Puisi Dewanty Maharani

Engkau berdiri di hadapan seseorang yang menatapmu dalam-dalam dan membayangkan mengapa manusia bisa tertawa di
hadapan patah hati, tetapi juga bersedih di hadapan bahagia

Segelas alkohol berlalu dan sebatang rokok perlahan memendek di ujung merah bibirmu. “memang tak ada jalan pulang yang mulus, tetapi kenapa namamu selalu ada di mana-mana, sementara perasaan ini tiada lagi lurus? Itukah yang kau sebut tulus? sebenarnya tegukan terakhir atau cinta pertama yang memabukkan? atau ciuman kedua atau orang ketiga yang memuakkan?” engkau bertanya dan tak ingin seorang pun menjawabnya

Engkau kembali menatap kosong ke arah meja, sisa abu yang jatuh seperti salju tak bernyawa. kamu ingin bicara, tetapi kata-kata tertahan di antara keinginan untuk lupa dan kenangan yang enggan hilang

“Apakah semua ini layak diabadikan?” gumammu
sementara malam mendengarkan dengan diam yang memekakkan.
lampu jalan berkedip, seperti tanda bahwa semuanya fana, bahkan pertanyaan yang kau ulang-ulang dalam kepala

Segelas alkohol lagi, mungkin dua, tetapi bukankah semua rasa sudah mati?
kau mencoba mencari sesuatu di dalam gelap, mungkin penjelasan, mungkin alasan untuk berhenti menyalahkan

Lalu kau teringat namanya lagi, nama yang kau ucap seperti doa yang berubah menjadi luka.
“Apa aku benar-benar ingin lupa,
atau aku takut, jika lupa, aku tak lagi punya apa-apa?”

Bandung, 03 Januari 2025

Advertisement

Tinggalkan Komentar