Puisi Kang Iswanto

​Di kedalaman jiwa, ada kawah yang mendidih
Menyaksikan jemari penguasa menjalin memilin dengan tangan korporat keparat

Mereka berdansa di atas meja-meja perundingan
Sambil mengunyah nasib rakyat yang kian sekarat

​Dulu, aku adalah badai di tengah jalanan
Menyalak lantang, menantang tiran yang pongah

Kutumpahkan perih dalam bait-bait sajak perlawanan
Hanya agar luka melihat kebiadabanmu sedikit mereda

​Ingatan tentang aksi heroik 98 masih tersisa
Saat kita berhasil meruntuhkan singgasana kecongkakan

Namun ternyata, kemenangan itu hanyalah jeda
Sebab kini, kejahatanmu tumbuh lebih subur, terencana, dan merata

​Tangan jahatmu menyusup rapi dalam kebijakan dan program
Hadir merata di setiap diktum dan pasal yang engkau buat

Dibawah kendali oligarki korporat dan aparat yang keparat
Tanganmu jauh merengkuh hingga di gubuk reyot rakyat tak berbaju
Mencekik leher dan menghisap darah rakyat secara telanjang

Kebijakan dan programmu melahirkan gemuruh bencana dimana-mana
Banjir, tanah longsor, dan glondongan kayu menggulung menyapu rata rumah-rumah penduduk

Menyisakan lumpur yang menimbun mengubur
Serta jerit tangis dan nyanyian pilu yang engkau abaikan

​Kini aku sampai pada titik paling lelah
Tak tahu lagi kemana arah harus melangkah

Biarlah luka ini kupeluk erat dalam pasrah
Biarlah pahit ini kutelan hingga ke akar yang patah

​Aku kini terbaring lemah di lembah sunyi
Lidahku kelu, ototku layu dimakan waktu

Namun jangan kira aku buta dalam sepi
Mata dan telingaku tetap menelanjangi dan menjadi saksi setiap gerak langkahmu

​Dalam sunyi yang paling purba, hatiku berbisik:
Inilah rupanya puncak kejahatan yang melampaui segala masa

Sebuah kebiadaban yang telanjang, sistemik dan masif
Yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia

Pekan Baru, Senin, 29 Desember 2025

Advertisement
Artikulli paraprakLepaskan Kacamatamu
Artikulli tjetërTahun Baru

Tinggalkan Komentar