Oleh: Aprinus Salam*
Suatu hari, ketika mahasiswa awal tahun 1987, aku menulis semacam puisi dengan judul Balada Pantat Zaitun. Sedikit panjang karena bergenre, seperti judulnya, balada. Puisi itu aku serahkan pada temanku Abdul Haris. Haris orang pertama yang Doktor di kelas angkatan kami.
Entah kenapa, puisi itu dia bacakan pada sebuah seminar kecil di kelas, mata kuliah Analisis Puisi. Kalau tidak salah mata kuliah itu hingga hari ini masih ada. Waktu itu dosennya Pak Ramli Leman Soemowidagdo.
Tentu aku gugup dan malu, karena itu puisi pertamaku yang dibacakan di depan publik. Dan, puisi itu aku buat main-main karena ingin bergurrau. Haris juga membacakannya dengan canggung. Hal lain yang aku ingat ketika puisi itu dibacakan; Pak Ramli pura-pura tidak mendengar dan pura-pura membaca apa gitu.
Teman-teman yang hadir di ruang itu merasa jengah-salting harus bagaimana. Bagi para feminis, tentu aku dikecam bias gender dan patriaskis. Kenapa yang menjadi objek pantat perempuan.
Puisi itu puisi sederhana. Kisah seorang penyanyi dangdut bernama Zaitun, dan bagaimana dia memanfaatkan pantatnya jadi komoditas. Zaitun sendiri bukan penyanyi dangdut yang hebat. Tentu dia menjadi favoriit karena pantatnya memang bahenol.
Penonton dangdut “waktu itu”, bukan sekedar menikmati irama dan musik. Yang lebih penting dari itu penyanyi dangdut harus berani tampil erotik dan sedikit mesum. Kalau tidak, dia bisa tidak laku.
Kayaknya, dengan judul Balada Pantat Zaitun pendengar atau pembaca puisi merasa turun moralnya kalau tertarik dengan puisi seperti itu. Makanya, ketika puisi itu dibacakan, para yang hadir pura-pura tidak terlibat dan tidak menyimak. Mereka tidak mau kalau nanti dinggap suka puisi vulgar. Ada tepukan kecil setelah puisi itu dibacakan.
Padahal, ketika aku menulis puisi seperti itu, aku mengorbankan harga diri dan moralku untuk dianggap suka vulgar, suka hal-hal erotis, bahkan mungkin mesum. Mungkin suka juga sih, tapi tentu kesukaan pribadi itu tidak perlu diketahui publik.
Kembali ke puisi. Karena terlanjur tidak mau menurunkan moral, puisi dari awal sudah tidak menarik. Padahal puisi itu bercerita lain. Setelah sempat menjadi penyanyi dangdut paling digemari sekitar tiga tahun, Zaitun berpikir bahwa suatu hari pantatnya pasti tidak menarik, dan akan kalah dengan pantat-patat yang baru, lebih segar, lebih semog.
Dalam sejumlah renungannya, Zaitun mengambil keputusan drastis, ia tampil mengejutkan dengan berbusana muslimah dan berjilbab. Kita tahu, setelah itu kariernya tamat, dan terbukti Zaitun tidak laku. Tidak ada lagi yang mengajaknya dangdutan.
Pada sore 12 Oktober 2026, kami di Dewan Guru Besar UGM, berdiskusi tentang problem etik riset. Bagaimana kita perlu mengklarifikasi etika keilmuan, etika akademik, etika prilaku, dan berbagai etika lain. Bahkan diskusi hingga ke etika ekonomi, etika politik. Diskusi itu hanya berbagi pengalaman, bahwa problem etik merambah ke banyak lini kehidupan.
Sebetulnya, sore itu, aku ingin mengemukakan sesuatu, tapi aku tidak pede karena khawatir seperti berbagi vulgaritas. Aku ingin mempersoalkan, kalau aku menulis puisi dan dalam puisi tersebut ada kata-kata pantat, semog, bahenol, ngeseks, bahkan hingga nama kemaluan; pertanyaannya saya etis gak? Puisinya etis gak?
Tentu akan banyak yang berdalih bahwa sastra adalah ruang kebebasan. Tidak ada anggapan puisi akan disebut mesum dan dikaitkan dengan penyairnya yang dianggap juga suka hal-hal tidak etis atau semacam porno. Dan lagi, apa yang salah dengan pantat. Apa pantat tidak layak dijadikan puisi?
Akan banyak perdebatan, dan muaranya bisa ke dalam tiga hal. Pertama, tidak relevan mempertanyakan dan menilai bahwa puisi bisa terjebak dengan moralitas konvensional. Sastra adalah ruang kebebasan dan kemandirian.
Kedua, tetap saja ada nilai yang harus diperjuangkan sehingga sastra sebaiknya memperjuangkan nilai tersebut. Tetap ada batas-batas etis dan tidak etis, karena itulah yang membedakan kita, manusia, dengan makhluk yang lain. (Waduh, apa iya?).
Ketiga, semua hal ada caranya, ada konteksnya. Sesuatu menjadi erotik dan vulgar kalau dihadirnya tidak dalam konteksnya. Jadi, konteks menjadi penting. Harus tahu dan jelas situasi seperti apa untuk mengatakan pantat. Kalau di kelas, dengan suasana formal dan etis, etis gak?
Apa jika di kelas, saya perlu mendahulukan kata maaf. “Maaf ya, saya ingin membacakan puisi tentang kisah penis yang menyalak.”
*)Penulis, Guru Besar FIB UGM










