Puisi Oka Swastika Mahendra

Dari atap-atap tinggi
kami memandang air
dahulu sungai
kini jalan pulang poranda menelan kenangan

Sumatra basah oleh luka
bukan hujan semata
melainkan taji gergaji
bekerja tanpa rasa

Hutan dibabat semena-mena
nama pembangunan jadi tameng
akar-akar dicabut dari bumi
penyangga hidup dirobohkan pelan-pelan

Kami naik ke atap-atap tinggi
menggendong anak
menyelamatkan sisa beras
dokumen hanyut bersama harapan

Dari atap-atap tinggi
kami melihat truk kayu
melintas di ingatan
meninggalkan tanah telanjang
tak sanggup menahan air

Banjir datang tanpa musyawarah
menggedor pintu rumah kami
menghapus batas sawah dan halaman
meratakan semua dalam derita

Teriakan minta tolong
menggema di antara genteng
namun datang lebih dulu
adalah alasan dan pembelaan

Katanya ini bencana alam
padahal ini keserakahan
alam menagih kembali
apa yang dirampas darinya

Dari atap-atap tinggi
kami belajar satu hal
rakyat selalu paling rendah
saat keputusan dibuat di meja-meja tinggi

Jika hutan terus dijual
suara kami terus dibungkam
maka banjir tak hanya air
ia adalah pesan
bahwa penderitaan
telah disengaja

Pangkalpinang 21 Desember 2025

Advertisement
Artikulli paraprakMenjaga Nilai Nilai Zuriat Palembang Darussalam
Artikulli tjetërCatatan Diskusi Kaleidoskop Media Massa 2025 Negara, Media Massa dan Ancaman Kualitas Manusia

Tinggalkan Komentar