Oleh: Jayabaya

Setiap tahun, umat Islam memasuki bulan Ramadhan dengan dua kepastian. Pertama, hilal akan dicari. Kedua, perdebatan akan ditemukan bahkan sebelum hilal itu sendiri terlihat.

Langit masih gelap, tetapi grup WhatsApp sudah terang oleh perdebatan. Teleskop belum dipasang, tetapi kesimpulan sudah ditegakkan. Sebagian orang berbicara tentang elongasi, tinggi bulan, dan sudut visibilitas dengan penuh keyakinan, seolah-olah mereka sendiri yang mengatur orbitnya. Yang lain menunggu rukyat, dengan keyakinan yang sama teguhnya, seakan-akan Tuhan menunda pengumuman hanya untuk menghormati otoritas penglihatan mereka.

Di tengah semua itu, ada satu kelompok yang tampak paling tenang; mereka yang tidak menguasai ilmu hisab maupun rukyat, tetapi sangat menikmati isap. Mereka duduk santai, mengisap rokok, sambil menyimpulkan bahwa pihak lain pasti keliru. Asap rokok mereka naik lurus ke langit, mungkin berharap bertemu hilal lebih cepat daripada teleskop.

Perdebatan ini telah menjadi ritual tahunan yang lebih konsisten daripada ibadah itu sendiri. Kita mungkin berbeda dalam memulai puasa, tetapi kita selalu sepakat untuk memperdebatkannya.

Padahal, secara ilmiah, posisi bulan bukanlah misteri. Manusia modern dapat memprediksi gerhana hingga hitungan detik. Kita tahu kapan komet akan lewat, kapan planet akan sejajar, bahkan kapan satelit buatan akan jatuh. Tetapi entah mengapa, untuk urusan hilal, sebagian dari kita bertindak seolah-olah hidup di abad pertengahan bukan karena keterbatasan ilmu, tetapi karena kelimpahan ego.

Yang dipertahankan sering kali bukan metode, tetapi identitas. Hisab bukan sekadar perhitungan, melainkan simbol rasionalitas kelompok tertentu. Rukyat bukan sekadar observasi, melainkan simbol kesetiaan pada otoritas tertentu. Keduanya sah sebagai metode, tetapi menjadi problem ketika berubah menjadi alat pembenaran diri.

Ironisnya, hilal sendiri tidak pernah memprotes perbedaan ini. Bulan tetap berada di orbitnya, tenang dan konsisten. Bulan tidak peduli apakah manusia melihatnya atau menghitungnya. Toh bulan tidak berubah hanya karena manusia berbeda pendapat. Yang berubah hanyalah manusia menjadi lebih keras kepala atas nama kepastian.

Mungkin masalahnya bukan pada hilal yang sulit dilihat, tetapi pada akal sehat yang sulit digunakan dengan rendah hati.

Sebab pada akhirnya, hilal hanyalah objek astronomi yang tidak membawa perpecahan, tidak memilih organisasi, tidak memihak metode. Hilal hanya bergerak sesuai hukum Tuhan yang tetap tidak seperti manusia yang bergerak sesuai emosi dan ego yang berubah-ubah.

Barangkali yang perlu dihisab bukan hanya posisi bulan, tetapi posisi kesombongan kita. Yang perlu dirukyat bukan hanya hilal, tetapi juga kecenderungan kita untuk merasa paling benar. Dan yang paling perlu dihentikan bukan perbedaan tanggal, tetapi kebiasaan menjadikan perbedaan sebagai sumber kepuasan intelektual.

Kita begitu bersemangat menentukan kapan puasa dimulai, tetapi kurang bersemangat memastikan apakah puasa itu sendiri benar-benar mengubah kita.

Jika hilal adalah tanda dimulainya Ramadhan, maka kerendahan hati seharusnya menjadi tanda diterimanya Ramadhan.

Tanpa itu, perdebatan tentang hilal hanyalah cara lain manusia mengelilingi ego mereka sendiri sebagaimana bulan mengelilingi bumi, tetapi tanpa pernah sampai ke mana-mana.

Advertisement
Artikulli paraprakNuzulul Quran
Artikulli tjetërMembedah Otak Reptil Trump: Sang Monster Haus Darah

Tinggalkan Komentar