Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

Fenomena bahwa banyak ilmuwan besar dalam peradaban Islam klasik tidak berasal dari Jazirah Arab, melainkan dari wilayah Persia (Iran), Asia Tengah, hingga Maghrib, merupakan realitas historis yang tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekspansi Islam itu sendiri. Ketika Islam menyebar keluar dari Arab pada abad ke-7 dan ke-8, ia bertemu dengan peradaban-peradaban tua yang telah memiliki tradisi intelektual kuat. Wilayah seperti Persia dan Afrika Utara sudah memiliki sistem pendidikan, filsafat, dan administrasi yang mapan jauh sebelum Islam datang. Integrasi antara ajaran Islam dengan tradisi intelektual lokal inilah yang kemudian melahirkan generasi ilmuwan besar. Dengan kata lain, kejayaan ilmu dalam Islam adalah hasil sintesis lintas budaya, bukan monopoli etnis tertentu. (Hodgson, 1974; Lapidus, 2014)

Persia, misalnya, memiliki warisan intelektual dari Kekaisaran Sassania yang sangat maju dalam bidang administrasi, kedokteran, dan filsafat. Setelah masuk Islam, para cendekiawan Persia tidak kehilangan tradisi tersebut, melainkan mengislamkannya. Tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), dan Al-Biruni adalah contoh nyata bagaimana tradisi Persia berpadu dengan nilai Islam. Mereka menulis dalam bahasa Arab sebagai lingua franca ilmiah, tetapi latar belakang budaya mereka sangat mempengaruhi cara berpikir dan pendekatan ilmiah. Hal ini menjadikan peradaban Islam bersifat kosmopolitan. (Nasr, 1968; Gutas, 1998)

Selain Persia, wilayah Maghrib (Afrika Utara) dan Andalusia juga menjadi pusat keilmuan yang sangat penting. Kota-kota seperti Fez, Marrakesh, dan Cordoba berkembang menjadi pusat pendidikan dan penelitian. Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, misalnya, sering disebut sebagai salah satu universitas tertua di dunia. Lingkungan sosial yang mendukung kegiatan ilmiah membuat banyak ilmuwan lahir dari wilayah ini, seperti Ibnu Khaldun, yang dikenal sebagai bapak sosiologi modern. Kondisi ini menunjukkan bahwa geografi memainkan peran penting dalam perkembangan ilmu. (Lapidus, 2014; Bulliet, 2004)

Salah satu faktor utama mengapa ilmuwan non-Arab mendominasi adalah kebijakan inklusif dalam peradaban Islam. Tidak ada pembatasan etnis dalam mengakses ilmu pengetahuan. Siapa pun yang memiliki kemampuan dapat berkontribusi. Sistem ini berbeda dengan beberapa peradaban lain yang lebih eksklusif. Dalam dunia Islam, seorang Persia, Turki, atau Berber memiliki peluang yang sama untuk menjadi ulama atau ilmuwan besar. Hal ini menciptakan ekosistem intelektual yang sangat dinamis. (Hodgson, 1974)

Bahasa Arab memang menjadi bahasa utama ilmu pengetahuan pada masa itu, tetapi hal ini justru memperluas partisipasi non-Arab. Bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi ilmiah universal, seperti bahasa Inggris saat ini. Banyak ilmuwan non-Arab menulis karya-karya mereka dalam bahasa Arab, sehingga dapat diakses oleh dunia Islam yang luas. Ini memperkuat integrasi intelektual lintas wilayah dan mempercepat penyebaran ilmu. (Gutas, 1998; Saliba, 2007)

Faktor lain adalah gerakan penerjemahan besar-besaran pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya di Baghdad melalui Baitul Hikmah. Banyak teks Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Para penerjemah dan ilmuwan yang terlibat dalam proyek ini sebagian besar berasal dari wilayah non-Arab. Mereka tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga mengembangkan dan mengkritisi ilmu tersebut. Ini menjadi fondasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan Islam. (Gutas, 1998; Saliba, 2007)

Wilayah Persia dan Asia Tengah juga memiliki tradisi urban yang kuat, dengan kota-kota besar seperti Baghdad, Nishapur, dan Samarkand. Kota-kota ini menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat intelektual. Interaksi antarbudaya di kota-kota ini mendorong pertukaran ide yang intens. Lingkungan seperti ini sangat kondusif bagi lahirnya ilmuwan besar. Sebaliknya, Jazirah Arab pada masa awal lebih bersifat tribal dan belum memiliki tradisi urban yang sekuat wilayah tersebut. (Hodgson, 1974; Lapidus, 2014)

Dalam bidang filsafat dan sains, banyak ilmuwan Persia yang memainkan peran kunci karena mereka memiliki akses ke warisan filsafat Yunani yang telah diterjemahkan sebelumnya ke dalam bahasa Pahlavi. Ketika Islam datang, mereka melanjutkan tradisi ini dalam kerangka baru. Hal ini menjelaskan mengapa tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi memiliki pemikiran yang sangat sistematis dan filosofis. Mereka tidak memulai dari nol, tetapi melanjutkan tradisi yang sudah ada. (Nasr, 1968; Gutas, 1998)

Sementara itu, wilayah Maghrib dan Andalusia memiliki kedekatan geografis dengan Eropa, yang memungkinkan pertukaran ilmu yang lebih luas. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai jembatan antara dunia Islam dan Barat. Banyak karya ilmuwan Muslim dari Andalusia kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan mempengaruhi Renaisans Eropa. Ini menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan non-Arab sangat signifikan dalam sejarah global. (Saliba, 2007; Bulliet, 2004)

Faktor politik juga berperan penting. Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad memiliki orientasi yang lebih kosmopolitan dibandingkan Dinasti Umayyah di Damaskus. Abbasiyah memberikan ruang yang lebih besar bagi non-Arab untuk berpartisipasi dalam pemerintahan dan intelektual. Banyak pejabat dan ilmuwan berasal dari Persia. Kebijakan ini mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. (Hodgson, 1974; Lapidus, 2014)

Selain itu, sistem pendidikan dalam Islam, seperti madrasah dan halaqah, terbuka bagi siapa saja. Banyak ilmuwan melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu, dari satu kota ke kota lain. Mobilitas intelektual ini memungkinkan pertukaran ide yang sangat luas. Seorang pelajar dari Maghrib bisa belajar di Baghdad, dan sebaliknya. Hal ini menciptakan jaringan intelektual yang sangat kuat di seluruh dunia Islam. (Lapidus, 2014)

Tidak kalah penting adalah etos keilmuan dalam Islam yang menekankan pencarian ilmu sebagai ibadah. Nilai ini mendorong umat Islam dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Semangat ini tidak terbatas pada etnis tertentu. Justru di wilayah-wilayah seperti Persia dan Maghrib, semangat ini berpadu dengan tradisi lokal yang sudah menghargai ilmu, sehingga menghasilkan capaian yang luar biasa. (Nasr, 1968; Hodgson, 1974)

Jika dibandingkan dengan Jazirah Arab, wilayah seperti Persia dan Maghrib memiliki sumber daya yang lebih mendukung perkembangan ilmu, seperti perpustakaan, pusat penerjemahan, dan patronase dari penguasa. Banyak penguasa di wilayah tersebut menjadi pelindung ilmuwan dan mendanai penelitian. Ini menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi inovasi dan kreativitas intelektual. (Lapidus, 2014; Saliba, 2007)

Dengan demikian, dominasi ilmuwan non-Arab dalam peradaban Islam bukanlah anomali, melainkan konsekuensi logis dari sifat universal Islam. Islam sebagai agama tidak terikat pada etnis tertentu, sehingga memungkinkan siapa saja untuk berkembang. Justru keberagaman inilah yang menjadi kekuatan utama peradaban Islam. Tanpa kontribusi Persia, Maghrib, dan wilayah lain, kejayaan ilmu dalam Islam mungkin tidak akan mencapai puncaknya. (Hodgson, 1974; Bulliet, 2004)

Pada akhirnya, pelajaran penting dari fenomena ini adalah bahwa kemajuan peradaban tidak ditentukan oleh asal-usul etnis, tetapi oleh keterbukaan, integrasi budaya, dan dukungan terhadap ilmu pengetahuan. Peradaban Islam klasik menunjukkan bahwa ketika berbagai tradisi bertemu dalam satu kerangka nilai yang sama, maka lahirlah inovasi yang luar biasa. Ini menjadi inspirasi bagi dunia modern dalam membangun peradaban yang inklusif dan berorientasi pada ilmu. (Saliba, 2007; Nasr, 1968)

Referensi:

George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance (MIT Press, 2007).
Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam (University of Chicago Press, 1974).
Dimitri Gutas, Greek Thought, Arabic Culture (Routledge, 1998).
Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies (Cambridge University Press, 2014).
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Harvard University Press, 1968).
Richard W. Bulliet, The Case for Islamo-Christian Civilization (Columbia University Press, 2004).

Advertisement
Artikulli paraprakHarga Diri Minyak Makin Jatuh
Artikulli tjetërBedaulat dari Sawit

Tinggalkan Komentar