Oplus_16908288

Oleh : Ririe Aiko

Pagi itu, di sudut Kota Tua Surabaya, saya duduk merasakan matahari hadir dengan cara yang berbeda, lebih menyengat dari kota Bandung, seolah mengingatkan bahwa tidak semua pagi diciptakan untuk memanjakan.

Bagi saya, Surabaya adalah kota yang tak pernah pandai berbisik, ia selalu berbicara lantang. Kota ini ramai, sibuk, penuh warna, seolah tak memberi jeda bagi siapa pun untuk berhenti. Namun di balik itu semua, tersimpan sejarah yang tumbuh dari keberanian. Kota ini dibentuk oleh keberanian kolektif untuk menolak kembali pada posisi tunduk. Surabaya melawan ketidakadilan, penindasan, dan penyangkalan atas martabat manusia. Ia melawan gagasan bahwa kemerdekaan bisa ditunda, dinegosiasikan, atau dicabut kembali.

Namun tulisan ini bukan tentang Surabaya, melainkan tentang sebuah kisah yang merefleksikan kenyataan bahwa tingginya kesenjangan sosial membuat banyak orang belum sepenuhnya merasakan makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali ke sudut Kota Tua, dari kejauhan tampak seorang kakek berjalan tertatih. Di pundaknya tergantung bungkusan besar berisi tahu goreng khas Surabaya. Langkahnya pelan, seolah setiap meter adalah negosiasi panjang dengan usia. Ia mendekat dan menawarkan dagangannya dengan suara lirih, nyaris tenggelam di tengah riuh kota yang bising.

Pada usia ketika banyak orang memilih duduk santai menikmati secangkir kopi di teras rumah, kakek itu masih harus berjibaku mengumpulkan kepingan rupiah. Bahkan untuk berjalan pun ia tampak kesulitan, sementara di pundaknya tergantung dagangan yang tak ringan. Hati saya terasa perih menyaksikan pemandangan itu. Saya membeli beberapa bungkus tahu, dan dari transaksi sederhana tersebut, percakapan perlahan tumbuh, menjelma menjadi sebuah cerita yang menetap lama di dada.

Seraya menggigit tahu isi yang gurih dan lembut, obrolan yang berawal dari perkenalan sederhana perlahan berubah menjadi kisah hidup seorang kakek bernama Edi.

Sejak usia dua belas tahun, Edi sudah bekerja. Ia pernah menjadi kuli, buruh pabrik, sopir, office boy, hingga tukang angkut sampah. Daftar pekerjaannya panjang, tetapi garis hidupnya lurus: bekerja, bertahan, lalu bekerja kembali. Ia adalah pekerja keras sejak usia sangat muda, dan tetap bekerja hingga memasuki masa senja. Tak ada pekerjaan manis yang cukup duduk di ruang rapat lalu pulang membawa tunjangan puluhan juta. Tidak ada pekerjaan nyaman atau fasilitas istimewa dalam perjalanan hidupnya. Setiap pekerjaan menuntut tenaga penuh, dengan upah yang kerap tidak sebanding.

Apakah kerja keras itu hobinya? Ia tersenyum. Bukan. Ia bekerja karena masih ada istri di rumah yang perlu makan. Lalu kemana anak-anaknya? Ternyata ketiga anaknya semua merantau, hidup serabutan, dan juga jauh dari kata mapan.

Saya menarik napas panjang.

Inilah wajah kemiskinan yang jarang dibicarakan dengan jujur: kemiskinan yang terstruktur. Ia bukan lahir dari kemalasan, melainkan dari sistem yang sempit dan pilihan yang dibatasi sejak awal. Sulitnya mencari pekerjaan membuat kita menormalisasi upah kecil dengan tanggung jawab besar. Kita diajari bersyukur yang penting kerja hingga lupa bertanya: apakah kerja itu cukup untuk hidup layak di negara kita?

UMK kerap diperlakukan seperti angka yang seolah suci, padahal sering kali jauh dari kebutuhan hidup yang nyata. Rakyat kecil harus menerima stigma : syukur dapat kerja daripada tidak sama sekali. Kalimat itu diulang terus-menerus hingga terasa wajar. Hingga suatu hari usia menua, tenaga berkurang, dan kita menyadari bahwa kerja keras yang dibanggakan tak pernah benar-benar menjanjikan kehidupan layak di hari tua. Di satu sisi, masyarakat diajari menormalisasi penghasilan kecil.

Di sisi lain, kita justru diminta memaklumi besarnya gaji dan fasilitas para pejabat, angka yang bagi sebagian orang setara dengan biaya hidup rakyat jelata selama setahun. Beginilah ketidakadilan perlahan dinormalkan. Banyak yang memilih diam, bukan karena setuju, melainkan karena takut: kehilangan pekerjaan dianggap lebih menakutkan daripada menerima kenyataan dimiskinkan dalam jangka panjang.

Cerita kakek itu tidak dramatis. Ia tidak mengeluh. Ia hanya menceritakan hidupnya apa adanya. Dan justru di sanalah letak kepedihannya, karena kisah seperti ini terlalu umum, terlalu dekat, terlalu sering kita temui, namun jarang kita dengar dengan sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, kalimat “uang tidak bisa membeli kebahagiaan” kerap menjadi penghiburan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan. Padahal dalam realitas sehari-hari, ketiadaan uang justru membatasi hampir seluruh akses terhadap kebahagiaan itu sendiri, mulai dari pangan, pendidikan, hingga layanan kesehatan. Bahkan pengakuan sosial pun kerap ditentukan oleh uang, dan itu adalah kenyataan yang sulit disangkal.

Advertisement
Artikulli paraprakSi Telur Air Wolffia
Artikulli tjetërBarzakh itu Indah

Tinggalkan Komentar