
Oleh: Pril Huseno
Permisi, ini kisah seorang yang sudah lebih kurang 3 tahun tidak pernah menulis, mencoba menulis lagi. Aku terakhir menulis sekitar April 2022. Setelah itu, aku stuck, tidak lagi mau menulis. Sebabnya kira-kira, kepala ini rasanya sudah penuh dengan tema-tema berat.
Sekira Awal Januari 2022 aku diminta kerabat kenalanku untuk menulis setiap hari dengan tema berat politik. Panjang tulisan sekira 2500 -3000 karakter huruf. Awalnya, sepertinya ringan saja, tapi lama kelamaan, di otak seperti ada yang menyangkut Ketika hendak menulis. Karena tiap hari menulis soalan lumayan njlimet khususnya perpolitikan dalam negeri. Sejak mulai nyangkut itu, tulisanku terbit mulai tidak konsisten. Kadang dikerjakan per hari, kadang hanya tiga kali seminggu.
Tapi untungnya, aku bisa menyelesaikan sampai dengan April 2023. Sampai tulisan-tulisanku dibukukan dan dishare ke beberapa kalangan.
Setelah itu total aku berhenti menulis. Meskipun hanya tulisan-tulisan ringan.
Kisah orang mandeg menulis, banyak sekali yang seperti kasusku. Teramat banyak. Biasanya alasan yang diajukan adalah bosan, kehabisan ide, pusing, banyak kesibukan dan lain-lain. Tapi ‘’penyakit’’ ogah menulis lagi itu sebetulnya hinggap karena tekad yang luntur sampai titik nol. Dulu, sewaktu mengikuti Pelajaran menulis yang dilatih oleh seorang penulis nasional, bukan aku yang tengah dilatih, tapi anak anak muda. Coach tersebut menyuruh si peserta pelatihan ini menulis selama satu minggu penuh, tulisan-tulisan yang telah ditetapkan temanya, dan harus ditulis setiap hari pada jam yang sama, selama setengah jam selesai!
Dan pada setengah jam berikutnya hasil tulisan sudah harus di WA ke sang coach.
Hal itu, efektif untuk melatih insting konsistensi kita untuk membangun kemauan menulis. Dan yang kutahu, semua ketiga anak muda itu berhasil melaksanakan tugasnya.
Jadi itulah. Kupikir, stimulan untuk mau menulis lagi itu, begitu berharga. Bentuk stimulannya bisa jadi macam-macam. Ada orang yang harus mencari lokasi baru untuk menumpahkan ide-idenya. Ada yang bersumpah akan menulis lagi : paksakan-paksakan..! kayak aku ini. Atau yang sekadar menulis ringan-ringan dulu di ruangan café Bersama teman-teman sambil bercanda. Semua butuh kesesuaian dengan kondisi masing-masing individu.
Yang paling penting Ketika kita menulis adalah : jangan kita menulis mengharapkan kualitas tulisan kita akan seperti tulisan tokoh-tokoh hebat seperti Goenawan Muhammad, Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar. Itu gak akan jalan..!
Karena apa? Kita akan keburu dibebani seperti ditumpuk 3-4 karung beras di Pundak kita. Berat sekali dan konyol.
Jadi, menulislah sesuai apa kata jiwa kita. Menulislah seperti apa keseharian gaya kita dalam berujar dan beropini. Dia, bisa jenaka, bisa bercanda, bisa serius kadang-kadang dan bisa juga melow. Pokoknya, ikuti kata hati. Ikuti bagaimana jiwa kita mau mengungkapkan apa yang harus dituangkan dalam tulisan. Jangan dibebani oleh perasaan ‘’harus hebat nih tulisan gue kayak si GM atau Mochtar Lubis’’. Itu kagak bakal jalan!
Menulislah dengan ringan dan hati senang.
Nah, ini tulisan baruku sudah jadi, persis malam tanggal 24 Januari 2026, aku mulai menulis lagi.
Jadi, permisi ya tuan dan Nyonya, untuk memuat tulisanku ini …
Yogyakarta, 24/01/2026
Telah ditayangkan di Kompasiana.com tgl. 25/01/2026











