
Puisi Anto Narasoma
1)
begitu hitam cuaca malam –ketika ayat-ayat cinta menghambakan kesucian-Mu dalam pancaran cahaya malam nuzulul Quran
lalu,
lantunan Al-Quran membuka miliaran cahaya yang berkelindan antara merah, biru, dan putih
aku seperti debu
ke dalam unsur darah yang memompa kehidupan –dalam ketidakberdayaan sendiri
dalam penantian malam-Mu,
pikiranku melangkah dari kisah ke kisah
yang menjadi dasar pada lapisan sejarah ketika melihat siapa diriku sendiri
* aku seperti belajar
kepada waktu; di
antara ada sebelum
ada
dari tiap lembaran ayat-ayat suci-Nya yang padat kisah –menuturkan penjelasan baik buruk perilaku di dinding kamarku
sebab,
cermin kaca itulah
yang bercerita antara zaman-zaman kebaikan di dalam jiwa asyiah binti muzahim
kesejukan itulah
berkisah dari hati terdalam yang paling memancarkan kesucian hatinya
sebab,
ruang istana paling kejam, angkuh, dan sombong, _septictank_ itu pun terpancang pada hati firaun –sebusuk bangkai tikus
2)
asyiah binti muhazim, begitu cantik ketika ayat-ayat yang kau baca dalam perilaku, menjadi melati seputih kejujuran yang tiba pada malam nuzulul Quran
ketakwaan apa yang kau doakan dari ruang-ruang keangkuhan istana yang begitu sombong ?
o, asyiah,
dari kedalaman
sungai nil yang menyejukkan kisah nabi musa pada abad-abad perjuangan iman dan takwa, cermin kaca pun menghadirkan bayang-bayang kisahmu
maka,
di atas panggung politik itulah orang-orang istana hanya seberkas tai upil dalam catatan ramses II
maka,
pada sebatang tongkat yang mencatat skenario akal budimu –asyiah, musa pun menghantam kesombongan dinding istana masa lalu
Palembang, 12 Maret 2026











