Oleh : Habib Jansen Boediantono

Paska keruntuhan Uni Soviet dunia disuguhi sandiwara besar yang melukiskan seolah-olah ada pergeseran konflik baru antara USA dengan China. Saya pikir tujuan sandiwara tersebut hanyalah satu, yaitu melempangkan jalan bagi kapitalisme global menguasai sumber sumber ekonomi negara yang dianggap potensial. Mengingat terjadi perubahan paradigma ekonomi dunia, kapitalisme global kemudian mengatur ulang strategi dengan menyamarkan batas antara Corporation State dengan Multi National Corporation. Inilah yang membuat kapitalisme memusatkan kekuatannya dari USA ke CHINA lalu menutupi dengan sandiwara dan ujungnya negeri yang kaya raya sumber daya alamnya menjadi pelengkap penderita.

Kekayaan alam Indonesia yang luar biasa membuat Kapitalisme global menempatkan negeri ini sebagai sasaran utama. Terlihat dengan jelas suatu skenario kerjasama antara China dengan USA dalam menguasai sumber-sumber kekayaan alam dimulai dengan perusakan budaya. Rusaknya budaya mengakibatkan perubahan cara pandang. Mengingat Pancasila merupakan cara pandang bangsa ini, perusakan budaya membuat Pancasila hancur. Lalu pragmatisme dan sikap opportunities yang dilengkapi kedangkalan berpikir pun hadir menggantikan Pancasila. De-ideologisasi akhirnya mencapai puncak dengan terjadinya amandemen UUD 45.

Untuk menguak tabir ini tentu saja bukan hal mudah. Diperlukan prespektif intelijen serta kemampuan membaca geopolitik. Lewat cara ini kita bisa melihat bagaimana dengan kekuatan media masa dan rekayasa sosial-politik yang begitu rapih kekuatan kapitalisme global dengan oligarki sebagai turunannya menciptakan pemimpin-pemimpin baik di tingkat nasional maupun daerah sebagai kepanjangan tangan dalam menguasai sumber-sumber ekonomi negeri ini.

Dalam segi ekonomi terjadi eksploitasi besar-besaran pada sumberdaya alam dan penguasaan sektor ekonomi strategis. Tapi ada bahaya lain yang mengintai, lahirnya masyarakat yang teralienasi. Masyarakat kini dihinggapi kelesuan ditelan oleh sikap pragmatisme. Kegairahan untuk meneruskan revolusi yang menurut Bung Karno belum selesai berhenti karena keputusasaan. Pembangunan fisik besar-besaran membuat banyak orang silau untuk melihat adanya kepincangan. Saat ini banyak orang di negeri ini tak sadar bahaya yang mengancam masa depan bangsa. Situasi seperti ini memang diciptakan agar negeri ini tak mampu keluar dari drainase kapitalisme.

Bila saya menggunakan kritik Herbert Marcuse dalam bukunya “One Dimensional Man”, jelaslah kehidupan masyarakat saat ini berdimensi satu. Segala segi kehidupannya diarahkan hanya pada satu tujuan, yaitu keberlangsungan dan peningkatan sistem yang ada yang tentu saja hanya menguntungkan kapitalisme global semata. Sistem ini tentu saja sangat berbahaya karena membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya pasif dan represif, menerima saja yang ada tanpa keinginan melakukan perubahan. Setiap usaha perubahan akan dianggap gerakan radikal dan makar. Alternatif lain yang diberikan hanya akan dianggap abstraksi belaka, kegilaan yang sia-sia. Masyarakat sudah terintegrasi pada sistem yang ada sehingga menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi lain yang tak setuju dengan sistem tersebut. Dominasi dalam masyarakat telah terulas sedemikian rupa, sehingga tak lagi dirasakan sebagai sesuatu yang tak lazim. ”Gemerlap alam materialistis yang ditawarkan kapitalisme, sesungguhnya mengasingkan manusia dari kemanusiaannya”.

Inilah tantangan ide tentang perubahan, yaitu bagaimana perubahan yang diusung bukanlah sekadar ombak dalam secangkir kopi. Perubahan harus menjadi suatu konstanta, bukan variabel apalagi faktor, sehingga mampu mengeluarkan NKRI dari drainase kapitalisme.

Advertisement

Tinggalkan Komentar