Oleh: Slamet Widodo

Bagai sebongkah batu gunung.
Di tangan sang pematung.
Metamorfosa penuh rekayasa adi luhung.
Menjelma sosok petarung.

Patung besar bersumbu bumi.
Menyatu simpul tali pati.
Membisu saksi hidup ini.
Setumpuk sajen hio kembang mawar melati.

Taman puspa kebun kayangan.
Tampak kupu kupu berlimpah kenangan.
Tabur bunga doa doa ketulusan.
Teruntuk para leluhur di terminal penantian.

Wingitnya jasa para pendulum kehidupan.
Sabda suci sucikan cakrawala kehakekatan.
Pancarkan aura karomah kewalian.
Yang tidak sebatas serat sarat suratan.

Misteri keghaiban pemikiran.
Dalam wujud warisan taman.
Pun tak sebatas papan tanpa pesan.
Busur tertanam tunduk tulus kepatuhan.

Meski terkadang celoteh dogma.
Ajarkan sudut sudut sisi menakutkan.
Religio socio-cosmis sebatas bahasa dan bahasan.
Sejatinya segala cipta tiada kesia sia an.

Guyon geguritan sejumput garam dalam lautan menu kehidupan.
Drama parodi setangkup upaya menyederhanakan.
Syair pujangga seni seni kriya sebatas kidung perwakilan.
Selebihnya segudang misteri dalam kitab kewingitan.

Lalu berjalanlah sang petualang.
Tujuan kepastian bukanlah bayang bayang.
Hikmah kebijaksanaan proses menjadi pemenang.
Hingga akhirnya di susun dalam manuskrip manuskrip kitab tanpa lembaran.

Hutang demi hutang kian menghantui.
Doa tersembunyi leganya semesta akan hadirnya diri.
Seakan deposit budi yang harus dilunasi.
Jenang ketan ireng dukuh Kasongan pun bukti pelunasan diri.

Hingga raga pun lelah menyangga cinta.
Kecintaan kepada sesama dan semesta.
Batas kontrak usia usai di puncak Sultan Alisyahbana.
Bunga bangsa seniman pengiring raja.

Kotagede, Jumat, 7/2/25

Advertisement

Tinggalkan Komentar