Membangun Generasi, Memperkuat Negara
Ibu Nanik S. Deyang yang saya hormati,
Perkenankan saya menyampaikan ucapan selamat atas kepercayaan yang diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada Ibu untuk memimpin Badan Gizi Nasional (BGN). Amanah ini datang pada saat yang sangat penting karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berkembang menjadi salah satu program strategis terbesar dalam sejarah pembangunan Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya akan menentukan kualitas gizi jutaan anak Indonesia, tetapi juga akan menjadi ukuran kemampuan negara dalam melaksanakan agenda pembangunan yang berskala besar, kompleks, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat.
Dalam berbagai kesempatan Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan negara yang lebih kuat, lebih mampu, dan lebih efektif dalam melayani rakyat. Dalam kerangka itulah MBG sesungguhnya tidak dapat dipahami semata-mata sebagai program bantuan sosial atau program kesehatan masyarakat. MBG adalah bagian dari upaya memperkuat kapasitas negara sekaligus membangun fondasi sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Karena itu, keberhasilan maupun kegagalannya akan memiliki dampak yang jauh melampaui urusan gizi.
Sebagai bagian dari masyarakat yang mengikuti perkembangan program ini dengan penuh harapan, izinkan saya menyampaikan beberapa pemikiran yang kiranya dapat menjadi bahan refleksi dalam menjalankan amanah besar tersebut.
Harapan pertama adalah agar BGN menjadikan integritas sebagai prioritas utama. Program yang mengelola anggaran sangat besar dan menjangkau wilayah yang sangat luas selalu menghadapi risiko penyimpangan. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa banyak program yang pada awalnya dirancang untuk kepentingan rakyat akhirnya kehilangan legitimasi karena korupsi dan kebocoran anggaran. Karena itu BGN perlu membangun sistem pengawasan yang ketat sejak awal, memanfaatkan teknologi digital, memperkuat audit internal, membuka ruang pengawasan publik, serta memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan benar-benar sampai kepada penerima manfaat. Visi Presiden untuk memperkuat kapasitas negara tidak akan pernah tercapai apabila negara masih dibebani oleh praktik korupsi yang menggerogoti kepercayaan masyarakat.
Harapan kedua adalah agar MBG segera ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan rantai pasok pangan nasional. Selama ini diskusi publik lebih banyak berfokus pada distribusi makanan kepada siswa, sementara perhatian terhadap sisi produksi masih relatif terbatas. Padahal kebutuhan pangan jutaan penerima manfaat setiap hari dapat menjadi pasar yang stabil bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, dan usaha kecil di seluruh Indonesia. Jika dirancang secara tepat, MBG dapat menjadi instrumen yang menghubungkan sekolah dengan petani lokal, menghubungkan dapur-dapur penyedia makanan dengan koperasi desa, serta menciptakan kepastian permintaan yang mendorong peningkatan produksi pangan nasional.
Dalam perspektif yang lebih luas, MBG seharusnya menjadi salah satu pilar ketahanan pangan Indonesia. Banyak negara membangun kekuatan sektor pertaniannya melalui kebijakan yang menjamin pasar bagi para produsen. Indonesia memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang sama melalui program ini. Oleh karena itu, keberhasilan MBG tidak semestinya hanya diukur dari jumlah porsi makanan yang disajikan, melainkan juga dari seberapa besar program tersebut mampu memperkuat kapasitas produksi pangan nasional.
Harapan Ketiga adalah agar BGN memberi prioritas sebesar-besarnya kepada sumber pangan lokal. Indonesia memiliki keragaman pangan yang luar biasa, mulai dari sagu, jagung, umbi-umbian, ikan, telur, hingga berbagai komoditas lokal yang selama ini kurang memperoleh perhatian. Pendekatan yang terlalu seragam berisiko mengabaikan kekayaan tersebut dan bahkan dapat meningkatkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah atau impor. Sebaliknya, pemanfaatan sumber daya pangan lokal akan memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan ketahanan sistem pangan nasional.
Harapan keempat adalah agar BGN membangun sistem data pangan dan gizi yang terintegrasi. Program sebesar MBG menghasilkan data dalam jumlah sangat besar mengenai kebutuhan pangan, status gizi, pola distribusi, harga komoditas, hingga kapasitas produksi daerah. Jika dikelola secara profesional, data tersebut dapat menjadi aset strategis negara yang membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih tepat dalam bidang pangan, kesehatan, pendidikan, dan pembangunan daerah. Negara yang kuat pada akhirnya adalah negara yang mampu belajar dari informasi yang dimilikinya sendiri.
Harapan kelima adalah agar MBG dijadikan wahana pemberdayaan ekonomi rakyat. Keterlibatan koperasi, BUMDes, kelompok tani, kelompok nelayan, usaha mikro, dan pelaku ekonomi lokal perlu diperluas sehingga manfaat program tidak berhenti pada penerima makanan saja. Setiap anggaran yang dibelanjakan negara seharusnya menghasilkan dampak berlapis: meningkatkan gizi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, dan mendorong pertumbuhan usaha produktif di daerah.
Harapan keenam adalah agar BGN membangun komunikasi publik yang terbuka dan berbasis fakta. Program sebesar MBG pasti akan menghadapi berbagai kritik, baik yang konstruktif maupun yang bernuansa politis. Cara terbaik menghadapinya bukanlah dengan membangun tembok pertahanan komunikasi, melainkan dengan menunjukkan transparansi, keterbukaan data, serta kesediaan untuk terus melakukan perbaikan. Kepercayaan publik akan tumbuh apabila masyarakat dapat melihat secara jelas bagaimana program dijalankan dan apa hasil yang dicapai.
Ibu Nanik yang saya hormati,
Indonesia memiliki kesempatan langka untuk menjadikan Program Makan Bergizi Gratis sebagai lebih dari sekadar program bantuan sosial. Program ini dapat menjadi instrumen pembangunan manusia, penguatan ekonomi rakyat, pembangunan rantai pasok pangan nasional, sekaligus sarana memperkuat kapasitas negara. Jika berhasil dilaksanakan dengan bersih, efektif, dan berorientasi jangka panjang, MBG akan dikenang sebagai salah satu fondasi penting dalam perjalanan Indonesia menuju bangsa yang sehat, produktif, dan berdaulat.
Sekali lagi saya mengucapkan selamat atas amanah yang diberikan Presiden. Semoga Ibu dan seluruh jajaran Badan Gizi Nasional diberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk menjalankan tugas besar ini demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Hormat saya,
Radhar Tribaskoro
Ketua Kajian Ilmiah Forum Tanah Air (FTA)











