Oleh: Indro Suprobo*
Penggunaan uang negara oleh caleg atau legislative untuk bantuan sosial kemasyarakatan yang diklaim sebagai bantuan individu atau sebagai hadiah individu merupakan suatu praktik manipulatif untuk membangun citra diri ilusif sebagai pejabat yang peduli dan memiliki kekuasaan yang utuh, namun sekaligus mencerminkan kerentanan dan krisis legitimasi elektoral dirinya yang dalam psikoanalisis Jacques Lacan disebut sebagai praktik membangun penyangga ilusi keutuhan untuk menutupi realitas fragmentasi diri. Lacan menyebutnya membangun fungsi _orthopaedic_ (menyangga kelurusan atau ketegakan dari realitas yang bengkok).
Praktik demikian ini juga merupakan praktik membangun ilusi kedermawanan atau lebih tepatnya kedermawanan manipulatif yang sebenarnya mencerminkan hasrat untuk diakui oleh yang lain (the Other) yang diwakili oleh (calon) konstituen. Kedermawanan manipulatif dan imajiner ini berasal dari rasa berkekurangan _(lack)_ dalam hal kualitas dan integritas yang harus ditutupi.
Praktik ini juga merupakan upaya menciptakan ilusi demokrasi yang digunakan sebagai metode untuk menutupi realitas demokrasi yang bengkok di mana rakyat hanya menjadi instrumen untuk meraih kursi kekuasaan tanpa kepedulian terhadap kebijakan-kebijakan yang secara substansial menciptakan keadilan.
Apa yang oleh psikoanalisis Jacques Lacan disebut sebagai membangun citra keutuhan yang imajiner atau ilusif untuk menutupi realitas fragmentasi ini, dalam ilmu politik dapat ditemukan contohnya dalam salah satu jenis money politic yang disebut politik gentong babi.
*)Penulis, budayawan Sastra Bulan Purnama, pemikir filsafat. Tinggal di Yogyakarta.










