
Puisi Anto Narasoma
o, baunya khas
dan bunyinya bagai bom yang berjoget salsa sebelum kau duduki kursi pertama dalam kampanye lalu
seperti kentut
bunyinya waw,
baunya berkelindan dari ucapan-ucapan mati yang tak terbukti
suara-suara kami
bukan hanya pengantar berjoget di pentas politik. sebab, jutaan mulut yang berteriak
tak makan, hanya bersimbah barang-barang rongsokan
o, pak ketua !
panggilan itu seperti debu tertiup angin,
lalu tak berujud dan hilang dalam pikiranku
namun masih segar kata-katamu di atas caci-maki dalam emosi yang bermain mata pada para koruptor
sebab,
dalam rangkaian sajak
bermata pisau,
larik-larik puisiku ini
tak setajam mata pedang yang kuasah akibat konsekuensimu yang tumbang dalam perjalanan pulang
pak ketua !
prinsip laki-laki adalah besi pemukul banci
yang bicara hanya sebatas mimpi;
lalu mati
Palembang, 4 Februari 2026











