Puisi Akbar AP

Di hari nan fitri, harusnya aku memaafkanmu. Tetapi aku tidak mau. Kau terlalu jahat.
Sudah hatiku kau rusak dengan hari-hari yang kelam.
Harapan yang lama ku rencanakan tak ketinggalan kau buat tenggelam.
Tidak peduli jika nanti kata maaf tidak pernah cukup meredakan dendam dan amarah atas kejahatanmu itu kendatipun sesaat.

Lebaran tidak terasa melebarkan air dalam telaga nuraniku.
Lebaran justru meluberkan salju perasaan dan bongkah berbagai pikiranku.
Mengobarkannya menjadi gejolak api yang siap mengutukmu setiap waktu.
Melahirkan lahar yang siap mengubur angkaramu dalam neraka yang liar meletup.

Air keras saja tega kau siramkan pada insan yang membela kebenaran.
Belum lagi pelajar yang kau bunuh atas dalih tuduhan tidak masuk penalaran.
Belum lagi seleksi bantuan pendidikan yang merendahkan kemanusiaan ketika berada di tahap wawancara mendalam.
Dimana kau berada sewaktu seorang anak rela mati disebabkan tidak sanggup membeli perlengkapan sekolahan?

Hari yang fitri ini, bukan berarti penebusan dosa bagimu!
Tunjangan hari raya tidak pernah mencukupi kebahagiaan mereka sekalipun mengabdi untukmu.
Buruh, pegawai, dan ajudanmu.
Lembur demi keberlangsungan selembar ringkih nyawamu.
Memperbudak diri demi sepotong napas tersengal dalam perut buncitmu.

Reruntuhan Pancasila semakin memilukan dan berdukacita nyata.
Pada hari raya yang sseharusnya terlukis pada sudut-sudut persada kota dan desa.
Sebuah asta cita dan riwayat berpradikta menuju seratus tahun di dua ribu empat puluh lima nanti.
Lahir batin kau gemakan, tidak pernah mampu mengobati nanah luka sejarah anak-anak bangsa kami.

Kesucian Idul Fitri semoga membaptismu.
Menjadi humanis sepanjang sisa waktu.
Hindarkan ilusi gula muara segala semut malapetaka.
Sekalipun sejauh bulan, masa depan menjanjikan masih tersedia.

Bantul, 16 Maret 2026

Advertisement
Artikulli paraprakAir Keras dari Orang Dalam
Artikulli tjetërFormalitas Lebaran

Tinggalkan Komentar