Kagem Romo Mudji Sutrisno

Puisi Gus Nas


Inilah khotbah dukacita
Diucap di puncak Golgotta, bukit baku-hantam
segala Luka

Disaksikan reranting zaitun patah diterpa badai
Dan mahkota duri di kepala

Tiang-tiang salib berdiri gagah seakan bersaksi
Ada darah bercipratan di sini

Semacam saksi bagi sepucuk duri
Sepotong nyeri
Di ulu hati

Bahkan ketika waktu telah berlalu
Debu itu masih terus berkesiur
tak henti-henti

Luka dan cuka bercampur di cawan suci
Roti dan anggur menunggu dibagi

Penggembala itu terhuyung langkahnya
Menahan kayu Salib yang melintang di punggungnya

Menyeret nyeri tanpa henti

Menuju altar di bukit Golgotta

Begitulah pengorbanan dan cinta menuliskan takdirnya

Ruh Kudus dan Sang Penggembala berjumpa di Altar Bencana

Menziarahi Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru
Ada jalan berliku penuh luka di telapak tangan itu

Hanya sayup-sayup suara yang masih tersisa
: “Eli Eli Lama Sabakhtani …”


Gus Nas Jogja, Jum’at Agung 2020

Advertisement
Artikulli paraprakTujuh Kata Menguak Takdir
Artikulli tjetërSi Telur Air Wolffia

Tinggalkan Komentar