Cerpen Absurd
Gus Nas Jogja



Ruang Sidang Dewan Keamanan PBB yang Berbau Kapur Barus dan Mesiu

Aku duduk di kursi berlapis kulit jaguar imitasi di tengah Ruang Sidang Dewan Keamanan PBB. Ruangan ini tidak berbentuk lingkaran, melainkan berbentuk Uroboros—ular yang menggigit ekornya sendiri—sehingga setiap delegasi dipaksa menatap punggung rekan di depannya, sebuah metafora geometris untuk pengkhianatan yang efisien.

Di sebelah kananku, seorang jenderal bintang lima dari Pentagon sedang sibuk mengunyah baut baja seolah-olah itu adalah kacang goreng. Di sebelah kiriku, seorang pengamat militer senior dari Kremlin sedang mencoba menyalakan cerutu menggunakan laser penunjuk sasaran nuklir.

“Saudara Peramal,”
suara Sekretaris Jenderal bergema, namun mulutnya tidak bergerak. Suaranya keluar dari lubang ventilasi di langit-langit yang dihiasi lukisan mural malaikat yang sedang memegang senapan serbu. “Dunia sedang menderita insomnia akut. Ramalanmu tentang Trump dan Iran telah membuat pasar saham di Neptunus anjlok. Sekarang, katakan pada kami, bagaimana Imperium terbesar ini akan runtuh di tangan sebuah ‘sanksi ekonomi berjalan’?”

Aku memperbaiki letak kacamata Yalku—kacamata yang hanya bisa melihat struktur atom dari kebohongan. Aku tidak membawa bola kristal. Di depanku hanya ada sebuah papan catur raksasa di mana bidak-bidaknya adalah hidup, bernapas, dan sesekali mengeluh tentang gaji mereka.

“Tuan-tuan,” kataku, suaraku terdengar seperti gesekan amplas pada sutra. “Kalian mencari kemenangan dalam tabel Excel dan hulu ledak hipersonik. Kalian menghitung proyektil, sementara aku menghitung Ashabiyah—solidaritas sosial yang membusuk. Kalian melihat teknologi, aku melihat Game Theory yang dimainkan oleh hantu.”

Aku menggerakkan sebuah bidak pion plastik murahan ke tengah papan, menantang benteng emas murni milik delegasi Amerika.

“Lihat ini,“_lanjutku puitis. “Ini adalah perang antara Martil Emas dan Nyamuk Besi. Kalian mengirim Interceptor seharga 100 juta dolar untuk menjatuhkan drone yang dirakit dari mesin cuci bekas dan harapan yang nekat. Secara matematis, ini bukan perang. Ini adalah bunuh diri akuntansi.”

Sang Jenderal Pentagon tersedak baut bajanya. “Kami punya satelit yang bisa membaca merek celana dalam pemimpin lawan dari orbit!” teriaknya.

“Benar,” sahutku tenang. “Tapi kalian tidak bisa membaca mengapa seorang pemuda di gurun berani mati hanya dengan membawa sekantong kurma dan keyakinan bahwa kalian hanyalah simulakra yang haus minyak. Kalian menang dalam rendering video, tapi kalah dalam coding sejarah.”

Tiba-tiba, atap ruang sidang runtuh. Namun bukan beton yang jatuh, melainkan ribuan lembar uang dolar yang berubah menjadi kupu-kupu hitam dan terbang keluar jendela menuju Selat Hormuz.

“Itu adalah modal Muslim,”
kataku sambil menunjuk kupu-kupu tersebut. “Mereka sedang bermigrasi. Jiang Xueqin benar; kalian mengira sanksi adalah pagar kawat berduri. Padahal bagi Iran, sanksi adalah latihan pernapasan dalam air. Saat kalian akhirnya menyelam untuk bertarung, mereka sudah punya insang, sementara kalian masih sibuk menghitung berapa harga oksigen per liter.”

Di sudut ruangan, sosok Ibnu Khaldun muncul. Ia mengenakan jubah sutra abad ke-14 tapi memegang tablet iPad Pro generasi terbaru. Ia mengedipkan mata padaku. “Hukum sejarah itu seperti gravitasi, Anak Muda,” bisiknya, suaranya terdengar seperti pasir yang mengalir di jam pasir. “Imperium jatuh bukan karena serangan luar, tapi karena mereka terlalu berat untuk menopang kesombongan mereka sendiri.”

Absurditas Kekalahan: Catur Tanpa Raja


Aku berdiri dan menumpahkan kopi hitam tanpa gulaku ke atas peta geopolitik dunia yang terbentang di meja. Cairan hitam itu membentuk pola yang menyerupai labirin tanpa jalan keluar.

“Amerika tidak akan kalah oleh ledakan besar,” kataku, membuat seluruh ruangan hening hingga suara detak jantung seekor lalat pun terdengar seperti dentum meriam. “Amerika akan kalah karena Kelelahan Sistemik. Seperti seorang pelari maraton yang memakai baju zirah seberat satu ton. Iran hanya perlu terus berlari, sedikit lebih lambat dari kalian, sampai jantung ekonomi kalian meledak karena mencoba mempertahankan kecepatan yang mustahil.”

Seorang analis dari London berdiri, wajahnya pucat. “Jadi, apa langkah selanjutnya dalam Game Theory ini?”

Aku mengambil bidak Raja milik Amerika, mematahkannya menjadi dua, dan menggunakannya sebagai tusuk gigi.

“Langkah selanjutnya adalah menyadari bahwa di papan catur ini, tidak ada lagi Raja. Yang ada hanyalah pemain yang terlalu lelah untuk memindahkan bidak, dan penonton yang sudah pulang karena bosan melihat drama yang skenarionya ditulis oleh mesin ATM yang rusak.”

Aku melangkah keluar dari Markas PBB. Di luar, langit New York berwarna ungu magnetik. Aku melihat Jiang Xueqin sedang duduk di trotoar, bermain YouTube di ponselnya sambil memakan bakpao.

“Bagaimana sidangnya?” tanyanya tanpa menoleh.

“Absurd,” jawabku. “Mereka masih percaya pada intelijen, padahal sejarah sudah memberikan laporan lengkapnya sejak seribu tahun lalu.”

Kami berjalan menjauh, sementara di belakang kami, gedung PBB mulai terlihat seperti istana pasir yang perlahan-lahan runtuh ditiup angin sepoi-sepoi dari arah Timur.

Sic transit gloria mundi


Demikianlah kemuliaan dunia berlalu

Dunia tidak berakhir dengan dentuman, tapi dengan suara “Saldo Anda Tidak Cukup” di layar mesin perang global.

Medan Perang Tanpa Tanah: Dansa Tank di Atas Kaca


Kami tidak lagi berada di Manhattan. Suasana Ruang Sidang Dewan Keamanan PBB mendadak menguap, digantikan oleh hamparan gurun kaca seluas samudera. Ini bukan pasir yang memanas, melainkan silika yang meleleh akibat suhu tinggi dari ratusan ledakan masa lalu, menciptakan cermin raksasa yang memantulkan langit ungu magnetik.

Di ufuk, aku melihat barisan tank Abrams milik Pentagon. Namun, mereka tidak melaju di atas roda rantai. Mereka mengenakan sepatu ballet baja dan sedang menari pirouette di atas permukaan kaca dengan dentuman musik waltz yang keluar dari laras meriam mereka.

Di seberangnya, laskar Iran muncul. Mereka tidak membawa senjata berat. Mereka menunggangi drone-drone kecil yang telah bermutasi menjadi kupu-kupu mekanis dengan sayap berbahan panel surya. Kupu-kupu ini tidak menembakkan peluru, melainkan menyebarkan serbuk sari berwarna emas yang, saat menyentuh tank-tank Amerika, berubah menjadi karat instan dalam hitungan detik.

“Ini adalah War of Attrition yang sesungguhnya, Jenderal,” kataku, suaraku kini menggema dari setiap retakan kaca di bawah kaki kami. Jenderal Pentagon itu kini sedang mencoba memakan dasinya sendiri, meyakini itu adalah jatah ransum darurat. “Kalian mengirim tank seharga jutaan dolar yang membutuhkan logistik bahan bakar super kompleks, hanya untuk dilumpuhkan oleh ‘cinta’ dari serbuk sari buatan rumahan.”

Tiba-tiba, suasana berubah lagi. Kami berada di dalam sebuah bola kaca raksasa yang melayang di ruang hampa. Di tengahnya, sebuah meja judi kasino muncul. Di satu sisi duduk sosok Ibnu Arabi, sang Syaikh al-Akbar, yang sedang mengocok kartu yang gambarnya terus berubah—kadang kaligrafi Arab, kadang simbol atom. Di sisi lain duduk Nostradamus, mengenakan jubah beludru abad ke-16 namun memakai headset gaming Razer berwarna hijau neon.

“Taruhan Anda, Tuan-tuan?” tanya Ibnu Arabi, suaramu terdengar seperti desis bintang-bintang yang mati. “Apakah Imperium akan jatuh karena nasib yang tertulis, atau karena pilihan yang salah dalam labirin kemungkinan?”

Nostradamus
meletakkan koin emas kuno di atas meja. “Saya bertaruh pada pola yang berulang,” katanya, suaranya terdistorsi oleh mikrofon gaming-nya. “Tapi pola kali ini aneh. Martil Emas sedang memukul dirinya sendiri karena bingung menghadapi Nyamuk Besi yang tidak kasat mata.”

“Pola itu disebut ‘Kebanggaan’,” bisik Ibnu Khaldun yang tiba-tiba muncul di belakang Ibnu Arabi, masih memegang iPad-nya. “Model prediktifku menunjukkan bahwa Jaringan Kepercayaan Ashabiyah Iran telah mencapai level sinkronisasi ‘Sarang Lebah’, sedangkan Jaringan Kekuasaan Amerika sedang mengalami ‘Disintegrasi Partikel’ akibat terlalu banyak mencetak uang palsu.”

Aku kembali ke Ruang Sidang Uroboros. Para delegasi kini sedang sibuk menangkap kupu-kupu dolar yang kembali masuk melalui jendela, namun uang-uang itu kini bertuliskan ayat-ayat dari The Waste Land karya T.S. Eliot dalam bahasa Farsi.

“Lihatlah ke luar,” kataku, menunjuk ke jendela besar yang menampilkan pemandage Selat Hormuz. “Perang sudah selesai, tapi kalian tidak menyadarinya.”

Di Selat Hormuz, armada kelima AS sedang tenggelam. Bukan karena ditembak, melainkan karena lambung kapal mereka berubah menjadi kertas roti dan perlahan-lahan larut dalam air laut yang telah berubah menjadi sirup kurma kental. Dari menara pengawas kapal-kapal yang tenggelam, tentara-tentara Amerika melompat, tapi bukannya tenggelam, mereka malah terapung dan mulai menyanyikan lagu-lagu patah hati dengan harmonika.

Kekalahan Amerika bukan ledakan nuklir. Kekalahan Amerika adalah sebuah Melancholia Global. Sistem mereka terlalu canggih untuk memahami kesederhanaan rasa sakit dan daya tahan. Mereka menghabiskan triliunan dolar untuk membangun benteng digital, namun lupa memperkuat fondasi moral.

Aku melangkah keluar dari Markas PBB untuk terakhir kalinya. Di lobi, aku melihat Jiang Xueqin sedang memberikan kuliah kepada sekumpulan patung perunggu para mantan Sekretaris Jenderal PBB. Patung-patung itu tampak mendengarkan dengan serius.

“Jiang,” panggilku. “Ramalanmu tentang kekalahan sistemik itu terlalu puitis untuk dipahami oleh para jenderal.”

Jiang tersenyum, menyuapkan sisa bakpaonya. “Sejarah adalah puisi yang ditulis oleh pemenang, tapi diedit oleh waktu,” jawabnya filosofis. “Game Theory hanyalah cara kita untuk tidak tertawa terlalu keras saat melihat para penguasa mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku berjalan menuju East River. Air sungainya kini berwarna tinta hitam. Aku melepas kacamata Yalku-ku dan melemparkannya ke sungai. Aku tidak butuh melihat atom kebohongan lagi. Kebohongan itu sudah menjadi atmosfer yang kita hirup.

Di kejauhan, Patung Liberty perlahan-lahan duduk, meletakkan obornya, dan mulai membacakan puisi-puisi Rumi ke arah Samudera Atlantik. Dunia tidak berakhir dengan kehancuran, tapi dengan sebuah tarian absurd yang sangat indah, di mana yang kuat menjadi lemah, dan yang lemah menjadi abadi dalam sunyi.

Seorang delegasi bertanya pada Ibnu Khaldun di iPad-nya, “Kapan Amerika benar-benar runtuh?”

Ibnu Khaldun menjawab, “Saat kau berhenti bertanya ‘kapan’, dan mulai bertanya ‘mengapa kita masih memakai dasi saat dunia sedang terbakar?'”

Aku mengangguk pada bayangan Jiang yang perlahan memudar menjadi partikel cahaya. Aku kembali ke meja sidang yang kini telah berubah menjadi meja perjamuan terakhir, di mana piring-piringnya berisi kepingan microchip dan kelopak bunga mawar yang direbus.

Ketika Arsitektur Makna Runtuh


Para pengamat militer papan atas dunia—dari West Point hingga akademi Sandhurst—kini duduk bersandar, memandangi layar monitor yang hanya menampilkan static noise berwarna kelabu. Mereka tidak lagi mencari koordinat GPS; mereka mencari koordinat jiwa.

“Masalahnya, Tuan-tuan,” kataku, sambil membelah sebuah atom kebohongan dengan pisau mentega, “kalian mendesain perang seperti desain perangkat lunak: ada bug, ada patch, ada pembaruan sistem. Tapi kalian lupa bahwa Iran bermain dengan perangkat keras yang disebut Penderitaan. Dan penderitaan tidak bisa di-hack.”

Ini adalah Melancholia Global. Sebuah kondisi di mana imperium menyadari bahwa meskipun mereka memiliki mata Tuhan (satelit), mereka tidak memiliki tangan Tuhan (keadilan). Mereka bisa menghancurkan sebuah kota dalam hitungan detik, tetapi mereka tidak bisa membangun kembali kepercayaan dalam seribu tahun.

Catur di Tengah Badai Pasir

Tiba-tiba, lantai ruang sidang retak dan dari bawahnya tumbuh pohon-pohon zaitun yang akarnya terbuat dari kabel serat optik. Jiang Xueqin muncul kembali, kali ini ia mengenakan jubah sutra yang ditenun dari grafik harga minyak dunia.

“Perhatikan baik-baik,” Jiang berbisik, suaranya kini disiarkan secara telepati ke seluruh otak penduduk bumi. ”Game Theory mengatakan: jika kau melawan musuh yang tidak takut kehilangan apa pun, sementara kau takut kehilangan segalanya—termasuk harga saham kopimu di pagi hari—maka kau sudah kalah sebelum peluru pertama ditembakkan.”

Ia menunjuk ke arah peta Amerika yang mulai mencair di dinding. “Kekalahan sistemik ini adalah Entropi Strategis. Kalian terlalu besar untuk bergerak, terlalu mahal untuk bertarung, dan terlalu bangga untuk belajar.”

Puisi yang Tak Terbaca

Aku bangkit berdiri. Ruang sidang DK PBB kini benar-benar telah menjadi museum kesunyian. Para pengamat militer itu telah berubah menjadi patung-patung garam, membeku dalam ekspresi kebingungan yang abadi.

Aku mengambil selembar kertas terakhir dari meja Sekretaris Jenderal. Kertas itu kosong, namun jika dilihat di bawah cahaya rembulan yang masuk dari lubang atap, muncul tulisan tangan Jalaluddin Rumi yang bersinggungan dengan coretan Game Theory:

“Di luar gagasan tentang menang dan kalah, ada sebuah lapangan geopolitik. Aku akan menemuimu di sana. Di sana, martil emasmu tidak akan berguna, karena semua orang telah menjadi nyamuk yang meminum cahaya.”

Aku berjalan keluar menuju jalanan New York yang kini ditumbuhi rumput liar dari gurun Persia. Tidak ada lagi bunyi klakson, hanya suara desis drone kupu-kupu yang terbang rendah, membagikan roti dan puisi kepada mereka yang lapar.

Amerika tidak runtuh karena ledakan. Ia runtuh karena ia lupa cara menjadi manusia dan hanya ingat cara menjadi mesin. Dan mesin, secerdas apa pun ia, akan selalu kalah oleh tangan yang gemetar saat memegang doa.

Aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Gedung PBB itu kini tampak seperti sebuah nisan raksasa bagi sebuah era yang terlalu sibuk menghitung harga segalanya, namun tidak tahu nilai dari apa pun.

Idza tamma al-‘aqlu qalla al-kalamu


Apabila akal telah sempurna, maka sedikitlah bicara.

Aku mengambil pena yang terbuat dari tulang belulang satelit yang jatuh, mencelupkannya ke dalam tinta yang terbuat dari air mata para bankir, dan mulai menuliskan bait-bait terakhir di atas hamparan debu yang menutupi meja sidang. Ini bukan lagi laporan geopolitik; ini adalah Requiem bagi Struktur yang Angkuh.

Surat Wasiat Peradaban: Pesan dari Balik Reruntuhan

“Kepada mereka yang lahir setelah algoritma ini mati,” tulisku, sementara di luar jendela, gedung-gedung pencakar langit New York mulai melunak seperti lilin yang ditiup angin gurun.

“Kami pernah membangun menara dari angka-angka. Kami percaya bahwa keamanan bisa dibeli dengan utang, dan kedamaian bisa dipaksakan dengan ancaman. Kami memiliki jenderal yang bisa menghitung kecepatan peluru, namun tidak bisa mengukur kecepatan kerinduan seorang ibu di Teheran atau kesabaran seorang petani di pinggiran Isfahan.”

Dunia yang diramalkan Jiang Xueqin telah tiba. Sebuah dunia di mana Kekuatan Keras atau Hard Power ditekuk oleh Ketangguhan Organik. Amerika, sang raksasa, bukan jatuh karena dipukul, melainkan karena ia terlalu berat untuk kakinya yang kini terbuat dari kertas sanksi dan janji-janji kosong.

Di tengah ruangan, aku melihat bayangan Ibnu Khaldun sedang duduk bersila, berbagi segelas teh dengan Jiang Xueqin. Mereka tidak lagi berdebat. Mereka sedang memperhatikan sebuah jam pasir raksasa di mana pasirnya tidak turun ke bawah, melainkan naik ke atas—melawan gravitasi, melawan logika, melawan waktu.

“Lihat,” bisik Jiang, “kekuatan itu seperti air. Ia selalu mencari tempat yang paling rendah, yang paling jujur. Imperium selalu mencari tempat yang paling tinggi, yang paling sombong. Dan akhirnya, gravitasi sejarah selalu menang.”

Aku melihat ke arah kursi delegasi Amerika. Di sana tidak ada lagi orang, hanya tumpukan koin emas yang perlahan berubah menjadi debu halus. Satu peluru interceptor seharga puluhan juta dolar itu kini hanya menjadi pemberat pintu yang berkarat. Nyamuk-nyamuk besi Iran telah menang, bukan dengan menghancurkan, tapi dengan Menunggu. Mereka menunggu sampai martil emas itu hancur oleh ayunannya sendiri.

Aku melangkah keluar ke beranda Markas PBB. Angin membawa aroma melati dan belerang. Di kejauhan, Patung Liberty tidak lagi memegang obor, melainkan sebuah seruling bambu. Suaranya melengking tinggi, memainkan nada-nada dari Masnavi Rumi, menyapa fajar yang tidak lagi berwarna merah darah, melainkan berwarna emas jernih.

Dunia telah di-reboot. Bukan oleh teknologi, tapi oleh kegagalan teknologi yang paling hakiki.

PUISI TERAKHIR SANG PERAMAL:

Di meja catur yang terbuat dari awan,
Pion-pion lapar menelan benteng yang kesepian.
Dolar-dolar terbang menjadi burung ababil,
Menjatuhkan batu-batu dari langit yang ganjil.

Khaldun tersenyum di balik lipatan angka,
Bahwa kuasa adalah pinjaman, bukan pusaka.
Jiang menuliskan rumus di atas air selat,
Bahwa yang sabar akan mewarisi jagat.

Selamat tinggal pada martil yang patah,
Selamat datang pada jiwa yang tak lagi lelah.
Perang telah usai, bukan dengan dentuman,
Tapi dengan sunyi yang penuh dengan ampunan.

Aku menutup buku wasiat itu. Sosokku perlahan mulai transparan, menyatu dengan udara, menjadi bagian dari ramalan yang sudah basi. Aku bukan lagi Sang Peramal. Aku hanyalah saksi dari sebuah hukum yang tak pernah berubah sejak Adam hingga kiamat:

Bahwa setiap kesombongan memiliki tanggal kadaluwarsa, dan setiap ketulusan memiliki keabadian.

Seorang anak kecil di masa depan menemukan sebuah kepingan emas di reruntuhan New York. Ia bertanya pada ibunya, “Ibu, apa ini?” Ibunya menjawab, “Itu adalah sisa-sisa dari sebuah bangsa yang mengira mereka bisa memenangi sejarah dengan kalkulator, sebelum mereka tahu bahwa sejarah lebih suka menulis dengan pena lapar.”

Advertisement
Artikulli paraprakNostradramus Kekalahan AS

Tinggalkan Komentar