
Puisi Oka Swastika Mahendra
1
Di darat aku berdiri tanpa podium
menyebut nama-Mu dengan suara retak
di tanah berdebu dan pasar yang gaduh
Engkau mendengar tanpa perlu isyarat
sebab langkah pun bisa jadi doa
sebab napas pun bisa jadi sujud
sebab bebas adalah cara pertama mencinta
2
Di laut aku hanyut bersama asin
ombak jadi tasbih yang tak putus
perahu kecil tak hafal kitab
tapi takut dan harap berpelukan
Engkau hadir di antara arus
bukan pada sisi mana semata
melainkan pada jujur yang terapung
3
Di udara aku terbang atau jatuh
sayap logam dan doa tipis
ketinggian meluruhkan sombong
tak ada imam selain gentar
Kau tak menimbang ketinggian
hanya ketulusan saat menyerah
di ruang tanpa lantai dan dinding
4
Di gunung aku diam belajar rendah
di lembah aku berteriak minta tolong
gema mengajari arti mendengar
sunyi mengajari arti hadir
Tuhan tak memilih puncak atau dasar
Tuhan memilih hati retak
lalu menambalnya dengan cahaya
5
Di tempat ibadah dan di rumah
di penjara dan di gedung kaca
di hotel dan di lapangan terbuka
di masjid gereja vihara pura klenteng
pintu-pintu berbeda menyebut-Mu
langkah-langkah berbeda menuju-Mu
semua sah selama hati bersih
6
Melarang orang menyembah Tuhan
berarti mengusir cahaya dari dada
musuh Tuhan bukan yang berbeda
melainkan manusia yang mengklaim tunggal
kebenaran mutlak hanya miliknya
lalu menutup telinga dunia
dan menamakan takut sebagai iman
7
Menyembahlah dalam berbagai rumusan
berbagai perilaku menyembah
berbagai aliran yang saling belajar
ritual adalah bahasa yang beragam
Tuhan membaca makna di balik bunyi
Tuhan menerima kemurnian hati
lebih dulu daripada gerak penyembahan
8
Ada yang berdoa dengan kerja jujur
ada yang sujud dalam merawat luka
ada yang memeluk sesama
ada yang berpuasa dari kebencian
Tuhan tak menolak cara-cara itu
sebab kasih adalah ibadah panjang
yang tak butuh panggung dan saksi
9
Di hatimu Aku Tuhanmu mengetuk pelan
bukan untuk menguasai atau mengikat
hanya mengajak bertanggung jawab
atas cinta yang kau pilih dan rawat
bebaskan Tuhan dari penjara tafsir
bebaskan manusia dari saling salah menyalahkan
menyembahlah bebas hari ini
Jogjakarta, 7 Februari 2026
Foto: Brillio.net











