
Oleh: Hendrajit, pengkaji geopolitik dan jurnalis senior.
Ada tradisi yang mati di negeri kita, yaitu dialog. Ironisnya juga makin menjadi-jadi di era medsos. Jadi orang cenderung talking at …. ketimbang talking with….
Karena nggak ada dialog, nggak ada proses mencari tahu dan menemukan pengetahuan dan kebenaran bersama sama.
Yang ada cuma berkata kata dan bersahut sahutan. Monolog bukan dialog. Talking without speaking. Seeing without watching. Serba ngomong tapi tidak menyimak. Serba melihat tapi tidak menaruh perhatian.
Medsos sebenarnya merupakan ruang publik atau public sphere, sayang dengan tradisi dialog yang mati, tidak digunakan secara maksimal sebagai kekuatan alternatif untuk membangun arus baru.
Paulo Freire, pendidik revolusuoner Brazil sejak 1970an, menganjurkan mengisi semua celah untuk jadi ruang publik, untuk menyusun gagasan alternatif. Di universitas, di media massa, di instansi pemerintahan. Rebut ruang-ruang kosong yang tersedia betapun terbatasnya.
Sekarang saat teknologi makin pesat, kekuatan pikiran dan gagasan malah mati. Padahal medsoslah ruang publik yang paling efektif membangun arus baru perubahan. Untuk menyusun hegemoni tandingan.
Untuk mengedepankan hegemoni tandingan, kita harus menggali akar pikiran, fondasi ideologis, rencana strategis serta sistem aliansi yang mendasari pembentukan Hegemoni Global saat ini.











