
Cerpen Absurd
Gus Nas Jogja
Matahari bangkit dengan rahang terkatup rapat, enggan menumpahkan cahaya sepenuhnya ke lembah Tamiang yang masih basah. Di tanah lapang ini, yang beberapa purnama lalu adalah desa yang makmur sebelum disapu air bah, waktu terasa seperti benang yang kusut. Aku berdiri di tengah tenda-tenda pengungsi yang lusuh, memegang bungkusan opor ayam dingin, sisa dari perayaan yang kuklaim sendirian beberapa hari lalu.
Aku adalah Sang Pemaaf. Itu gelar yang kumat-kamitkan sendiri, seperti jimat di leher yang gatal. Aku telah memaafkan segalanya: air bah yang merenggut nyawa, lumpur yang mengubur harapan, dan yang paling sulit, negaraku yang selalu terlambat bangun dari tidurnya.
“Kenapa opornya dingin, Tuan?”
Suara itu datang dari seorang anak kecil, matanya memantulkan sisa-sisa trauma dari air bah. Dia duduk di atas tikar pandan, memandangi bungkusan makanan di tanganku dengan tatapan yang lapar namun skeptis.
“Ini opor dari masa lalu,” jawabku, suaraku terdengar seperti desis air di atas batu panas. “Opor yang kumasak saat negara masih sibuk berdebat tentang hilal.”
Anak itu mengangguk, tidak benar-benar mengerti, tapi menerima jawabanku dengan kepasrahan yang menyedihkan. Dia mengambil sebungkus opor, membukanya perlahan, dan mencium aromanya yang mulai basi.
“Rasanya aneh,” katanya.
“Itu rasa dari takdir yang terlalu cepat datang,” kataku.
Di sekeliling kami, para pengungsi lain mulai terbangun. Mereka merangkak keluar dari tenda-tenda, wajah-wajah mereka adalah kanvas dari penderitaan yang tak berkesudahan. Mereka saling menyapa dengan nada yang datar, seolah-olah “Selamat Idul Fitri” adalah mantra yang sudah kehilangan kekuatannya.
“Apakah Lebaran hari ini?” tanya seorang wanita tua, suaranya parau karena debu dan kesedihan.
“Tergantung siapa yang kau tanya,” jawabku. “Bagi negara, ya. Bagi Allah, mungkin sudah lewat.”
Wanita itu terkekeh, suara tawa yang kering dan kosong. “Tuhan memang suka bercanda, ya?”
Aku tidak menjawab. Aku terus berjalan, menyusuri deretan tenda, membagikan opor dingin dan ucapan maaf yang rasanya seperti ampas kopi di lidah. Aku ingin meminta maaf atas segalanya: atas air bah, atas kemiskinan, atas pemerintah yang lamban, dan atas diriku sendiri yang begitu egois merayakan Lebaran duluan.
“Kau terlalu cepat memaafkan, Tuan.”
Kali ini suara itu datang dari seorang pria muda, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. Dia berdiri di depan tendanya, tangannya terkepal di samping tubuhnya.
“Maaf adalah satu-satunya senjata yang kupunya,” kataku.
“Maaf tidak akan membangun kembali rumah kami yang hancur,” katanya. “Maaf tidak akan menghidupkan kembali orang-orang yang kami cintai.”
“Tapi maaf bisa menyembuhkan luka yang tak terlihat,” kataku.
Pria itu meludah ke tanah. “Persetan dengan maafmu,” katanya.
Aku tersenyum, senyum yang pahit dan penuh pengertian. Aku tahu dia benar. Maafku tidak ada gunanya. Itu hanya cara untuk melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan.
Tiba-tiba, langit di atas kami berubah warna. Dari abu-abu yang suram menjadi warna merah muda yang cerah, seperti warna permen karet. Awan-awan mulai berbentuk seperti puisi, baris-baris sajak yang mengambang di udara.
“Ini dia,” kataku. “Puisi yang editornya cuti bersama.”
Dari langit turunlah hujan ringan, bukan air tapi kata-kata. Ribuan kata, ribuan sajak, jatuh menimpa kami, menutupi tanah yang basah dengan hamparan puisi yang absurd dan eksperimental.
Aku mengambil selembar puisi yang jatuh di kakiku. Tulisannya berbunyi:
Lebaran adalah sebuah paradoks.
Dua kali dirayakan, tapi maknanya tak pernah benar-benar ada.
Sebuah repetisi dari kesalahan yang sama.
Sebuah pengulangan dari janji-janji palsu.
Aku meremas puisi itu dan membuangnya. Aku tidak butuh puisi untuk tahu bahwa hidup ini adalah sebuah lelucon yang buruk.
“Tuan!”
Suara anak kecil itu memanggilku kembali. Dia berlari ke arahku, wajahnya berseri-seri.
“Ada apa?” tanyaku.
“Negara sudah datang!” katanya, menunjuk ke arah jalan raya.
Aku menoleh dan melihat iring-iringan mobil hitam yang mewah. Mobil-mobil itu berhenti di pinggir lapangan, dan dari dalamnya keluarlah para pejabat dengan pakaian batik yang rapi. Mereka berjalan ke arah kami, dikelilingi oleh para pengawal yang bersenjata.
“Selamat Idul Fitri!” kata salah seorang pejabat, suaranya menggelegar melalui pengeras suara.
Para pengungsi diam, tidak ada yang menjawab. Mereka hanya menatap para pejabat itu dengan tatapan yang dingin dan penuh kebencian.
“Kami datang membawa bantuan!” kata pejabat yang lain, sambil menunjuk ke arah truk yang penuh dengan kotak-kotak mie instan.
Aku tersenyum, kali ini senyumku benar-benar tulus. Aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku berjalan ke arah para pejabat, opor dingin di tanganku. Aku berdiri di depan mereka, menatap mereka satu per satu.
“Selamat Hari Puisi Dunia,” kataku.
Pejabat itu mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Hidup ini adalah sebuah metafora,” kataku. “Dan kalian adalah bagian dari metafora itu.”
“Kau gila,” kata pejabat yang lain.
“Mungkin,” kataku. “Tapi setidaknya aku sudah duluan Lebaran.”
Aku memberikan bungkusan opor dingin di tanganku kepada pejabat itu.
“Ini opor dari masa lalu,” kataku. “Untuk kalian, yang selalu terlambat datang.”
Pejabat itu menerima bungkusan opor itu dengan bingung. Aku berbalik dan berjalan pergi, kembali ke tengah-tengah para pengungsi.
Matahari mulai bersinar terang di langit, menerangi lembah Tamiang yang masih basah. Di tanah lapang ini, di antara tenda-tenda pengungsi yang lusuh, aku terus berjalan, membagikan opor dingin dan ucapan maaf yang tak berarti.
Aku adalah Sang Pemaaf, di negara yang telat masuk. Tapi setidaknya aku sudah duluan Lebaran.
Minal ‘ Aidin Wal Faizin
Mohon maaf lahir dan batin











