Ada dosa yang tidak terdengar oleh siapa pun, namun perlahan merampas ketenangan batin.
Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki
Ada pengkhianatan yang tidak pernah menjadi berita, tidak diperkarakan di ruang sidang, bahkan tidak diketahui oleh satu pun manusia, tetapi tercatat sempurna di hadapan Allah.
Malu bukan sekadar wajah yang memerah ketika aib terbongkar. Malu adalah bisikan paling sunyi di kedalaman jiwa yang berkata dengan lembut: “Jangan lakukan. Ada Allah yang sedang mengawasi.”
Amanah paling berat ujiannya justru ketika tidak ada yang mengawasi. Ketika jabatan membuka pintu-pintu peluang, kewenangan memberi keleluasaan tanpa batas, dan kesempatan dapat digunakan sesuka hati.
Orang yang hanya takut pada aturan akan berhenti karena takut ketahuan. Tetapi orang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan tetap menjaga diri, meski ia yakin tidak akan ada seorang pun yang tahu.
Bagi seorang pendidik, amanah jauh melampaui kewajiban mengajar dan menggugurkan tugas. Amanah adalah ilmu yang disampaikan dengan kejujuran, waktu yang dijaga dengan disiplin, peserta didik yang menanti keteladanan, dan marwah lembaga yang harus dijaga dengan martabat dan kehormatan.
Mahasiswa boleh jadi lupa apa yang pernah kita tulis di papan tulis, namun mereka tidak akan pernah lupa bagaimana kita bersikap. Karena pendidikan yang paling kuat bukanlah yang hanya terdengar dari lisan, melainkan yang hidup dalam teladan.
Semakin besar amanah yang dititipkan di pundak kita, semakin besar pula rasa malu yang wajib kita pelihara.
Malu mengambil yang bukan hak kita.
Malu menyalahgunakan kepercayaan yang dititipkan, bahkan merenutnya dengan berbagai manipulasi. Malu berteriak tentang integritas, sementara dalam sepi kita sendiri mengingkarinya.
Sebab pada hakikatnya, malu adalah pagar yang menjaga amanah. Dan amanah adalah bukti bahwa rasa malu itu masih hidup di dalam dada.
Ingatlah, kepemilikanmu, kekuasaan dan jabatanmu, uang dan kekayaanmu, bahkan penghormatan dan pemuliaan manusia kepadamu, semua datang dan pergi.
Namun jati dirimu, itulah yang menentukan siapa dirimu yang sebenarnya.
Maka jadikanlah rasa malu sebagai perisai jati dirimu.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (Bukhari)*
Semoga kita tidak hanya tumbuh menjadi insan yang berilmu, tetapi juga menjadi insan yang dapat dipercaya. Percayalah, ketika mata manusia tak lagi melihat, Allah tetap melihat hati dan amanah yang sedang kita emban.
Batam, 13 Oktober 2026










