan saya, jalinan kontak saya dengan Mas Ju makin intens. Terutama sejak saya aktif di Indonesian Student Association for International Studies atau ISAFIS. Dan belakangan sejak jadi wartawan di Tabloid Detik awal 1990an.
Baik waktu tatap muka ngobrol ataupun saat menyampaikan kuliah maupun menyampaikan presentasi saat seminar, saya terkesima pada kedalaman wawasan dan penguasaan seluk-beluk masalah luar negeri yang disampaikan secara menarik namun mudah dicerna dan renyah.
Penuturannya dalam perkuliahan yang seperti orang sedang berkisah atau mendongeng, seringkali saya dan teman-teman larut pada penyampaiannya, baru kemudian nyadar “waduh tadi beliau pakai kerangka teori apa ya dalam mengupas subyek tersebut.”
Namun itulah ciri khas dan kekuatan mas Juwono, mampu memantik minat para mahasiswanya untuk lebih mendalami bahan bacaan atau referensi-referensi lainnya.
Padahal, dalam perkuliahan yang ia sampaikan tidak pernah memaksa mahasiswanya baca buku ini atau baca buku itu. Justru gaya penyajian dan penyampaiannya itulah yang mendorong mahasiswanya malah jadi pro aktif dan mendalami satu isu secara lebih mendalam lewat buku buku atau referensi lainnya.
Dalam urusan nilai ujian pun Juwono termasuk murah hati. Bahkan ada joke, kalau sampai Juwono ngasih nilai C, berarti itu orang sudah parah banget. Entah parah malesnya atau jarang masuk kuliah alias bandel.
Meskipun mas Juwono sejak mahasiswa tidak pernah aktif dalam pergerakan mahasiswa, namun atmosfer pergerakan bukan hal asing bagi dirinya. Ayahandanya sendiri, Dokter Sudarsono, merupakan salah seorang perintis kemedekaan dan salah seorang pendukung garis politik Sutan Sjahrir. Juwono juga akrab dengan kalangan pers mahasiswa karena ia juga aktif di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia.
Ketika awal 1990an saya awal nyemplung ke jurnalisme dan sering bertemu untuk wawancara atau diskusi lepas, sambil salaman tersenyum lebar “wah, wartawan nih sekarang. Kamu harus sering sering ngobrol sama om Rosihan Anwar.” Nama yang ia sebut ini di era 1990an termasuk wartawan tiga zaman dan saksi sejarah.
Selain itu komentar sekilasnya juga bikin semangat dan membesarkan hati. “Wartawan itu seorang spesialis tapi supaya jurnalisme itu bernyawa kamu harus jadi generalis. Kamu harus tahu banyak hal meski tidak mendalam.” Waktu itu saya belum mencerna betul makna ucapan mas Ju. Namun seiring pengalaman 17 tahun di jurnalisme, pemahaman saya malah lebih dari itu. Dan ini yang kelak saya turunkan ke yang muda-muda. Kalau kamu punya minat ke beberapa bidang sekaligus tapi harus jadi spesialis, nah jurnalisme lah tempatnya.
Pas mas Juwono Menhan era SBY, pada 2005 Kemenhan menggelar workshop ihwal Alutsista. Saya yang kebetulan waktu itu pengkaji pertahanan di LPSI dan research associate di LP3ES, diminta jadi moderator.
Ketika melihat saya kontan ia menyalami, sama hangatnya waktu saya temui saat mahasiswa dulu. “Nah benar kan. Kamu memang spesialis yang generalis.”
Begitulah sekelumit kisah mentor intelektual saya, Juwono Sudarsono, di dalamnya terkandung sebuah pesan bahwa seorang dosen harus juga dijiwai oleh etos keguruan, bukan cuma pengajar. Sehingga para muridnya akan mengenang dirinya bukan saja pada apa yang diajarkan lewat perkuliahan, melainkan juga sosok kepribadiannya dalam menyengatkan ilmunya kepada murid-muridnya. Benarlah ungkapan bijak: Pendidikan adalah perkara menyalakan api, bukan mengisi air di ember.
Lewat kepribadian dan gaya perkuliahan Juwono Sudarsono, saya seakan disengat untuk menyadari, bahwa ilmu bukan sekadar analisa bedah realitas, tapi harus mendorong munculnya imajinasi dan fantasi kreatif agar kita lewat ilmu yang dikuasai mampu menjadi pemecah masalah/problem solver.
Etos keguruan yang melekat pada pribadi sang dosen/pengajar seperti Juwono Sudarsono, nampaknya yang sepertinya mulai sirna saat ini. Semoga saja kekhawatiran saya ini terlampau berlebihan.
Selamat jalan mas Ju, yang amat sangat terpelajar. Semoga kiprahmu akan jadi wasilah untuk mendapatkan yang terbaik di Sisi-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.










