Catatan Mustofa W Hasyim

Suatu malam, seorang kakek menegurku dengan nada marah,
“Jangan biarkan bangsamu terlalu lama kehilangan rasa malu!
Dalam bahasa Jawa, malu itu disebut perwira; dalam bahasa Arab, wara’.”

Aku penasaran dan bertanya, “Memangnya, seberapa penting rasa malu itu, Kek?”
Kakek itu semakin geram, “Itulah salah satu sebab utama bencana yang melanda negeri ini!”
“Contoh konkretnya, Kek?” tanyaku masih ragu.
“Jangan jadi generasi yang rabun terhadap realitas!” bentaknya.
“Tapi, contohnya apa?”

Kakek itu menatapku tajam, “Buka matamu lebar-lebar dan gunakan hati nuranimu! Bukankah korupsi yang merajalela, berjaringan dengan kolusi dan nepotisme, adalah bukti nyata bahwa bangsa ini kehilangan rasa malu?”

Aku terdiam, tapi masih ingin menguji pemikirannya. “Sejak kapan rasa malu itu hilang, Kek?”
“Sejak penjajahan. Penjajah memanfaatkan korupsi, kolusi, dan nepotisme untuk melemahkan perlawanan rakyat.”
“Kabarnya VOC bangkrut karena korupsi?” tanyaku.
“Benar. Tapi mereka akhirnya bersih-bersih. Sedangkan kita? Mereka membiarkan penyakit itu tetap mengakar di negeri ini. Parahnya, banyak yang justru menikmati dan merasa nyaman dengan itu!”

“Sampai hari ini, Kek?”
“Tentu saja.”
“Jadi, ada yang sengaja membiarkan dan memelihara budaya korupsi ini?”
Kakek itu tersenyum sinis. “Kau mulai cerdas. Nah, siapa yang memelihara hilangnya rasa malu dan tumbuh suburnya korupsi ini? Jawab cepat!”

Aku tergagap dan asal menjawab, “Mereka… para penjajah kontemporer! Mereka menghisap kekayaan negeri ini dan berusaha mengendalikannya.”
Kakek itu tertawa, “Kau mau digiring agar tetap tak punya rasa malu, agar ikut mencicipi lezatnya korupsi yang diselimuti kolusi dan nepotisme?”
“Tentu tidak, Kek! Aku ingin melawan! Aku ingin menemukan kembali rasa malu yang telah disembunyikan penjajah, baik yang klasik maupun yang modern. Tapi… aku sendirian. Aku takut, Kek.”

Kakek itu tertawa penuh semangat.
“Setiap perlawanan selalu terasa menakutkan di awal. Tapi lama-lama, ketakutan itu akan lenyap, tergantikan oleh gairah untuk mengubah masa depan bangsamu!”

2025. MWH

photo : detik

Advertisement

Tinggalkan Komentar