Cerpen Absurd
Gus Nas


Utrecht sedang murung. Langit di atas Oudegracht tampak seperti bubur gandum yang basi, abu-abu dan lengket. Aku, Sang Penyair Mbeling, duduk di sebuah kafe tepi kanal, menyesap Koffie Verkeerd yang rasanya lebih mirip air cucian sejarah. Di hadapanku, sekumpulan Diaspora Indonesia berkumpul dengan wajah yang melar seperti keju Gouda yang dipanaskan.

Mereka tidak sedang bicara tentang cuaca. Mereka bicara tentang Tyas.

“Kacang lupa kulitnya!” seru seorang pria berkacamata yang sudah sepuluh tahun meneliti struktur molekul debu di Belanda. “Dia menghina negara, padahal sekolahnya dibiayai keringat tukang bakso yang bayar pajak!”

Aku menyalakan kretek. Asapnya mengepul, membentuk siluet Garuda yang sedang split karena bingung mau hinggap di mana.

“Kenapa kalian marah?” tanyaku enteng. “Bukankah kulit kacang memang seharusnya ditinggalkan kalau kita mau makan isinya? Siapa yang mau mengunyah kulit yang keras dan penuh tanah?”

Meja hening. Seekor burung bebek di kanal tiba-tiba menyalak seperti anjing penjaga gerbang neraka. Absurditas mulai merayap di sela-sela ubin kafe.

Tiba-tiba, dari dalam cangkir kopiku, muncul sesosok makhluk kecil. Ia adalah sebutir kacang tanah yang memakai toga LPDP, tapi ia telanjang bulat. Kulitnya—sebuah jubah cokelat yang keriput—tergeletak di piring kue, terisak-isak kecil.

“Tyas bilang aku bau tanah,” isak si Kulit Kacang. “Padahal aku yang melindunginya dari gesekan aspal dunia. Aku yang membungkusnya saat ia masih berupa janin cita-cita.”

“Jangan cengeng,” kata si Kacang Toga sambil sibuk memoles paspor Inggris-nya yang bersinar seperti lampu disko. “Di sini, di Utrecht, aku adalah Polished Peanut. Aku bukan lagi kacang tanah becek dari Jakarta. Aku adalah subjek global! Aku adalah algoritma yang melampaui batas teritorial!”

Para diaspora di sekelilingku mulai berubah. Kulit mereka mulai retak dan mengelupas, menampakkan isi yang berwarna-warni: ada yang isinya cokelat Belgia, ada yang isinya tulip plastik, ada yang isinya formulir tunjangan pengangguran Uni Eropa.

“Aku bukan lagi WNI!” teriak salah satu dari mereka sambil mencoba melepaskan kulit sawo matangnya. Tapi anehnya, di bawah kulit itu, masih ada tulisan merah besar: DIBIAYAI NEGARA.

Tiba-tiba, air kanal Oudegracht berhenti mengalir. Air itu naik ke daratan, membeku menjadi sebuah podium kristal. Di atasnya, muncul sesosok bayangan raksasa yang menyerupai Menteri Keuangan. Suaranya menggelegar seperti palu hakim yang menghantam meja semesta.

“Siapa yang menghina rahim tempat ia dilahirkan?” tanya sang Bayangan.

Si Influencer muncul dari balik kabut, memegang ponsel yang layarnya retak. Di belakangnya, suaminya tampak seperti angka-angka utang yang berjalan lemas, mencoba menghitung bunga beasiswa menggunakan sempoa yang terbuat dari tulang rusuk.

“Aku hanya jujur!” teriak si Influencer. “Negara adalah rasa kecewa yang dilembagakan! Anakku harus menghirup udara yang tidak mengandung jelaga korupsi!”

Bayangan Menkeu menjentikkan jari. Seketika, atmosfer berubah menjadi Blacklist Raksasa. Sebuah tinta hitam tumpah dari langit, menghapus wajah sang Influencer dari peta ingatan instansi. Ia menjadi transparan. Ia ada, tapi dianggap tidak ada. Sebuah hukuman smart yang paling kejam: Menjadi hantu di negeri sendiri, dan menjadi asing di negeri orang.

Aku tertawa. Tawaku memantul di dinding-dinding kastil tua Utrecht.

“Kalian semua salah!” teriakku pada para diaspora yang kini sibuk menjahit kembali kulit mereka yang terlanjur robek karena takut di-blacklist.

“Kacang lupa kulitnya itu bukan dosa moral, itu kegagalan biologis! Tyas lupa bahwa tanpa kulit, ia akan busuk dimakan jamur eksistensi. Ia mengira paspor adalah kulit baru, padahal paspor hanyalah stiker di atas kehampaan.”

Aku menoleh pada si Kacang Toga yang kini mulai layu karena suasananya terlalu dingin.

“Kau ingin anakmu jadi warga Inggris? Silakan. Tapi ingat, di sana kau hanyalah ‘imigran yang beruntung’. Di sini, kau adalah ‘pengkhianat yang malang’. Secara mantiq, kau telah menciptakan paradoks ruang kosong. Kau berdiri di antara dua kutub, tapi tak punya tanah untuk berpijak.”

Asap kretekku terakhir membentuk tulisan: BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM.

Seorang kurir datang, membawakan paket kiriman dari Jakarta. Isinya bukan makanan, melainkan tagihan pengembalian dana beasiswa plus bunga 1000%. Si Influencer mencoba membayar dengan “likes” dan “engagement”, tapi Menkeu hanya menerima mata uang air mata dan penyesalan.

Di Utrecht, salju mulai turun. Tapi salju itu berwarna kuning, seperti keranjang belanja yang tak pernah kenyang.

Aku bangkit, meninggalkan kafe. Di meja, kulit kacang yang terbuang itu tiba-tiba berubah menjadi bendera kecil yang lusuh. Aku bergumam pelan:

“Keranjang Kuning telah membuat pasar begitu dekat, hingga orang-orang lupa bahwa harga diri tidak pernah ada di etalase diskon. Menghina negara untuk menyelamatkan anak, adalah seperti membakar rumah untuk mengusir nyamuk. Nyamuknya hilang, tapi kau tidur di jalanan.”

Aku berjalan menjauh, sementara di belakangku, para Diaspora mulai menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan aksen Belanda yang kaku, sambil gemetar ketakutan kalau-kalau nama mereka adalah baris berikutnya dalam daftar hitam sang Menteri.

***

Utrecht mendadak pecah menjadi ribuan piksel. Realitas bukan lagi susunan bata merah, melainkan barisan kode biner yang bocor. Sang Influencer, dalam keputusasaannya, mencoba melakukan manuver terakhir: Infiltrasi Metafisika. Ia mengaktifkan sebuah perangkat bernama VPN Spiritual—sebuah alat yang ia klaim bisa menyembunyikan “dosa nasional” dari radar Malaikat Pencatat dan Server Pusat Kementerian Keuangan.

“Aku akan berpindah server ke dimensi ke-lima!” teriaknya sambil menekan tombol ‘Connect to Void’.

Seketika, ia menghilang dari penglihatan fisik, namun bayangannya tertinggal di setiap layar ponsel para diaspora. Ia mencoba membangun kerajaan baru di Cloud, sebuah wilayah di mana paspor tak lagi dibutuhkan dan kewarganegaraan hanya ditentukan oleh jumlah pengikut. Namun, ia lupa satu kaidah Mantiq: Sebab tidak bisa membatalkan Dzat.

Dari pusat kanal Oudegracht, muncul sebuah monster yang tersusun dari ribuan kuitansi pajak dan surat panggilan LPDP. Ini adalah Algoritma Retribusi. Mata monster itu berbentuk stempel “DITOLAK” yang bersinar merah.

“Kau mencoba bersembunyi di balik identitas global?” suara monster itu terdengar seperti mesin penghancur kertas. “Kau lupa bahwa setiap ‘bit’ datamu mengandung partikel tanah yang kau injak di Jakarta. Beasiswamu bukan sekadar uang; ia adalah kontrak darah yang terenkripsi dalam setiap sel otakmu!”

Sang Influencer mencoba meluncurkan serangan balik berupa video “Klarifikasi Puitis” dengan latar belakang musik lo-fi yang mendayu. Namun, serangan itu mentah. Algoritma Pemerintah telah berevolusi menjadi AI-Patriotik. Setiap kata maaf yang ia ucapkan secara otomatis dideteksi sebagai false-logic oleh sistem.

Suaminya, si Arya, tampak berlari di belakangnya, mencoba memikul karung berisi Poundsterling yang tiba-tiba berubah menjadi kerikil tajam. “Uang ini berat sekali, Tyas! Di Inggris ia adalah modal, tapi di sini ia adalah beban moral!”

Aku, Sang Penyair Mbeling, masih duduk di tempatku. Aku melihat mereka berdua berlari di atas air kanal yang kini berubah menjadi daftar hitam blacklist yang panjangnya tak terhingga. Nama mereka tertulis dengan tinta emas yang membara.

“Bung,” panggil seorang Diaspora yang sudah menyerah mencoba menjahit kulitnya. “Apakah ada ampunan bagi kacang yang sudah terlanjur dikupas dan dibuang kulitnya oleh angin?”

Aku menyesap sisa kopi yang kini rasanya manis seperti janji kampanye.

“Ampunan itu ada di dalam Basmalah,” jawabku tenang. “Tapi Basmalah adalah pengakuan akan ketergantungan. Masalahnya, teman kita itu merasa sudah menjadi ‘Tuhan Kecil’ bagi nasib anaknya sendiri. Ia lupa bahwa ‘Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu’, kata Kahlil Gibran. Apalagi kalau anakmu dijadikan tameng untuk memuntahkan air liur ke sumur tempatmu minum.”

Tiba-tiba, suara dentang lonceng Domtoren Utrecht berbunyi. Langit terbelah. Sebuah tangan raksasa turun dari awan, memegang sebuah penghapus raksasa bermerek “Kedaulatan Rakyat”. Dengan satu usapan, seluruh jejak digital Sang Influencer di instansi pemerintahan terhapus total. Ia tidak dipenjara, ia hanya ditiadakan dari narasi bangsa.

Ia berdiri di tengah Utrecht, berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Ia memposting, tapi jumlah view-nya adalah nol mutlak. Ia menjadi Penyanyi Latar yang kehilangan panggungnya.

Aku bangkit, merapikan sarungku yang tertiup angin Belanda. Di bawah meja, aku melihat si Kulit Kacang tadi sudah kering dan hancur menjadi debu.

“Kenapa ada kacang lupa kulitnya?” bisikku pada angin yang membawa aroma sate dari kejauhan.

“Karena ia mengira hidup adalah tentang ‘Aku’, padahal hidup adalah tentang ‘Kita’ yang dibungkus oleh ‘Dia’. Tanpa kulit, kau bukan kacang yang hebat. Kau hanyalah butiran lemak yang menunggu tengik.”

Aku berjalan pulang, melewati barisan sepeda yang terparkir rapi, sementara di langit Utrecht, samar-samar terdengar suara ghaib: Bismillahir Rahmanir Rahim… Segalanya bermula dari Nama-Nya, dan segalanya berakhir dalam catatan-Nya. Termasuk nasib mereka yang mencoba melompati takdir dengan paspor pinjaman.

Advertisement
Kans Jawara
Artikulli paraprakBEM UGM Sebagai Tumbal
Artikulli tjetërMakan Siang Gratis

Tinggalkan Komentar