
Oleh: Radhar Tribaskoro
Ada saat-saat ketika politik berhenti menjadi hitung-hitungan kepentingan, lalu berubah menjadi semacam liturgi. Di sana, peta tak lagi sekadar garis. Tanah tak lagi sekadar ruang hidup. Perang tak lagi dibicarakan sebagai kegagalan akal sehat, melainkan sebagai babak yang harus dilalui sejarah agar sebuah nubuat menjadi genap.
Di situlah kita sekarang berdiri, memandang Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Timur Tengah yang tak habis-habisnya menjadi panggung ledakan. Orang akan berkata: ini soal hegemoni, minyak, jalur perdagangan, persaingan regional, industri senjata, atau sisa-sisa perang dingin yang tak pernah benar-benar usai. Semua itu mungkin benar. Tapi setelah hampir 80 tahun konflik tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan mengapa Amerika Serikat mau mengorbankan 4.500 tentara tewas dan 32.000 terluka di kawasan yang penuh sejarah itu. Dalam Perang Iran sekarang ini tidak ada bom nuklir Iran, tidak ada rudal yang bisa menjangkau tanah Amerika Serikat, toh negara adikuasa itu memicu perang dengan menjatuhkan bom yang membunuh Ayatullah Ali Khameini, pemimpin tertinggi Iran.
Maka seperti dinyatakan pada paragraf awal penjelasan ditemukan dari sebuah lapisan lain yang lebih muram, lebih purba, dan justru karena itu lebih sulit dibantah dengan bahasa diplomasi: sebuah keyakinan bahwa kiamat bukan sesuatu yang ditunggu dengan gentar, melainkan sesuatu yang dapat dibantu kedatangannya.
Di Amerika, keyakinan itu punya nama: Zionisme Kristen
Ia bukan sekadar simpati religius kepada bangsa Yahudi. Ia bukan pula sekadar dukungan politis kepada negara Israel. Ia adalah keyakinan bahwa sejarah telah diberi skenario, bahwa nubuatan telah diberi peta, dan bahwa manusia—ya, manusia yang penuh ambisi itu—boleh ikut membantu mempercepat penutupannya. Israel, dalam pandangan ini, bukan sekadar negara. Ia adalah tanda. Ia adalah jam. Ia adalah panggung yang harus disiapkan agar pada suatu hari langit terbuka, trompet berbunyi, dan sejarah berhenti.
Kita mengenal jenis keyakinan seperti ini dalam banyak bentuk. Tapi dalam tradisi politik modern, ia menjadi mengerikan ketika bertemu negara, bertemu senjata, bertemu Presiden yang boleh memerintahkan perang, bertemu Menteri Pertahanan yang tidak sekadar berpikir tentang garis depan dan logistik, tapi juga tentang nubuat, bait suci, dan tanah yang dijanjikan.
Apa yang membuat keyakinan seperti ini berbahaya bukan pertama-tama soal salah atau benarnya dalam pengertian teologi. Yang membuatnya berbahaya adalah saat ia pindah dari ruang doa ke ruang keputusan, dari mimbar ke kabinet, dari tafsir Alkitab ke strategi militer. Pada saat itu, perang tak lagi dinilai dari jumlah mayat, dari anak-anak yang tertimbun beton, dari kota-kota yang menjadi arang. Ia dinilai dari kedekatannya pada “rencana Tuhan”.
Dan jika perang telah masuk ke wilayah itu, apa lagi yang bisa menahannya?
Kita hidup di zaman yang mengaku rasional. Negara-negara memakai istilah “stabilitas”, “deterrence”, “keamanan kolektif”, “hak membela diri”, “ancaman eksistensial”. Bahasa modern selalu pandai menyembunyikan gairah purbanya. Ia memakai setelan jas. Ia berbicara di podium. Ia menyusun dokumen kebijakan. Tetapi adakalanya, di bawah semua itu, berdenyut hasrat tua manusia: menyaksikan akhir, atau bahkan menjadi pelayannya.
Saya kira di sinilah Zionisme Kristen bekerja dengan diam-diam tapi dalam. Ia memberi makna teologis kepada tindakan politik. Ia membuat dukungan kepada Israel tidak lagi sekadar soal sekutu strategis, melainkan soal kewajiban iman. Ia mengubah peta menjadi kitab. Ia mengubah konflik menjadi nubuat yang sedang dibuktikan.
Maka, perdamaian pun menjadi ganjil. Damai tidak selalu dirindukan. Negosiasi bahkan tampak seperti gangguan. Kompromi terasa seperti penundaan atas takdir. Sebab bagi cara pandang seperti ini, sejarah tidak dimaksudkan untuk diperbaiki, melainkan untuk diselesaikan. Dan penyelesaian itu bukanlah koeksistensi, melainkan klimaks.
Betapa mengerikan kata itu: klimaks
Karena di dalamnya perang tidak lagi hadir sebagai dosa kolektif, tetapi sebagai tanda. Setiap ledakan bisa dibaca sebagai isyarat. Setiap perluasan konflik bisa dirayakan sebagai konfirmasi. Setiap kehancuran dapat dijadikan batu loncatan bagi keyakinan yang lebih besar. Manusia mati, kota runtuh, keluarga tercerai-berai—tetapi semua itu dapat diredam dalam satu kalimat dingin: sejarah memang sedang menuju akhirnya.
Padahal sejarah, kita tahu, tak pernah bergerak dengan agung seperti itu bagi mereka yang tubuhnya terbakar. Sejarah tak pernah puitis bagi anak yang kehilangan ibunya. Nubuat tak pernah menghibur bagi orang yang rumahnya jadi debu.
Di sinilah mungkin beda yang paling telanjang antara eskatologi yang dijadikan alat politik dan iman yang menahan diri di hadapan misteri. Dalam Islam, kiamat adalah rahasia Allah. Ia datang tanpa mandat manusia untuk mempercepatnya. Ia bukan proyek. Ia bukan agenda kekuasaan. Ia bukan sesuatu yang boleh dipancing dengan pembantaian. Yang diperintahkan kepada manusia justru sebaliknya: jangan membuat kerusakan di muka bumi. Jangan melampaui batas. Jangan menukar kuasa dengan kezaliman.
Maka ada jurang yang lebar antara menanti akhir dengan takut dan rendah hati, dan menata dunia seolah-olah kita tahu cara memanggilnya.
Saya kira, yang kedua itulah bentuk baru dari kesombongan modern. Ia tampak saleh, tapi sesungguhnya sombong. Ia bicara tentang Tuhan, tapi diam-diam ingin mengambil alih peran-Nya. Ia berkata bahwa sejarah ada dalam genggaman ilahi, namun pada saat yang sama bertindak seolah-olah manusia bisa menata syarat-syarat bagi campur tangan langit. Di situ iman berubah menjadi arogansi.
Dan arogansi itu menjadi fatal ketika ia memiliki senjata nuklir
Kita tidak boleh menganggap ini sekadar metafora. Dalam sistem Amerika Serikat, keputusan penggunaan senjata nuklir pada akhirnya amat terkonsentrasi pada Presiden. Di sinilah kegilaan modern bersembunyi di balik konstitusi dan rantai komando: peradaban manusia yang berusia ribuan tahun bisa berada di tepi kemusnahan karena satu keputusan, satu doktrin, satu ketakutan, satu keyakinan yang merasa dirinya suci.
Lalu kita bertanya: apakah para pembuat keputusan itu sungguh memikirkan dunia sebagai rumah bersama? Ataukah sebagian dari mereka justru melihat dunia sebagai panggung sementara yang boleh rusak, sebab yang penting keselamatan telah dijanjikan di tempat lain?
Jika seseorang percaya bahwa orang-orang beriman akan “diangkat”, diselamatkan dari malapetaka akhir, maka bumi dapat dengan mudah direduksi menjadi ruang transit. Dalam cara pandang seperti ini, kerusakan dunia tidak lagi memunculkan tanggung jawab mutlak. Ia dapat diterima sebagai fase, sebagai ongkos, sebagai langkah yang harus dilalui. Mengerikan, bukan? Tapi ideologi yang merindukan akhir zaman memang hanya bisa bekerja dengan satu cara: mengurangi nilai dunia yang sedang kita diami.
Dan ketika dunia telah dikurangi nilainya, manusia pun ikut susut nilainya
Mereka menjadi angka. Mereka menjadi “collateral damage”. Mereka menjadi statistik yang dibacakan presenter berita dengan nada datar. Kita melihat reruntuhan rumah sakit, sekolah, masjid, gereja, jalan-jalan yang penuh puing, tubuh anak-anak yang bahkan belum sempat belajar kebencian, tetapi semua itu lalu ditutup dengan frase resmi: hak mempertahankan diri, operasi terbatas, sasaran strategis, stabilitas kawasan.
Bahasa memang pandai berbohong. Ia bisa memandikan darah dengan istilah teknis.
Tetapi ada saat ketika bahasa politik tak lagi cukup menjelaskan mengapa kekerasan dipertahankan begitu lama, dibela begitu gigih, dan dibungkus begitu suci. Saat itulah kita perlu menoleh ke ruang yang lebih dalam: ruang keyakinan. Ruang tempat perang bukan lagi sekadar instrumen, tapi panggilan. Ruang tempat kehancuran bukan lagi kegagalan, tapi tanda.
Bisa jadi, tentu saja, Zionisme Kristen bukan satu-satunya sebab. Dunia terlalu rumit untuk ditundukkan oleh satu kata. Ada lobi, ada modal, ada industri persenjataan, ada imperialisme, ada kecemasan strategis Amerika terhadap Iran, ada politik domestik Partai Republik, ada kebutuhan mempertahankan citra sebagai pelindung Israel. Tapi kita juga tahu, kepentingan-kepentingan seperti itu selalu membutuhkan jubah moral. Dan Zionisme Kristen menyediakan jubah itu.
Ia memberi legitimasi bukan hanya kepada dukungan, tetapi kepada dukungan tanpa syarat. Ia memberi aura sakral bukan hanya kepada aliansi, tetapi kepada kebutaan. Ia membuat kritik terhadap Israel mudah dicurigai bukan sebagai perbedaan politik, melainkan sebagai perlawanan terhadap rencana ilahi.
Maka yang lahir bukan sekadar kebijakan luar negeri yang keras, tetapi kebijakan luar negeri yang merasa tak perlu bertobat.
Barangkali itu inti masalahnya. Politik modern biasanya masih bisa dikoreksi karena ia mengaku bersifat duniawi. Ia bisa dipaksa menimbang untung-rugi, dipermalukan oleh statistik korban, dibatasi oleh parlemen, ditegur oleh opini publik. Tapi politik yang telah menyatu dengan eskatologi merasa dirinya bekerja dalam dimensi yang lebih tinggi. Ia tidak mudah malu. Ia tidak gampang berhenti. Sebab baginya, keberatan manusia dapat selalu diperkecil: kalian hanya melihat hari ini, kami melihat ujung sejarah.
Setiap kekuasaan yang merasa dirinya tahu ujung sejarah, pada akhirnya berbahaya
Kita telah melihat itu dalam ideologi sekuler, dalam komunisme dogmatis, dalam fasisme, dalam imperialisme, dan kini dalam agama yang dipersenjatai. Semua bergerak dari satu sumber yang sama: keyakinan bahwa ada tujuan besar yang membuat penderitaan manusia sekarang dapat dibenarkan. Di situ manusia berhenti menjadi tujuan. Ia menjadi alat.
Dan begitu manusia menjadi alat, tak ada lagi batas yang benar-benar kokoh.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan getir: apakah dunia sedang dipimpin oleh orang-orang yang ingin menyelamatkan kehidupan, atau oleh orang-orang yang diam-diam terpesona oleh akhir?
Saya tak tahu jawaban pastinya. Tapi cukup melihat bagaimana perang di Timur Tengah berulang tanpa henti, bagaimana nyawa sipil diperlakukan seperti angka, bagaimana perdamaian selalu terdengar rapuh dan sementara, sementara bahasa nubuat dan tanah terjanji terus hidup dalam imajinasi politik Amerika. Dari sana tampak sesuatu yang muram: mungkin bagi sebagian orang, dunia ini memang tidak dimaksudkan untuk didiami dengan adil, melainkan untuk ditutup dengan megah.
Padahal tak ada yang megah dalam kiamat buatan manusia
Tak ada kemuliaan dalam kota yang hangus.
Tak ada keselamatan dalam anak-anak yang kehilangan masa depan.
Tak ada Tuhan yang patut dipanggil untuk memberkati ambisi manusia yang mabuk kuasa.
Jika benar ada yang sedang merindukan akhir zaman dari dalam pusat-pusat kuasa dunia, maka tugas kita justru sederhana dan berat: menolak menjadikan kehancuran sebagai bahasa iman. Menolak menganggap perang sebagai liturgi. Menolak politik yang merasa dirinya wakil langit, padahal hanya sedang memperluas neraka di bumi.
Sebab ketika mesiu telah diberi makna eskatologis, ledakan tak lagi berhenti sebagai ledakan. Ia berubah menjadi doa yang sesat.
Dan doa yang sesat, bila diucapkan oleh negara adidaya, bisa membunuh seluruh dunia.===
CIMAHI, 6 MARET 2026
Penulis:
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air











