Cerpen Surrealis
Gus Nas Jogja


Di tengah remang Surau Gadang yang bergoyang oleh zikir angin Singgalang, cahaya lilin di atas meja kayu jati itu seolah membelah diri. Sebelah apinya menerangi wajah teduh Buya Hamka, dan sebelah lagi jatuh pada gurat-gurat tegas A.A. Navis yang sedang menyesap aroma soto Aceh dari mangkuk tanah liat.

Aku, sang Musafir Rindu, duduk di antara dua kutub samudera kerinduan yang begitu tenang ini. Di luar, gerimis Padangpanjang mulai jatuh, tipis dan tajam seperti jarum perak, membasahi pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai ke arah Barat—ke arah Aceh yang jauh, namun terasa sedekat urat leher.

“Ananda Musafir,” Navis memecah sunyi dengan nada bicaranya yang satir namun penuh kasih. “Kau lihat rendang ayam kampung ini? Di Minang, ia adalah filosofi musyawarah. Bumbunya yang hitam pekat adalah lambang kearifan yang sudah matang oleh api cobaan. Tapi saat kau sandingkan dengan sie mirah Acehmu, aku melihat sesuatu yang lebih purba dari sekadar resep masakan.”

Ia menunjuk ke arah piring daging yang merah membara itu.

“Daging merah itu adalah darah syuhada yang mengental jadi keberanian. Kau membawanya ke sini, ke tanah yang penuh kiasan ini, untuk mengatakan bahwa iman tak boleh pudar meski kita jauh dari pancang Endatu,” lanjut Navis.

Buya Hamka tersenyum, jemarinya yang halus membelai jilid kitab tua di pangkuannya. “Benar, Navis. Tapi lihatlah lebih dalam. Sie puteh yang dimasak istri Musafir ini, di Minang kita sebut daging kurma. Putihnya adalah lambang kesucian niat dalam menyambut tamu agung: Lailatul Qadar yang baru saja berlalu dan Idulfitri yang diam-diam sedang mengetuk pintu.”

Aku tertegun. Di mataku yang mulai berkaca-kaca, ruang surau itu meluas menjadi cakrawala tanpa batas. Dinding-dindingnya runtuh, menampakkan hamparan laut Aceh yang biru dan hijau perbukitan Minang yang rimbun.

“Buya,” tanyaku lirih. “Apakah aku berdosa merindukan Aceh di saat aku sedang berpijak di bumi Allah yang lain?”

Buya Hamka menatapku dengan mata yang menyimpan telaga kedamaian.

“Musafir, rindu itu adalah kompas ruhani. Allah menciptakan suku-suku bukan untuk saling memisahkan, tapi agar rasa ‘Meugang’ di lidahmu bisa bercampur dengan rasa ‘Rendang’ di hatimu. Itulah puncak tasawuf: ketika kau tak lagi membedakan mana tanah pijakan dan mana tanah kelahiran, karena keduanya adalah milik Sang Pencipta.”

Navis mengangguk pelan, sebuah pengakuan jarang dari sang pencemooh ulung. “Makanlah soto racikan istrimu itu. Setiap sendoknya adalah bait puisi yang lebih jujur dari karya sastrawan mana pun. Ia memasak bukan dengan api kompor, tapi dengan api kesetiaan dan nyala cinta yang selalu membara.”

Matahari 19 Maret 2026 benar-benar telah luruh di balik bukit. Suasana menjadi gaib. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara anak-anak kecil mengaji, bersahutan dengan deru air terjun Lembah Anai.

Tiba-tiba, kedua sastrawan besar itu berdiri. Mereka melangkah menuju pintu surau yang terbuka lebar menghadap arah kiblat.

“Pergilah pulang ke rumahmu, Musafir,” ucap Buya Hamka sambil meletakkan tangannya di bahuku. “Istrimu telah menyiapkan sajadah cinta untukmu. Berbukalah dengan rasa syukur, lalu sambutlah 1 Syawal dengan hati yang seluas samudera.”

Navis menepuk pundakku yang lain. “Jangan biarkan tradisi ini mati hanya karena kau jauh. Ingat, sebuah bangsa mati bukan karena dijajah, tapi karena kehilangan ingatan akan akarnya. Meugang-mu hari ini adalah perlawanan terhadap pelupaan.”

Aku membungkuk takzim. Saat aku mengangkat kepala, mereka telah tiada. Hanya menyisakan wangi kapur barus, aroma cengkeh, dan sisa uap soto yang masih hangat di udara.

Aku melangkah turun dari surau, menembus kabut Padangpanjang dengan hati yang penuh. Di rumah sana, istriku sedang menunggu dengan senyum yang paling puitis, siap menyambut kemenangan 1447 H dalam balutan doa yang paling tulus.

Selamat Idulfitri, ya Rabb.

Biarlah rindu ini abadi, sebagai pengingat bahwa kami hanyalah musafir yang sedang menuju pulang ke hadirat-Mu.

Advertisement
Artikulli paraprakMenjaring Lailatul Qadar
Artikulli tjetërPolemik Pensiun Seumur Hidup: Saat MK Memaksa Pejabat Negara Bercermin pada Rakyat

Tinggalkan Komentar