Yogyakarta, Kansnews.com – Dua penyair Yogya, yang aktif menulis sejak Persada Studi Klub (PSK) asuhan penyair Umbu Landu Paranggi, tahun 1970-an, akan tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 174. Dua penyair itu, Sutirman Eka Ardhana (74 tahun), dan Marjuddin Suaeb (72 tahun).

Keduanya akan meluncurkan buku puisi karya masing-masing. Sutirman Eka Ardhana bukunya berjudul ‘Amuk Kenang’ berisi 74 puisi sesuai usianya, dan Marjuddin Suaeb bukunya berjudul ‘Tapa Pendhem’ berisi 72 puisi, sesuai umurnya. Selain dibacakan oleh penyairnya sendiri, puisi akan dibacakan oleh pembaca lain.

Kedua buku tersebut akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, Sabtu 14 Maret 2026, pkl 15.30 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224. Atau di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau juga sebelah selatan ban-ban Gondolayu.

Puisi karya Sutirman Eka Ardhana akan dibacakan Oka Swastika Mahendra, Anastasia, Muhammad Sheva Athaya, Noviyanti Alfitri. Puisi Marjuddin Suaeb akan dibacakan Krishna Miharja, Dwi Winarno, Ray Sawit, Fathia Sari Buana Jajayanti dan Tari Sudhiarto. Hadir juga pembaca tamu, Prof.Dr. Tuntas Subagyo, film maker.

Selain dibacakan, Joshua Igho, akan menggarap puisi Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Sueab, masing-masing satu puisi menjadi lagu. Sebagai selingan, Bimo Wiwohatmo, koreografer, akan melantunkan satu lagu puisi karya (alm) Remy Sylado.

Sutirman Eka Ardhana kelahiran Bengkalis, Riau, merasa masalalu di tanah kelahiran, terus memburu, seperti tak mau lepas dari ingatan. Berbagai macam kenangan, termasuk kenangan tinggal di Kebumen dan Yogya, terus mengisi ingatannya.

“Saya seperti diamuk oleh kenangan masalalu saya, di tanah kelahiran maupun kampung halaman yang pernah saya tinggali. Kenangan jalan hidupnya seperti terus memburunya,” kata Sutirman Eka Ardhana.

Sedang Marjuddin Suaeb, yang lahir dan tinggal di Pengasih, Kulonprogo, bukunya berjudul ‘Tapa Pendhem’, selain hidupnya selalu menjalani puasa setiap hari. Dia juga mengambil jalan sepi: beberapa tahun merawat hidupnya yang sudah tua, dan tidak bisa melakukan aktivitas. Proses merawat ibunya itu ia renungkan sebagai menjalani tapa pendhem.

“Macam-macam jenis puasa saya lakukan, bukan untuk mencari kesaktian, lebih untuk melatih batin saya agar bisa semeleh dalam menjalani hidup,” kata Marjuddin.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb, dua penyair Persada Studi Klubu, dari banyak penyair pada masa itu, sampai sekarang masih terus menulis puisi. Teman seangkatan di Persada Stud Klub di antaranya Emha Ainun Najib, Fauzi Absal, (alm) Linus Suryadi AG dan sejumlah nama lain.

“Marjuddin hanya suntuk dengan puisi, tidak menulis yang lain. Sutirman Eka Ardhana, selain puisi, juga menulis cerpen dan novel. Eka juga aktif sebagai jurnalis. Sastra dan kerja jurnalistik dilakukan secara bersamaan, dan di era digital ini, Eka terus menulis karya sastra,” ujar Ons Untoro. (*)

Advertisement
Artikulli paraprakO, Pak Ketua
Artikulli tjetërMiliterisasi AI

Tinggalkan Komentar