
Puisi MN Lapong
Tak ada yang bisa mengerti secara pasti,
bagi setiap orang kapan waktu dan ruang itu menjadi miliknya?
Pertanyaan itu tidak semua orang bisa menjawabnya dengan tepat,
tapi idealnya seharusnya sudah selesai bagi setiap hamba Tuhan yang faham kemana dia harus melangkah dan berakhir,
Bagi seorang Lubis,
hal itu tidak ribet menjawabnya.
Pandepotan Lubis telah mengukirnya dengan bener dan relatif sempurna.
Dia memilih takdirnya seperti yang dikehendaki sang KhaliqNya.
Dia bahagia memilih jalan hidupnya,
dia ngurusi hal yang menjadi musykil bagi banyak orang,
Dan dianggap gila bagi segelintir orang,,
Dia tahu bahwa jalan yang dipilihnya adalah jalan gelap yang harus diberi sumbu untuk dinyalakan,
Dia memilih jalan hidup untuk membangun kehidupan bagi banyak orang,
Bukan memilih memburu kehidupan mengikuti hawa kehidupan bermotif nafsu dunia,,
Dia tahu dalam hati kecilnya pilihan itu akan menjadi duri bagi diri dan keluarganya,
Tapi itulah Lubis,
Dia menikmatinya,
Seperti dia faham lahir dan batin,
Sekerat syair dalam lagu,
“Syukuri apa yang ada” 🎶🎵
Sejak mengenalnya 25 tahun yang lalu,
Saya berpendapat,
“Jenis manusia ini langka…,”
Dia seperti nabi kehidupan,
Menjadi oase bagi teman teman deketnya,
Misalnya seperti si Otto Marasabesy,
Namun kadang tindakannya juga seperti seorang Sufi yang tersesat,
Nah tuh,
aneh kan?
Atau saya sendiri tersesat menafsirkan sosoknya?
Entahlah,
Tapi gaul sama dia asyiik…
Dalam kehidupannya yang keras mendaki,
Dia disukai kawan kawannya,
Dan tak pernah sekalipun dia secara pribadi melukai hati kawan kawannya,
Dia contoh seorang aktivis pejuang profesional,
Tak pernah miring,
jujur dan berani,
Rendah hati bagi semua orang,
Dan tak pernah ingin menonjolkan diri,
Sepertinya dia melihat secara sempurna,
“Bahwa perjuangan itu hanyalah ungkapan pelaksanaan kata kata,”
Tidak lebih dari itu!
Itulah Lubis!
Dia bukan aktivis pejuang yang mencari ongkos kecil apalagi ongkos besar,
Dia memuliakan dengan sungguh sungguh arti perjuangan bagi bangsa ini,
Baginya perjuangan tanpa henti amat penting untuk bangsanya di negeri yang masih brengsek ini,
Dengan cerutu (rokok lintingan),
Itu sudah orgasme hidup yang menemani hari harinya yang mengalir bening penuh energi hidup,
Banyak legacy yang kau ukir untuk bangsa ini dalam diam tanpa berisik,
Tidak banyak orang tahu,
Sebab kau tak pernah ingin menonjol dan tampil,
Kau contoh pejuang sejati,
Lurus, rendah hati dan konsisten.
Jauh dari iri dan dengki,
Dan sempurna tanpa modus,
Kecuali hanya untuk merah-putih,
Selamat jalan kawan,
Aku banyak belajar darimu,
Belajar bahagia dalam hidup tertekan,
Dan belajar sholat khusu’ dan tawaddu’ dari mu,
Kau luar biasa di mataku,
Kau selalu ikut bersamaku dalam berjuang,
Tapi kau adalah lenteraku,
PN, 6 Februari 2026











