Puisi: Sulaiman Juned
kemerdekaan adalah
ketika kita bebas berbicara
tentang hak yang berhak
ketika kita bebas dari pasungan
tidak sembunyi dari ketiak Ibu
dan lari dalam ketiak bapak.
kita sekarang mengeja kemerdekaan
dengan gedung mewah menyundul langit
bersama perempuan-perempuan di panti pijat perekonomian melarat, kemiskinan sekarat. Kita sekarang membaca kemerdekaan dengan luka. Darah dan laras senapan–menyerahkan ini punya nyawa–memberikan ini punya harta
(Kita belum mampu mengartikan malam).
Ibu, aku menyaksikan air mata darah tertumpah pada dada memerah. Aku menyaksikan para badut menggenggam niat busuk–melakonkan pesta canda mengobral gelisah. Segala perencanaan tersangkut di kantong jas sapari kolam susu negeriku terkuras habis–membuat istana pribadi sambil menghitung kekayaan hasil korupsi–naik haji pun hasil
Kolusi–memperbanyak isteri hasil manipulasi; Ibu, berpuluh-puluh tahun kupahat namamu
pada air mengalir
pada batu membeku
pada hati membeku
dan ombak senantiasa menghapusnya.
Ibu, subuh berkabut tersangkut di pucuk rambut ada luka teramat menyiksa tak teraba. Bunga-bunga bangsa berkunang air matanya–terpaksa diyatimkan. Kekuasaan
bermata gelap dalam memaknai keadilan dan akal sehat; mengapa ledakan peluru menghukumnya kuburan dijadikan penjara seumur hidup.
Inilah kesaksian seorang penyair kecil
Kesaksian peradaban menuntun perubahan.
(Indonesia, dari sudut mana wajahmu kupandanga tak jemu)
Ah!
-Aceh, 1989-
#dikutip dari antologi puisi Sulaiman Juned “RIWAYAT”
Advertisement