Cerpen Absurd
Gus Nas Jogja


“Penyair tidak menulis di atas kertas; ia menulis di atas kulit dunia yang terkelupas.”


Aku terbangun dengan rasa lapar yang menggerogoti ulu hati, seperti rayap yang berpesta di atas naskah drama usang. Sial. Terakhir kali aku makan adalah… tiga hari yang lalu? Atau mungkin lima? Waktu tidak terlalu relevan ketika perutmu lebih bising daripada sirine serangan udara.

Dan bicara tentang serangan udara, suara itu—lengkingan parau yang merobek langit—bukanlah halusinasi kelaparan. Itu nyata. Dan itu dekat. Sangat dekat.

Aku merosot ke lantai beton yang dingin, mencoba menstabilkan napas. Di sekelilingku, kegelapan Markas Besar Garda Revolusi Iran di Teheran menyelimuti, seperti jubah besar yang dipenuhi lubang-lubang rahasia. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Kemarin aku masih di gang sempit di Jakarta, mencoba menukar sebait puisi untuk sepiring gulai kambing yang gagal kudapatkan. Dan sekarang… Teheran? Garda Revolusi? Ini lebih absurd daripada plot novel fiksi ilmiah kelas dua.

Tapi kelaparan ini, kelaparan ini sungguh nyata. Ia bukan sekadar kurangnya kalori; ia adalah entitas purba yang menuntut persembahan. Dan aku, Sang Penyair Lapar, adalah imamnya.

“Penyair tidak menulis di atas kertas; ia menulis di atas kulit dunia yang terkelupas. Tautologi antara penderitaan subjek dan objek runtuh di sini. Aku adalah pohon yang tumbang, dan darahku adalah getah yang mengering sebelum sempat menjadi doa.”

Kata-kata itu terngiang di kepalaku, seperti kutipan dari kehidupan lampau yang lupa kukembalikan. Kulit dunia yang terkelupas… itu mungkin saja kulitku sendiri sekarang. Aku bisa merasakan bagaimana setiap inci tubuhku, setiap sel, setiap atom, perlahan-lahan menguap, meninggalkan hanya kerangka makna yang hampa.

Aku mulai berjalan, meraba-raba dinding beton yang lembab. Koridor demi koridor melilit seperti usus naga yang terluka. Aku melewati ruangan-ruangan yang dipenuhi dengan peta-peta militer, monitor yang berkedip-kedip, dan bayangan-bayangan tentara yang bergerak kaku seperti boneka yang tali-talinya putus.

Dan kemudian, aku melihatnya. Sebuah cahaya remang-remang dari sebuah ruangan di ujung koridor. Aku melangkah pelan, seperti pencuri yang mencoba mencuri waktu. Di dalam, duduklah seorang pria tua dengan jubah hitam dan serban putih. Wajahnya keras dan bijaksana, seperti pahatan batu yang telah bertahan berabad-abad.

Ali Khamenei

Aku tertegun. Pria yang kutonton di berita, yang fotonya terpampang di spanduk-spanduk besar di seluruh kota, sekarang duduk di hadapanku, di tengah-tengah kekacauan ini.

Dia menatapku dengan mata yang jernih, seperti air di sumur tua yang tidak pernah kering. “Penyair,” katanya, suaranya pelan tapi bergema seperti guntur di kejauhan. “Apa yang kaubawa untukku?”

Aku menelan ludah. Apa yang kubawa? Aku hanya membawa kelaparan dan sebuah buku catatan yang sudah penuh dengan coretan yang tidak jelas.

“Darah juang itu adalah ketika kau menulis tentang mawar, namun tanganmu yang berdarah karena durinya bukan lagi milikmu, melainkan milik waktu yang sedang memarut keindahan.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, seperti air yang meluap dari bendungan yang retak. Aku tidak tahu apa artinya, tapi itu terasa… benar.

Khamenei menatapku, tatapannya tidak terbaca. Dia mengangkat tangannya, dan seorang prajurit muncul dari kegelapan, membawakanku sepiring makanan. Gulai kambing. Aroma kambing yang kuat dan bumbu-bumbu yang kaya memenuhi ruangan, membuat perutku menjerit-jerit kegirangan.

Aku makan dengan rakus, tidak peduli dengan etiket atau pandangan orang-orang di sekelilingku. Setiap suapan adalah sebuah kemenangan, sebuah perlawanan terhadap ketiadaan.

Setelah selesai makan, aku menatap Khamenei kembali. “Terima kasih,” kataku, suaranya parau karena kekenyangan.

Dia tersenyum tipis. “Penyair,” katanya. “Kelaparanmu adalah kekuatanmu. Ia mendorongmu untuk mencari makna di tengah-tengah kekacauan. Ia mendorongmu untuk menulis dengan darahmu sendiri.”

Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sebuah jendela besar yang menghadap ke kota Teheran. Di luar, kota itu terbakar, seperti mawar merah yang mekar di tengah-tengah reruntuhan.

“Biarkan darah ini mengalir menjadi tinta, dan biarkan tinta ini meresap ke dalam pori-pori tanah. Agar suatu hari nanti, dari kuburanku, tumbuh seuntai sajak hijau yang akan dibaca oleh angin, menceritakan bahwa di sini pernah ada seorang manusia yang menolak untuk membiarkan semesta menjadi sunyi tanpa cinta.”

Aku mengangguk. Aku mengerti sekarang. Darah juang penyair bukanlah tentang memenangkan perang atau mencapai kekuasaan. Ini tentang perlawanan terhadap ketiadaan makna, tentang pencarian keindahan di tengah-tengah kekacauan, tentang penolakan untuk membiarkan semesta menjadi sunyi tanpa cinta.

Aku mengambil buku catatanku dan mulai menulis. Pena itu terasa berat di tanganku, seperti pedang yang siap untuk dihunus. Tapi aku tidak takut. Aku punya darah juangku sendiri. Dan aku akan menulis.

Advertisement
Artikulli paraprakSang Penjaga Marwah: Mengenang Pengabdian Tak Bertepi Jenderal Try Sutrisno
Artikulli tjetërBuka Puasa Bersama HIMA DIY

Tinggalkan Komentar