Oleh : Evi Idawati
Beberapa hari yang lalu, saya menerima tamu seorang anak kecil kelas empat SD yang diantar oleh ibunya, datang ke rumah sastra menemui saya, untuk belajar membaca saritilawah. Dia sedang berencana mengikuti lomba sariilawah yang diselenggarakan oleh dikpora tanggal 23 september kemarin. Saya melihat anaknya tersenyum, cantik dan pembelajar yang baik. Dia menyerahkan pada saya terjemahan surah Al A’raf ayat 56 sampai 58. Saya menerimanya dan meminta dia untuk membacakannya.
Suaranya lantang memecah sore. Tapi yang mengejutkan saya ketika dia mulai membaca di awal yaitu, “aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”, dia berteriak-teriak dengan tangannya menuding-nuding kepada saya, dengan kaki bergerak ke kanan dan kekiri. Bahu dan tangannya tak beraturan menghantam angin ke segala arah. Dan sepanjang pembacaan, ayat pertama sampai yang terakhir, seluruh tubuhnya bergerak, tanpa berhenti sambil pandangan matanya bengis menatap saya. Bahkan saat mengucapkan, Maha benar Allah dengan segala firman-firmanNya, dia nyaris meloncat ke depan saya seperti seorang penjaga gawang yang merayakannya kemenangannya.
Saya menghela nafas dan memanggil dia untuk mendekati saya. Kemudian saya minta dia untuk membaca surat Al A’raf dalam bahasa Arabnya. Dengan kesadaran sendiri, dia duduk di kursi disamping saya, dan mengucapkan, A’uzu billahi minasy-syaitanir-rajim dengan suara yang khusyuk, hikmat dan indah. Dia meneruskan membacanya sampai “Shadaqallahul Adhim”. Bahkan saya melihat sedikit airmata di sudut matanya.
Setelah selesai, saya tanya kepada anak tersebut, mengapa pada saat dia membaca saritilawah (terjemahan), nada suaranya marah, tangan dan tubuhnya bergerak-gerak gak karuan, sementara kalau membaca dalam bahasa Arab dia duduk dengan posisi yang santun, hikmat dan khusyuk? Dia memandang saya sejenak, lalu menjawab, tapi Bu Evi, saya harus begitu, berteriak dan bergerak-gerak agar saya dapat juara. Tentu saja saya terkejut mendengarnya. Dia memperlihatkan pada saya video-video teman-teman dia yang menjadi juara dengan gaya pembacaan yang meledak-ledak seperti yang dia praktekkan tadi. Lalu ibunya meminta kepada saya agar saya mengajari anaknya untuk membaca dengan cara yang “brutal” tersebut.
Saya bertanya pada mereka, siapa yang selama ini menjadi jurinya. Dia menjawab, guru-guru SD yang ditunjuk sebagai penyelenggara acara. Seleksi dilakukan dari kecamatan, kabupaten hingga propinsi. Saya menghela nafas. Lalu saya tanyakan lagi pada mereka, apakah jurinya memberikan alasan mengapa dia memilih gaya pembacaan brutal tersebut sebagai juara. Mereka menjawab katanya labelnya adalah “puitisasi Al-quran” menurut mereka puitisasi Al Quran adalah membaca saritilawah seperti membaca puisi. Akhirnya saya jadi tahu, mengapa mereka datang kepada saya untuk diajari membaca saritilawah.
Tidak perlu waktu yang lama, saya kemudian menjawabnya. Menerangkan kepada mereka perbedaan membaca puisi dan membaca saritilawah. Puisi karya manusia yang mencurahkan perasaan, imajinasi dan pemikiran penyair agar dinikmati oleh pembaca. Dengan menggunakan bahasa sastra yang penuh metafora dan terikat oleh unsur estetika sastra yaitu rima, bait dan baris. Gaya pembacaannyapun sangat bebas, ekspresif, dinamis serta emosi yang ditampilkan bisa sangat meledak-ledak, menghentak atau syahdu tergantung dari tema puisinya.
Sedangkan saritilawah menyampaikan terjemahan atau isi kandungan ayat suci Al-Quran agar mudah dipahami oleh orang lain. Bersifat faktual, informatif dan religius. Gaya membacakannyapun membutuhkan kelembutan, ketenangan, kekhusyukan dan artikulasi kata yang sangat jelas serta intonasi yang terarah tanpa berlebihan. Penghayatan dalam saritilawah berpijak pada kehormatan dan kemuliaan ayat suci Al’Quran, bukan ekspresi emosi bebas seperti dalam puisi.
Sedangkan puitisasi terjemahan Al-Quran adalah pembacaan terjemahan atau kandungan ayat-ayat suci Al-Quran dengan penghayatan seni membaca puisi. Menggabungkan makna keindahan sastra agar lebih mudah dipahami dan menyentuh hati. Dengan pembacaan yang puitis yaitu memiliki irama atau rima yang membuat kalimat enak di dengar dan mampu membangkitkan suasana emosi pendengarnya untuk menyampaikan makna ayat-ayat suci al Quran. Tentu dengan penghayatan dan kekhusyukan bukan dengan ekspresi bebas dan “brutal”.
Setelah penjelasan saya yang panjang, mereka mengiyakan dan bilang, memang seharusnya begitu Bu Evi, tapi para juri selalu memilih cara membaca saritilawah yang berteriak-teriak sambil berekspresi bebas untuk menjadi juaranya. Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.
Saya terdiam beberapa detik. Dalam hati saya terbersit rasa syukur yang luar biasa, karena sejak kecil saya diajarkan betul oleh guru-guru ngaji dan orang tua saya, untuk tetap menjaga kemuliaan dan keagungan ayat-ayat Al Quran meski saya sedang membacakan terjemahannya. Dan saya harus bersikap duduk dengan hikmat dan takdim saat mendengarkan tilawah dan saritiawah dimanapun berada.
Entah apa jadinya gen alpha 10 tahun kedepan, jika karena lomba dengan juri-juri yang tidak bisa membedakan antara membaca puisi dan membaca saritilawah ini, lalu mereka menyakini kebenarannya? Apakah mereka tetap akan bersikap khusyuk dan hikmat saat mereka mendengar terjemahan Al’Quran dibacakan? Atau jangan-jangan mereka malah akan menari berjingkrak kesana kemari, saat orang membacakan tilawah dan saritilawah, seperti yang mereka pahami sekarang ini? Lalu mereka memberitahukan kepada anak-anaknya kelak tentang teknik saritilawah gaya baru, dengan bergaya meledak-ledak dan “brutal”? Dan juri-juri tersebut kebanyakan adalah guru. Apakah mereka tidak bisa memahami, hal yang paling dasar, antara pembacaan puisi sebagai karya manusia, dan pembacaan Al Quran sebagai firman Tuhan?
Jujur saya menangis, melihat semua itu. Ditengah banyaknya kesalehan dipertontonkan oleh sekolah-sekolah agama. Tolong beritahukan kepada anak-anak ini, wahai para guru, para kyai, pihak terkait, departemen agama, dinas pendidikan dan olahraga, yang menyelenggarakan acara tersebut, bahwa mereka harus menjaga “attitude”nya saat membacakan firman Tuhan, meskipun hanya untuk sertifikat lomba. Simpan jingkrak-jingkrak dan ledakannya, gunakan pada saat tampil membaca puisi di panggung teater bukan pada saat membaca saritilawah!
Yogyakarta, 26 September 2026
Advertisement










